Gilang berdiri di depan pintu gudang tua. Lampu jalan di belakangnya berkedip tidak stabil, menerangi punggung jaketnya. Ia menggeser pintu gudang. Langkahnya pelan, sepatu botnya meninggalkan jejak kering di lantai semen yang berdebu. Chacha duduk di atas meja kayu, kakinya tidak menyentuh lantai. Rizal bersandar di tiang besi, tangan di saku, matanya terpaku pada Gilang sejak pintu terbuka.
Gilang berhenti di tengah ruangan. Matanya menatap Rizal, lalu ke Chacha, lalu kembali ke Rizal. "Gue harus pergi sendiri." Suaranya pelan. "Gue harus nyari tahu siapa 'Gilang' yang sekarang."
Ia berhenti. Menarik napas. Dadanya naik, berhenti sebentar, lalu turun. "Gue harus nebus semua janji gue. Mulai dari diri sendiri."
"Lo harus bawa Chacha, Zal. Jaga dia. Dia berharga. Dia waras." Gilang menatap Rizal lebih lama. "Lo nggak bisa terus sendirian, Zal. Harus ada yang jagain lo tetap waras. Dan dia butuh tujuan yang jelas setelah semua yang dia korbanin."
"Santai, Lang. Gue nggak akan gila. Gue cuma sinting." Rizal mendorong tubuhnya dari tiang. Berdiri tegak. Tangan kanannya keluar dari saku. "Tapi ya, dia akan aman sama gue."
Gilang mengangguk.
Chacha mengangkat wajah. "Chacha masih ada di sini, Kak."
Gilang menoleh ke arah Chacha.
"Chacha bisa denger kalian ngomongin hidup aku seolah aku nggak punya keputusan sendiri."
"Bukan begitu maksud kakak."
"Tapi kedengerannya begitu."
Chacha turun dari meja. Ujung sepatunya menyentuh lantai, mengangkat debu tipis yang berputar di bawah lampu.
"Hati-hati, Lang. Kita udah mati. Jangan sampai lo beneran mati." Ia berhenti. Menarik napas pendek. "Atau gue akan bunuh lo pake tangan gue sendiri."
Gilang tersenyum tipis, lalu berbalik.
Pintu terbuka. Lampu jalan dari luar menyilaukan untuk sesaat, lalu ia melangkah keluar, bayangannya memanjang di aspal basah sebelum pintu tertutup di belakangnya.
Rizal masih berdiri di tempatnya. Tangannya kembali masuk ke saku.
Langkah Gilang perlahan hilang di luar gudang.
Chacha tetap menatap pintu yang sudah tertutup. Rizal kembali bersandar ke tiang, pandangannya juga masih tertahan ke arah yang sama.
"Menurut Kakak dia bakal balik?" tanya Chacha.
"Gilang selalu balik."
"Terus?"
Rizal menarik satu tangan dari saku, mengusap wajahnya. "Masalahnya, dia nggak selalu balik sebagai orang yang sama."
Chacha terdiam. Lampu di atas mereka kembali berkedip, membuat bayangan keduanya muncul dan menghilang di lantai.
***
Chacha, mengikuti permintaan Gilang dan kebutuhan batinnya untuk bertindak, ia di Batam bersama Rizal. Mereka telah mengambil alih safe house yang dulu digunakan Tequila. Mereka kini bekerja di bawah samaran 'kematian' yang baru mereka dapatkan.
Rizal dan Chacha sedang menganalisis sisa data digital yang ditinggalkan Tequila, mencoba melacak jaringan yang lebih besar. Udara di ruangan itu penuh ketegangan.