TRILOGY SATU TITIK

Arata Kaivan
Chapter #132

131. BUKAN EPILOG

Aula Mabes terasa dingin meskipun diisi ratusan orang. Langit-langit tinggi menjulap, lampu kristal memantulkan cahaya putih ke seragam-seragam gelap yang berjejer rapi. Sepatu-sepatu mengilap menekan lantai marmer yang memantulkan bayangan samar wajah-wajah tegang.

Di barisan depan, kursi-kursi kayu gelap ditempati oleh keluarga yang berpakaian hitam. Beberapa menggenggam tisu, beberapa menggenggam tangan satu sama lain, beberapa hanya duduk diam dengan mata lurus ke depan. Di belakang mereka, jajaran perwira tinggi dengan bintang di pundak. Di sudut ruangan, kamera televisi berdiri pada tripod, lensanya mengarah ke podium, lampu merah kecil menyala tanpa suara.

Di atas podium, seorang pejabat tinggi berdiri di balik mimbar. Bintang empat di pundaknya. Rambutnya putih di pelipis, disisir rapi ke belakang. Ia menekan kedua telapak tangan ke permukaan kayu mimbar, jari-jarinya terbuka. Matanya menatap layar LED di belakangnya. Layar yang menampilkan deretan nama putih di atas latar hitam.

"IPTU Gilang Kharisma. Anisa Agustina alias Chacha. Rizal Biantara. Ali hamzah alias Alee ..." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Ajat Sudrajat. Riki Herdian. Bayu Triono alias Sanyo. Aurell Pramadita."

Setiap nama diucapkan dengan intonasi yang sama.

"Institusi menganugerahkan gelar kehormatan tertinggi atas pengorbanan para pahlawan yang gugur dalam operasi ini. Demi keamanan mereka yang masih hidup, mereka dinyatakan tewas dalam tugas."

Ia menurunkan kertas, melipatnya, dan meletakkannya di atas mimbar. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran di suaranya. Hanya satu anggukan kecil ke arah kerumunan, lalu ia mundur selangkah dari mimbar.

Dari barisan jajaran pejabat di sisi kiri podium, Pak Rudi berjalan maju. Langkahnya tidak tergesa. Sepatu botnya mengilap di bawah lampu kristal. Seragamnya masih licin, lipatan-lipatan terlihat jelas di siku dan bahu. Tanda pangkat Komisaris Besar terpasang rapi di pundaknya.

Ia berhenti di tengah podium, di samping pejabat tinggi yang baru saja turun. Tidak ada yang menyambutnya dengan tepuk tangan. Tidak ada yang meneriakkan nama. Hanya kamera televisi yang bergerak pelan, mengikuti gerakannya, lensa hitam menatapnya dari kejauhan.

Pak Rudi berdiri tegak. Tangannya di samping tubuh, jari-jari lurus. Ia tidak melihat ke kerumunan. Matanya ke depan, ke dinding di belakang kursi-kursi kosong, ke lambang Polri yang tergantung, besar dan berkilat. Lampu kristal memantulkan cahaya ke logam bintang di pundaknya. Cahaya itu bergerak setiap kali ia bernapas.

Setelah pejabat tinggi selesai membacakan nama dan mundur ke belakang, Pak Rudi tetap berdiri di podium. Ia menatap ke arah barisan depan, matanya bergerak pelan menyusuri deretan kursi, berhenti di satu titik.

Di kursi ketiga dari kiri, seorang pria tua berdiri. Jaket hitamnya sedikit kusut di siku, sepatu kulitnya sudah tidak mengilap. Rambutnya sudah banyak putih, disisir sederhana ke samping.

"Bapak Bambang Sutrisna, dipersilakan naik ke panggung."

Om Bewok berjalan ke podium. Langkahnya lambat. Setiap langkah terdengar pelan di lantai marmer yang dingin.

Pak Rudi mengulurkan kedua tangan. Sebuah plakat kayu dengan ukiran emas.

Mata Om Bewok melebar. Ia memeluk plakat itu lebih erat.

Pak Rudi menarik Om Bewok sedikit ke depan, mendekatkan tubuhnya.

"Gilang masih hidup, Pak. Chacha juga. Mereka aman. Gilang titip pesan. Bapak jangan khawatir," bisik Pak Rudi. Bibirnya bergerak-cepat, hampir tidak terlihat di antara kerumunan.

Om Bewok memeluk plakat itu lebih erat. Kedua lengannya merapat ke dada, menekan kayu itu ke tulang rusuk. Dadanya naik turun di baliknya. Tidak ada suara. Tidak ada air mata. Hanya napas yang lebih cepat dari biasanya.

Pak Rudi melepaskan jabatannya, membungkuk sedikit, lalu mundur selangkah. Ia menatap Om Bewok sekali lagi.

Lihat selengkapnya