TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #130

129. BUKAN AKHIR

Di kegelapan dini hari, Chacha masih membuntuti Daeng. Ia bersembunyi di balik semak-semak. Siluet Loyalis Krugger bersenjata lengkap menyebar ke posisi penyergapan di sekitar Markas Jey.

Udara dingin menusuk kulitnya. Chacha menahan napas saat melihat jumlah senjata, formasi mereka, cara mereka menyebar tanpa suara.

Radio di tangan Daeng berdesis. "Daeng, saya sudah masuk dari jalur servis timur."

Daeng mengawasi Markas Jey dari balik pagar. "Lapor."

"Dua orang keluar dari jalur tengah. Mereka ngangkut satu orang."

Daeng mengangkat radio lebih dekat. "Siapa?"

Suara tembakan terdengar dari seberang, memaksa loyalis itu berhenti bicara beberapa detik. "Satu pegang bahunya, satu lagi angkat kakinya. Tubuhnya nggak bergerak."

"Gue tanya siapa!"

"Balaclava-nya sudah dilepas."

Daeng terdiam.

Di dalam gudang, dua anggota Red Viper berlari membungkuk di antara peti kemas. Wajah Alee terbuka, kepalanya terkulai di lengan salah seorang dari mereka. Darah menetes dari sisi rompinya, meninggalkan garis panjang di lantai beton.

Suara loyalis itu kembali masuk melalui radio. "Itu Alee."

Tangan Daeng mengeras di sekitar HT. "Pastikan."

"Saya lihat mukanya." Napas orang itu terdengar berat. "Dia sudah nggak bernapas."

Daeng tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada bangunan gudang.

"Alee..."

"Perintah selanjutnya?"

Daeng mengangkat radio ke mulutnya. "Batalkan clean up."

"Daeng?"

"Semua unit serbu." Suaranya meninggi. "Kita masuk sekarang!"

***

Gilang dan Rizal yang terpisah di tengah gudang, terus mendesak masuk, menghadapi rentetan tembakan dari Unit Barong dan loyalis Jagermeister.

Suara tembakan lain yang lebih terorganisir meledak dari perimeter. Dua kelompok loyalis Krugger menekan pintu timur dan barat secara bersamaan. Kelompok ketiga memotong jalur kendaraan di belakang gudang. Tembakan mereka datang dari sisi yang tidak dijaga Unit Barong.

Unit Barong terjebak di antara dua arah serangan. Daeng melewati pagar servis yang sudah dijebol. Ia tidak menunggu perimeter benar-benar aman. Pistolnya meletus setiap kali satu tubuh muncul di antara peti kemas.

"Buka jalan!" teriak Daeng. "Gue mau Champagne hidup sampai gue yang ketemu dia!"

Pasukannya tetap bergerak dalam formasi.

Daeng menembak membabi buta ke arah Unit Barong yang mencoba menghalanginya. Darah memercik ke peti kemas, ke dinding gudang. Ia menerobos tiga lapis pertahanan Unit Barong dalam waktu singkat, menggunakan tubuh mereka yang mati sebagai perisai saat ia bergerak menuju area inti.

Bodyguard terakhir Champagne berdiri di depan atasannya. Ia mengangkat pistol, dua loyalis Krugger sudah masuk dari sisi ruang penyimpanan.

Tembakan pertama menghantam bahunya. Tembakan kedua masuk ke dada. Tubuhnya jatuh di antara Daeng dan Champagne.

Champagne mundur, punggungnya menyentuh tumpukan peti amunisi. Tangannya yang berdarah mencoba meraih pistol di lantai, ujung sepatu Daeng lebih dulu menggesernya menjauh.

Daeng mengangkat pistol.

"Daeng! Lo! Lo belum mati? Dasar tikus!" desis Champagne melihat kedatangan Daeng, tangannya gemetar.

Daeng berjalan mendekat, pistolnya terarah, bayangan pistolnya menutupi wajah Champagne.

"Tikus ini punya ingatan yang bagus, Jenderal. Gue datang bukan cuma buat bunuh lo. Tapi buat ngambil lagi apa yang udah lo rebut."

Champagne tertawa. "Banyak hal yang gue rebut dari orang lain Daeng. "Abang lo cuma punya nama. Gue yang bikin orang takut mendengar nama Krugger."

"Hormat sama takut itu beda."

"Di dunia kita nggak ada bedanya."

"Makanya lo nggak pernah jadi Krugger."

Senyum Champagne menghilang. "Gue yang bangun semuanya. Jaringan, uang, kekuasaan. Tanpa gue, nama abang lo udah terkubur bersama mayatnya."

"Lebih baik terkubur daripada hidup di tubuh lo."

Champagne mencoba meraih pistol lain dari balik jasnya.

Lihat selengkapnya