TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #129

128. MARKAS TERAKHIR

Decit ban mobil Gilang berhenti di dekat Markas Jey, gudang logistik yang gelap. Mobil Champagne sudah terparkir di dalam perimeter. Gilang mengamati pergerakan: ada sekitar 10-15 loyalis Jagermeister bersenjata yang berjaga, bergerak di antara peti kemas dan bayangan. Meskipun jumlahnya kecil, mereka diposisikan untuk bertahan.

Gilang menghitung jarak, sudut tembak, dan jumlah bayangan yang bergerak. Ia memutar mobil, mundur ke titik kumpul yang aman di luar jangkauan pandang musuh, dan segera menghubungi Rizal.

Pisco dan Unit Barong tiba dan memasuki gudang. Champagne berdiri terpincang, satu tangan menekan bahu berdarah, seragamnya kusut dan basah.

"Kau datang terlambat, Pisco," desis Champagne, penuh curiga. "Aku hampir mati di tangan pengkhianat itu."

"Saya melindungi aset berharga, Jenderal," jawab Pisco, wajahnya tegang. "Unit Barong sudah saya kerahkan. Mereka akan mengamankan perimeter. Gilang dan Rizal akan segera tiba, dan mereka tidak akan bisa menembus benteng ini."

Pisco berbalik sebelum kalimat Champagne selesai. Ia memerintahkan Unit Barong untuk memperkuat pertahanan di titik-titik vital, meningkatkan kekuatan di gudang.

Champagne menunjuk dua anggota Unit Barong yang berdiri di dekat pintu. "Kalian berdua, tutup akses timur."

Kedua pria itu tidak langsung bergerak. Tatapan mereka beralih kepada Pisco.

Pisco mengangguk kecil.

Setelah itu mereka menjalankan perintah.

Champagne memperhatikan mereka pergi. "Mereka datang untuk melindungi saya atau menunggu perintahmu?"

"Unit Barong bergerak berdasarkan rantai komando saya," jawab Pisco. "Itu sebabnya mereka masih hidup ketika pasukan Jey mulai berjatuhan."

"Saya masih kepala Hydra."

"Dan malam ini saya satu-satunya kepala yang datang membawa pasukan."

Tatapan mereka bertahan beberapa detik.

***

Rizal, Alee, Ilham, Aban, dan Pak Rudi menyusul Gilang. Udara dipenuhi ketegangan.

"Markas Jey sudah diperkuat," lapor Gilang. "Bukan cuma loyalis Jey, tapi Pisco baru aja dateng dengan Unit Barong. Pertahanan mereka naik tiga kali lipat."

"Pisco ya," geram Rizal

"Daeng gimana?" tanya Alee.

Gilang menggeleng. "Daeng ngilang dari pantauan. Dia nggak ke Markas Jey. Itu ancaman terbesar kita."

"Daeng nggak bodoh dia pasti lagi nyiapin pengepungan yang lebih besar. Kita harus bergerak cepat sebelum pasukan Daeng dateng," Gilang menekan magazine ke senapannya.

Keheningan singkat jatuh di antara mereka.

Gilang menatap peta kasar di lantai gudang, garis-garis rute yang saling bersilangan seperti simpul yang siap ditarik. Waktu tidak berpihak pada siapa pun di ruangan itu. Setiap detik yang lewat memberi ruang bagi sesuatu yang tidak mereka lihat.

"Lang, lo sama gue, Tim Penetrasi. Kita harus nembus cepat. Tujuannya cuma satu. Champagne." Rizal membagi tugas

"Sesuai laporan Gilang," lanjut Rizal, "Pertahanan di luar diperkuat Unit Barong. Tapi, Champagne paranoid, dia pasti milih memperketat penjagaan di dalam daripada di luar."

"Aban, Ilham, Alee, dan sisa Red Viper. kalian Tim Support. Lindungi kami saat penetrasi. Bersihin perimeter luar dari Unit Barong dan loyalis Jey." Rizal menarik kokang senjata sebentar.

Klik

Suara logam pendek terdengar memantul di dalam gudang.

"Ingat, jangan biarin mereka mengepung kami di dalam."

Red Viper yang dipimpin Aban bersemangat memburu Hydra. Kelabang Hitam, tanpa ketua resmi setelah Sanyo dan Ucup tewas, hanya tersisa beberapa orang. Mereka tertawa terlalu keras saat mengisi magasin.

"Pak Rudi," kata Rizal, menatap kepala Tim Shadow. "Anda dan tim tetap di luar. Kalau ada pelibatan resmi atau clean up, Anda yang masuk. Jangan libatkan diri dalam baku tembak."

Rizal menoleh ke sisa anggota Kelabang Hitam. "Kalian pegang jalur selatan dan akses belakang. Jangan masuk sebelum ada perintah."

Salah seorang dari mereka mengangkat senapan. "Kalau ada kendaraan keluar?"

"Tahan."

"Kalau mereka nembak?"

"Pastikan nggak ada yang keluar dua kali," sela Aban.

Kelabang Hitam mulai bergerak meninggalkan titik kumpul, menyebar menuju sisi lain gudang.

Alee mengambil ponsel Sanyo dari dalam jaketnya, lalu menyerahkannya kepada Rizal. "Sanyo bilang Chacha masih hidup."

Gerakan di sekitar mereka berhenti sesaat.

Gilang menoleh cepat. "Apa?"

"Dia bawa Chacha keluar dari Jagakarsa." Alee menatap ponsel di tangan Rizal. "Lokasi safehouse dan semua jalurnya mungkin ada di situ."

"Kenapa baru bilang sekarang?" Rizal menyerahkan ponsel Sanyo ke Pak Rudi.

Lihat selengkapnya