Angin menggoyangkan bunga-bunga yang sedang mekar di taman kota Karawang. Betapa kian indah saat mereka tengah memberi warna surgawi di gebalau siang. Di naungan terik matahari yang tak punya tenggang rasa pada orang-orang—para pejuang keluarga yang memeras keringat demi tak tergulingnya periuk ke lantai dapur.
Matahari tergelincir ke langit barat. Di naungan kubah langit biru telur, kupu-kupu berterbangan di taman. Hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya, mencecap sari madunya. Mereka nampak seperti ahli-ahli di surga sesudah sederita ulat dan kepompong di tengah kehiruk-pikukan dunia.
Suharno, lelaki muda berambut lurus pendek, berkaus, bercelana jins, dan bersepatu murahan, duduk di bangku taman. Ia meletakkan tas punggung di sampingnya, memalingkan wajah muramnya pada kupu-kupu yang berpesta madu. Bibirnya kering, memaksakan seulas senyumnya. “Sungguh mereka telah menikmati kemerdekaannya. Terbang bebas. Mengisap madu. Pergi tanpa merasa bersalah. Sembunyi entah ke mana.”
Kesenyapan menghanyutkan Suharno hingga teringat alasan kepergiaannya dari kampung halaman. Sebuah kampung di bilangan Sragen yang tak menjanjikan terwujudnya mimpi besar. Hanya dengan merantau, ia yakin akan mengubah nasib hidupnya, bagai seorang pesulap yang piawai mengubah selembar daun menjadi uang hanya dengan simsalabim.
Sragen yang indah dilukiskan para pujangga, bagi Suharno, sangat melenakan. Betapa tidak? Ia serupa buku tua yang dibuka halamannya oleh angin dari Bengawan Solo—sungai yang mencatat sejarah panjang tanah Jawa. Lumpurnya memberi kesuburan; airnya menyapa tebing dan ladang yang menyerupai permadani hijau.
Bila pagi, Sragen menyeruakkan aroma tanah basah dan jerami. Kabut tipis yang mengambang di atas pematang seolah menyaksikan para petani memaknai tanah garapan dengan sabit dan cangkul. Di kejauhan, tampak Gunung Lawu yang menjadi tempat semayam sukma Prabu Brawijaya dan Sabda Palon kokoh berdiri sebagai tonggak tanah Jawa. Punggungnya sebiru langit yang menaungi; dadanya menyimpan rahasia hutan dan mata air. Ketika senja, siluetnya memeluk matahari yang akan pulang ke sarang malam.
Sayup-sayup terdengar gejog lesung dan kokok ayam menyatu dengan desir daun jati dan mahoni. Pepohonan tua menyimpan ingatan musim: hujan yang deras, kemarau yang tegar, dan orang-orang yang belajar setia pada irama alam.
Malam turun perlahan. Lampu-lampu menyala seperti kunang-kunang. Di antara bintang-bintang yang bertaburan di langit lepas, nampak malaikat-malaikat bersayap perak berterbangan. Purnama yang terlahir dari rahim senja mengisyaratkan anak-anak untuk bermain jamuran dan jethungan.
“Oh... Sragen,” Suharno lirih mendesah. “Kau seperti gadis sahaja yang tenang namun penuh makna. Kau mengajarkanku bahwa hidup seperti sungai yang sabar mengalir, seperti sawah yang tumbuh subur. Sayangnya, kau seperti belaian angin selembut cinta Peni, ibuku, dan Mustadi, ayahku, yang melenakanku. Ketahuilah, Sragen! Aku bukan buih. Aku adalah karang yang suka gempuran ombak samudra. Aku baja yang ditempa di kobar perapian. Aku sangat membencimu.”
“Hei! Apa yang sedang kau lamunkan?” Lelaki muda yang berdiri di depan Suharno itu menyapanya. “Apakah kau memiliki korek api? Lidahku sudah kecut. Rokokku tinggal sebatang, tapi gas korekku sudah habis.”
“Siapa kau ini?” Suharno heran karena lelaki itu mirip dirinya saat bercermin. Ia dan lelaki itu seperti pinang dibelah dua. “Aku tak merokok. Bagaimana mungkin aku punya korek?”
“Dasar banci!” Lelaki itu terbahak. Mulutnya yang terbuka menyeruakkan bau tembakau. “Lantas... kenapa kau duduk di taman ini dengan tatapan mata kosong? Bukankah kau datang dari Sragen?”
“Ya, betul.”
“Apa tujuanmu datang di tanah Karawang sesudah gagal berjuang di Pekanbaru dan Surabaya?”
“Aku ingin mencari kerja.”
“Kau tak punya keahlian!”
“Memang. Aku hanya tamatan STM. Sewaktu sekolah, serasa belum cukup keahlianku. Namun, apa pun pekerjaan asal ada upahnya, aku sanggup melaksanakan.”
“Sebaiknya kau pulang saja. Kota ini tak membutuhkan orang sepertimu. Kota ini sangat keras. Kau tak akan mampu menaklukkannya.”
“Tidak!” Suharno yang merasa diremehkan oleh lelaki itu membentak lantang. “Lebih baik mati sebagai pejuang ketimbang pulang membawa malu. Lebih baik kau enyah dari hadapanku sebelum sumbu amarahku terbakar!”
“Dasar orang gila!” Lelaki itu tertawa lebih lantang. “Telingamu sudah tuli dengan nasihatku. Dasar sampah!”
Suharno beranjak dari bangku taman. Sebelum kepalan tangannya dialamatkan, lelaki itu meninggalkan taman sambil tertawa. “Dasar gila! Di zaman gila, orang gila mengatakan orang waras itu gila.”
Matahari oleng ke langit barat. Bersama burung-burung yang terbang di awang-awang untuk pulang ke sarang, Suharno meninggalkan taman. Dengan menggendong tas punggung, ia menyusuri tepian jalan yang dipadati kendaraan orang-orang pulang kerja.
Lain burung-burung, lain orang-orang, lain pula Suharno. Ia yang menyerupai petualang di tengah hutan berkabut itu tak tahu arah tujuan; serupa kapas yang terbang melayang-layang tertiup angin. Melangkahkan kedua kaki yang serasa rapuh, kian lama kian gontai.
***
Karawang serupa gadis seksi, berlumuran cahaya lampu di naungan purnama yang berbagi kemolekannya pada para penjaga malam. Orang-orang masih berkerumun di alun-alun dan di setiap sudut kota untuk menghabiskan malam panjang.