TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #125

124. RUDI PRANATA

Tiga hari sebelum penyerangan.

AKBP Rudi Pranata, mengenakan kemeja batik, duduk di hadapan Gilang dan Rizal. Punggungnya lurus, bahunya kaku. Di meja terhampar peta Jakarta dan Bandung. Kancing di kerah batiknya tak lagi rapi. Jari telunjuknya mengetuk meja tanpa pola.

"Jadi," kata pak Rudi, melipat tangannya. "Kalian yakin akan menyerang ke Bandung?"

Gilang menggeser peta Bandung, fokus pada dua titik. Red Moon dan Black Orchid. "Ini sudah pasti, Pak. Champagne dan Jagermeister akan ada di sana. Ini kesempatan kita untuk melumpuhkan mereka sekaligus."

"Kami hanya butuh clearance, Pak Rudi. Jika ini sukses, kami bisa menjamin Hydra akan lumpuh total. Tapi kami butuh kepastian di belakang." Rizal menambahkan, tanpa mengalihkan pandangan dari peta.

Pak Rudi menarik napas panjang, bahunya turun perlahan.

"Saya ingin mengirimkan tim Reskrim terbaik saya, tapi kalian tahu batasannya." Pak Rudi berdiri, tangannya bertumpu pada pinggir meja. "Saya hanya AKBP Polda Metro Jaya. Bandung adalah yurisdiksi Polda Jawa Barat. Mengirim pasukan berseragam ke sana tanpa koordinasi adalah blunder besar, bahkan bisa dianggap insubordinasi."

Gilang menyipitkan mata. "Jadi, Bapak akan ambil risiko?"

"Saya akan mengambil risiko untuk kalian," balas Rudi. "Tapi saya harus melapor ke Mabes. Saya akan bertemu 'Dia'. Meminta izin operasional, atau setidaknya lampu hijau."

Rizal menatap Gilang sekilas. Sudut bibirnya turun. "Mabes? Pak, target kita ini Jenderal Bintang Satu." sahut Rizal menoleh ke arah Pak Rudi.

"Apa mungkin 'Dia' di Mabes akan ngasih bantuan? Gimana kalo rencana kita justru bocor ke Champagne? Anda tahu, dia punya koneksi di mana-mana," lanjut Rizal.

Pak Rudi merenung, membelai kumisnya yang tipis. "Risiko itu ada. Tapi tanpa restu Mabes, saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian, dan lebih penting, saya tidak bisa menjamin kembalinya identitas Gilang."

"Berikan saya 24 jam," putus Pak Rudi. "Saya akan mencari kepastian, di mana pun saya harus mencarinya."

***

Dua hari sebelum penyerangan.

Pak Rudi duduk di hadapan "Dia", seorang perwira tinggi yang memiliki pengaruh besar di institusi. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara pendingin udara. Pak Rudi melaporkan temuan Hydra, keterlibatan Champagne, dan rencana penyerbuan di Bandung.

"Dia" mendengarkan, wajahnya tidak berubah sejak Rudi mulai bicara, sesekali menyesap kopi.

Setelah Pak Rudi selesai, "Dia" menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut.

"Rudi, kamu harus tahu batas. Tugas saya adalah menjaga stabilitas. Jenderal Surya adalah Jenderal Bintang Satu aktif. Perang faksi di bawah meja sudah lumrah, tapi jika institusi ini secara resmi menembak Jenderal-nya sendiri, itu adalah bunuh diri politik."

"Tapi, Jenderal, dia adalah inti dari Hydra," desak Pak Rudi. "Jika dia dibiarkan, Hydra akan menjadi kanker yang tidak bisa diatasi."

"Saya tidak melarang kamu bergerak, Rudi," ujar "Dia", suaranya datar. "Tapi saya tidak bisa memberikan surat perintah resmi. Tidak ada dukungan Mabes untuk operasi ini. Anggap ini adalah masalah 'orang hilang' di luar yurisdiksi."

"Dia" mencondongkan tubuh ke depan. " Jika kalian gagal, saya tidak mengenal kamu. Saya harap kamu mengerti."

Pak Rudi menelan ludah. Tatapannya tertahan di meja di antara mereka.

"Kalau kalian berhasil, bawa bukti yang tidak bisa dikubur oleh siapa pun," lanjutnya. "Bukan cerita, bukan dugaan. Saya butuh aliran dana, struktur Hydra, dan bukti keterlibatan Surya."

Lihat selengkapnya