TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #126

125. SANYO

Asap tebal mesiu memenuhi udara Ruang VIP, memberikan aroma pahit pada kemewahan yang kini hancur. Mayat Jagermeister tergeletak di samping meja bundar, genangan darahnya memantulkan cahaya merah remang-remang. Champagne yang berlumuran darah ditarik oleh satu-satunya bodyguard yang tersisa, menghilang cepat melalui pintu rahasia di balik rak anggur.

Daeng melihat punggung Champagne menghilang di balik rak anggur. Ia menarik pompa shotgun dengan kasar. Selongsong yang sempat tersangkut akhirnya terpental ke lantai.

Ucup muncul dari balik meja, pistolnya terangkat. Moncongnya mengarah ke Daeng.

Daeng bereaksi lebih dulu.

BLAAR!

Peluru shotgun menghantam dada Ucup. Tubuhnya terlempar ke belakang meja. Kemeja putihnya basah oleh darah.

"Cup!" teriak Sanyo.

Daeng kembali memompa shotgun, magazinnya sudah kosong. Ia melemparkan senjata itu ke lantai, lalu berlari menerobos rak anggur yang belum sepenuhnya tertutup.

"Sialan!" raungnya sebelum menghilang ke dalam lorong.

Ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan suara musik house yang samar-samar dari lantai bawah. Pisco meringkuk di balik sofa besar, pistolnya teracung.

Gilang mengangkat pistol, menyapu setiap sudut ruangan. Efek painkiller masih menahan rasa sakit di perutnya. Keringat dingin muncul di garis rambut di balik penutup wajah.

Jejak darah Champagne membentuk garis tidak beraturan menuju rak anggur. Di balik sofa, terdengar gesekan sepatu yang segera berhenti ketika Gilang mengarahkan pistol ke sana.

"Pisco masih di sini," bisiknya.

"Gue tahu," jawab Alee.

Dari lorong rahasia terdengar suara langkah menjauh. Daeng sudah lebih dulu mengejar.

Gilang menatap Alee. "Lo pegang ruangan ini."

Alee menatap meja tempat Sanyo bersembunyi. "Lo kejar Champagne. Daeng udah masuk ke jalurnya." Rahang Alee mengeras. "Gue tahan Pisco dan Sanyo."

"Jangan biarin emosi bikin lo lupa siapa aja yang masih punya pistol."

Alee mengangguk.

Gilang menatapnya beberapa detik. "Jangan lupa ucapan lo."

Alee mengangguk. "Nggak ada keputusan sendiri."

Gilang bergerak menuju rak anggur. Begitu tubuhnya membungkuk memasuki lorong, tekanan tumpul di balik perban berubah menjadi denyutan panas. Ia menggertakkan gigi dan terus berjalan.

Alee berdiri tegak di tengah ruangan, matanya hanya terpaku pada meja tempat Sanyo bersembunyi. Pisco masih meringkuk tak terlihat.

Sanyo, perlahan bangkit. Ia melihat Alee yang wajahnya ditutupi penutup.

"Gue tahu lo bakal datang, Lee," ujar Sanyo pelan. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai. "Lo mau tau soal Chacha? Gue... kita bisa bicara."

"Turunin belati lo," kata Sanyo. "Pisco masih di ruangan."

Lihat selengkapnya