Sirene yang memekakkan telinga memotong dentuman musik yang sunyi. Langit malam di atas Club Black Orchid terasa berat. Lampu sorot memantul rendah di awan, tidak pernah benar-benar menembus gelap.
Lantai dansa hancur total. Darah dan pecahan kaca berserakan di atas karpet basah, memantulkan cahaya biru lampu polisi yang mulai mengamankan perimeter luar. Polisi berseragam bergerak lambat sesuai instruksi.
Rizal berdiri tidak jauh dari club Black Orchid. Wajahnya dipenuhi jelaga, keringat, dan kelelahan.
Pintu gudang bawah tanah dibuka dari luar setelah sebagian orang Jagermeister ditarik menuju lantai depan. Ilham keluar sambil menopang Aura. Darah memenuhi pakaiannya.
Aban berdiri di dekat ambulans, satu tangannya menekan luka di sisi tubuh. Ia menghitung anggota Red Viper yang masih bisa bergerak, lalu memisahkan mereka dari yang perlu mendapatkan perawatan.
Di seberang jalan, beberapa anggota Kelabang Hitam sudah melepas penanda kelompok mereka dan membaur di antara warga yang dievakuasi. Mereka bergerak sebelum polisi menutup seluruh akses.
Aura yang terluka dan mengalami syok sudah dibawa ambulans, kini berada di bawah pengawasan ketat tim medis dan anggota Red Viper yang tersisa.
Rizal menerima laporan darurat dari radio komunikasi Red Viper. Suara operatornya terdengar tegang.
"Champagne berhasil melarikan diri. Target dialihkan ke Markas Jagermeister. Gilang sendirian mengejar, dibayangi oleh Daeng."
Rizal mengangguk cepat, tangannya mencengkeram radio. "Kepala Hydra lain? Cari tahu keberadaan Pisco. Dia pasti ada di sekitar Champagne. Update setiap lima menit. Jangan lengah. Kita nggak boleh buat kesalahan lagi."
Ilham berdiri menjauh dari ambulans, ponsel menempel di telinga. "Sebarkan sebagai perang antarkelompok lokal. Korbannya anggota geng dan pengawal pribadi. Jangan sebut Hydra, jangan sebut Tim Hantu."
Ia menutup panggilan setelah kontaknya mengonfirmasi berita pertama akan naik sebelum polisi merilis pernyataan resmi.
Radio di dada Rizal berdesis, suara Arya menyusul kemudian. "Champagne berhasil melarikan diri. Target masuk jalur utara. Alpha mengejar. Daeng di antara mereka."
Aban datang dari arah ambulans. Darah mengering di sisi bajunya. "Aura aman. Ilham tetap sama dia."
"Orang kita?" tanya Rizal.
"Yang masih bisa bergerak gue kumpulin. Kelabang nunggu keputusan."
Rizal melihat Black Orchid yang mulai dikepung polisi. "Kita nggak punya waktu bersihin semuanya."
"Nggak perlu," jawab Aban. "Jey udah mati. Sisanya cuma orang-orang yang belum tahu siapa yang harus mereka ikuti."
Rizal mengangguk.
"Semua unit Red Viper. yang masih utuh, tinggalin Black Orchid. Sisain beberapa anggota untuk ngamanin Aura di rumah sakit. Kita menuju Markas Jagermeister. Sekarang!" Perintah Rizal.
Mereka meninggalkan Black Orchid, menyisakan bau mesiu dan lampu biru yang terus berkedip tanpa penonton.
***