Tembakan terakhir sudah berhenti ketika Gilang membawa Chacha keluar dari gudang.
Udara malam terasa lebih dingin di luar. Asap masih keluar dari pintu dan beberapa lubang pada dinding seng. Anggota Red Viper yang tersisa bergerak membawa korban menuju area terbuka sebelum polisi menutup seluruh perimeter.
Dua orang keluar dari pintu gudang sambil mengangkat satu tubuh menggunakan terpal.
Langkah Chacha berhenti. Ia menatap kepala Alee terkulai ke samping, wajahnya pucat, garis darah mengering dari sudut bibir menuju rahang. Satu lengannya jatuh dari atas terpal, bergoyang mengikuti langkah orang-orang yang membawanya.
"Alee?"
Kedua anggota Red Viper berhenti.
Chacha melepaskan tangannya dari Gilang, berjalan mendekat. Langkahnya melambat ketika jarak di antara mereka semakin pendek.
Ia berlutut di samping tubuh Alee. Tangannya terangkat ke wajah Alee, berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuhnya. Jemarinya bergetar.
"Gue hidup, Lee" bisik Chacha.
Tidak ada gerakan dari tubuh Alee.
"Lo denger, kan?" Suara Chacha mengecil. "Gue hidup, Lee."
Chacha menyentuh pipi Alee. Dingin.
Gilang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Chacha menunduk. Bahunya naik, lalu tertahan. Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke Gilang. "Sanyo?"
Gilang tidak langsung menjawab.
"Kak, Sanyo mana?"
"Dia nggak keluar dari Red Moon."
Pupil mata Chacha membesar.
"Sebelum mati, dia nyelametin Alee dari tembakan Pisco," lanjut Gilang. "Dia juga yang kasih tahu kalau kamu masih hidup."
Chacha melihat kembali tubuh Alee.
Suara sirene semakin dekat.
Pak Rudi datang dari arah jalan, diikuti Ilham dan anggota Tim Shadow. "Kalian harus pergi sekarang," katanya. "Unit resmi sudah masuk. Begitu perimeter ditutup, saya nggak bisa mengeluarkan kalian tanpa nama."
Gilang mendekat, meletakkan satu tangan di bahu Chacha.
Chacha masih menatap Alee. "Pak..." katanya tanpa berbalik. "Jangan biarin dia dicatat sebagai penjahat."
Pak Rudi menatap punggung Chacha.
"Alee, Sanyo, semuanya."
"Saya akan bawa nama mereka," jawab Pak Rudi. "Tapi sekarang kalian pergi."
Chacha menarik tangannya dari wajah Alee. Ia berdiri perlahan, lalu mengikuti Gilang menuju kendaraan evakuasi.
Dua anggota Red Viper kembali mengangkat terpal. Tubuh Alee dibawa menuju ambulans terakhir.
Lampu sorot mobil polisi, forensik, dan ambulans membelah kegelapan. Garis polisi membentuk kotak-kotak rapi. Tidak ada lagi suara tembakan, hanya langkah sepatu dan dengung genset lampu sorot.
Gilang, Chacha, Rizal, dan seluruh anggota yang terlibat aksi menghilang dari TKP. Hanya Pak Rudi, Ilham dan Tim Shadow, memimpin pembersihan awal, memastikan mayat Champagne, Daeng, Pisco, dan Alee dikelola.
Tak lama kemudian, mobil dinas mewah tiba. Kepala Polda Jawa Barat, Jenderal Slamet Fitrawan, turun dari mobil. Ia berhenti sejenak sebelum melangkah, menatap gudang yang berlubang peluru dari ujung ke ujung.
Pak Rudi segera mendekat, seragamnya kotor oleh debu dan keringat.
"Lapor Jenderal, situasi sudah terkendali," ujar Pak Rudi mengangkat telapak tangannya ke pelipis.
Jenderal Fitrawan mengamati gudang yang dipenuhi lubang peluru. "Ini bukan lagi operasi pembersihan, Rudi. Ini pembantaian! Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Anda AKBP dari Polda Jakarta?"
"Benar, Jenderal," balas Pak Rudi. "Penyelidikan Hydra sudah saya laporkan ke Mabes sebelum operasi ini berlangsung. Tidak ada surat perintah lintas wilayah, tapi ancamannya sudah diketahui."
Fitrawan menatapnya tajam. "Diketahui bukan berarti diizinkan."
"Benar." Pak Rudi mempertahankan tatapannya. "Karena itu tanggung jawab operasi lapangan ada pada saya."
"Saya sudah dihubungi dari Mabes. 'Dia' menanyakan update Jenderal bintang satu di sini. Mana Champagne?"
"Champagne gugur. Dia adalah otak di balik jaringan Hydra." Pak Rudi menunjuk ke arah mayat Champgane yang ditutupi terpal.
"Berapa banyak orang Anda yang menembak di dalam?" tanya Fitrawan.
"Jumlah personel dan kronologi lengkap akan saya serahkan langsung kepada Mabes."