Tualang Cinta Play Boy Desa

Sri Wintala Achmad
Chapter #2

BAYANGAN DI RUMAH PANGGUNG


Fajar ambang pergantian tahun digegerkan dengan suara orang-orang yang ramai membicarakan ayam-ayam Haji Abdul Azis dikuras maling. Kali ini bukan hanya lima hingga sepuluh ekor yang dicuri, tetapi sampai ratusan ekor beserta telur-telurnya yang belum sempat diambil Pak Haji.

Semua warga menduga kalau pencurinya tinggal di kampung mereka. Tentu bukan Suharno yang mulai bekerja pada Haji Abdul Azis. Sungguhpun mereka tahu, namun tak berani mengatakannya. Sebab berani mengatakan, nyawa yang menjadi taruhannya.

Peristiwa itu membuat Suharno merasa bersalah pada Haji Abdul Azis. Sungguhpun bukan dirinya pencurinya, namun ia merasa bahwa kedatangannya membawa kesialan bagi Pak Haji. Dengan nada santun, ia berucap, “Mohon maaf, Pak Haji. Bila diperkenankan, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa yang ingin kau katakan, Harno? Soal ayam-ayamku yang dicuri maling? Soal siapakah yang mencurinya?”

“Bukan.” Suharno menghirup napas dalam-dalam, mengembuskannya tanpa suara. “Tapi soal keberadaanku di rumah Pak Haji. Aku merasa bila keberadaanku ini telah membawa sial. Karenanya, aku mohon undur diri.”

“Jangan cepat memutuskan sesuatu, Harno! Berpikirlah jernih sebelum mengambil keputusan dan tindakan!”

“Tapi...”

“Sudahlah!” Haji Abdul Azis memotong perkataan Suharno. “Tetaplah bekerja padaku. Keberadaanmu di rumahku tidak membawa sial bagiku. Justru rezekiku semakin bertambah. Soal ayam-ayamku yang dicuri maling, soal siapa maling yang mencurinya, sudah aku atasi.”

Pembicaraan Haji Abdul Azis dan Suharno terhenti sewaktu terdengar ketukan pintu rumah dari luar. Seorang lelaki muda yang akrab dipanggil Syahrul menghadap Pak Haji. Dengan napas yang masih terburu-buru, ia melapor, “Pak Haji diminta Pak Polisi untuk datang ke rumah Asep Tambun. Pencuri ayam-ayam Pak Haji sudah ditangkap.”

Bergegas Haji Abdul Azis yang diikuti Suharno dan Syahrul meninggalkan rumah. Tak ada tempat yang menjadi tujuannya selain rumah Asep Tambun. Ia merasa lega sewaktu Asep yang kedua tangannya diborgol diarak warga menuju mobil polisi.

Suharno yang berdiri mematung serasa dibukakan pada kenyataan di balik sebentang kabut. Asep Tambun yang semula menuduhnya sebagai pencuri ayam-ayam Haji Abdul Azis ternyata malingnya. Ia sontak teringat ayahnya di kampung yang pernah bilang kepadanya, “Tumekane jaman gemblung menawa wis ana lelakon maling alok maling!”

Seusai bayangan Asep Tambun yang dibawa ke kantor polisi lenyap dari pandangan, orang-orang bubaran. Beserta Suharno dan Syahrul, Haji Abdul Azis pulang ke rumah. Mereka berkumpul di ruang makan, menyantap makan siang yang lezat sebagai ungkapan rasa syukur.

***

 

Hari-hari dilalui Suharno serasa jalan tol, tanpa hambatan. Pagi, siang, dan sore, ia bekerja dengan tekun sebagai perawat ayam-ayam Haji Abdul Azis. Terkadang malam hari, ia tidur di kursi panjang di dalam rumah panggung kecil berdinding gedek, beratap genting, dan berlantai kayu yang tak jauh dari kandang ayam itu.

Semakin larut, udara dirasakan Suharno semakin dingin. Angin yang menerobos lewat celah-celah dinding anyaman bambu mengabarkan padanya bila langit akan merontokkan awan menjadi hujan. Bersama guntur yang meledak di langit, hujan pun tumpah di bumi.

Di saat terbuai kenangan masa silam di kampung, telinga Suharno menangkap suara lirih langkah kaki yang berjalan di bawah hujan. Langkah kaki itu semakin jelas menuju rumah panggung. Dalam hati, ia merasa senang mengingat Syahrul akan menemaninya di rumah panggung itu.

Bergegas Suharno turun dari kursi panjang. Berjalan ke arah pintu kayu, membukanya tanpa deritan. Sontak, ia terkejut mengingat seseorang yang datang bukan Syahrul, melainkan lelaki muda yang pernah menemuinya saat ia duduk di taman kota Karawang. Lelaki muda yang menyerupai dirinya.

Oleh Suharno, lelaki muda itu dianggap sebagai hantu mengingat ia berjalan di bawah hujan tanpa payung atau mantel namun tak tampak basah tubuhnya. Rambut, wajah, dan sekujur badannya yang terbalut jaket, blue-jeans, dan sepatu kets hitam tak tersentuh air.

Urung Suharno menduga lelaki muda itu sebagai hantu mengingat kedua kakinya melekat di tanah. “He... bukankah kau yang ingin meminjam korek api saat aku duduk di bangku taman kota Karawang?”

Lihat selengkapnya