Malam penyerangan rumah aman Jagarkasa (beberapa minggu lalu).
Sanyo berdiri di samping SUV hitamnya yang terparkir di depan rumah aman, rokok di antara jemarinya. Ia mendengar suara tembakan yang sudah berhenti. Malam itu dingin. Asap rokok keluar lebih cepat dari biasanya, lenyap sebelum sempat mengendap.
Suara tembakan sudah lama berhenti. Yang tersisa hanya dengung di telinga.
Ia mematikan rokok di sol sepatunya, menarik pistol dari balik jaket, dan mulai berjalan menuju rumah aman yang kini porak-poranda. Asap tipis mengepul dari puing-puing, berbau mesiu dan darah kering.
Sanyo bergerak perlahan, matanya menelusuri setiap bayangan. Ia mendengar suara samar di belakang tumpukan karung goni yang digunakan untuk menahan peluru.
Sanyo menyelinap, ia melihat Robi, dengan wajah tegang, memegang pistol ke arah Chacha yang berdiri di sisi berlawanan. Di belakang Robi, dua anak buah Champagne berdiri siaga.
Sanyo berhenti, mendegar percakapan dari balik tembok.
"...Gue tau gue nggak akan bisa bikin lo pindah sisi, Cha," suara Robi terdengar berat. "Dendam lo terlalu besar, bahkan buat gadis kecil kaya lo. Tapi, gue pastiin satu hal. Jendral itu nggak akan nyiksa lo seperti dia nyiksa Aurell. Gue akan bebasin diri lo dari api dendam itu."
Rahang Sanyo mengeras. Jemarinya mencengkeram pistol lebih dalam.
DOR!
Letusan pendek memotong pembicaraan Robi. Tubuh di belakang Robi jatuh.
Tubuh Chacha terhuyung ke belakang, menghilang di balik tumpukan karung, mengira dirinya menerima tembakan dari Robi.
Robi tersentak, berbalik dengan cepat, pistol di tangan. Pupil matanya melebar melihat Sanyo berdiri, asap tipis keluar dari moncong pistol Sanyo.
"Jangan gerak, Bi," perintah Sanyo, pistolnya diarahkan lurus ke dahi Robi.
"Maksud lo apa, Nyo?"
"Lo bangsat! pengkhianat!" desis Sanyo. "Renggo percaya sama lo buat bales dendam ke Krugger, dan ini balasan lo. Nembak gadis nggak berdaya atas nama belas kasihan?"
"Ayolah, Nyo. dendam itu cuma akan menggerogoti kita," Robi mencoba bernegosiasi. "Apa yang gue lakuin ke Chacha, supaya dia nggak jadi kaya Aurell yang penuh dendam."
Sanyo memejamkan mata sesaat.
"Jangan sebut nama Aurell, bangsat!" teriak Sanyo, "Dia mati bukan karena dendam, dia mati buat jagain keluarganya. Dan lo. Lo akan mati disini."
DOR!
Tubuh Robi tergeletak di samping karung. Darahnya merembes ke tanah.
Sanyo menghampiri Chacha, yang bersembunyi di balik karung.
"Cha. Ini Sanyo," bisik Sanyo, memastikan nada suaranya lembut. "Lo nggak apa-apa, kan?"
Chacha gemetar, melihat mayat Robi dan dua anak buah Champagne. "Kenapa... kenapa?"
"Karena Robi pengkhianat," jawab Sanyo. "Gue nggak akan biarin lo mati di tangan mereka. Lo harus ikut. Gue akan lindungi lo sampai Gilang menang. Sampai kondisi aman buat lo."
Chacha tidak menyambut uluran tanga Sanyo. Tangannya meraba pisau yang terjatuh di dekat kakinya. "Gue nggak percaya sama lo."
"Bagus," jawab Sanyo. "Jangan percaya siapa pun malam ini."
Suara kendaraan terdengar dari kejauhan. Cahaya lampu menyapu pepohonan di luar pagar sebelum kembali menghilang.
"Orang Champagne bakal datang buat bersihin tempat ini," lanjut Sanyo. "Kalau lo tetap di sini, mereka akan pastiin ada mayat lo di antara puing-puing."
"Kenapa gue harus ikut?"
"Karena gue baru bunuh orang Champagne buat nyelametin lo." Sanyo menurunkan pistolnya. "Setelah kita keluar, lo bebas nempelin pisau itu ke leher gue sepanjang perjalanan."
Chacha menatap wajah Sanyo beberapa detik. Ia perlahan berdiri, sambil tetap menggenggam pisaunya.
Sanyo menarik Chacha menuju mobil.
Sopir yang dititipkan Champagne berdiri di samping mobil. Tatapannya berpindah dari Chacha ke rumah yang dipenuhi mayat. "Dia masih hidup?"
Sanyo membuka pintu belakang untuk Chacha. "Iya."
Sopir itu meraih radio di pinggangnya. Sanyo menembak sebelum panggilannya tersambung.