Tuan Lori

Adinda Amalia
Chapter #54

53: Bocah Lelaki


Sisi lain Alun-Alun Kalong tenang tanpa masalah. Haw dan Bana duduk di sepasang ayunan—ukurannya lebih besar dan memang bisa digunakan oleh orang dewasa—menghadap jalanan yang membingkai tempat tersebut.

Tepat di seberang, terdapat area berisi bangunan-bangunan tinggi yang dipagar cukup megah dengan penjagaan tiga satpam. Beberapa menit lalu, bel khas terdengar dari sana. Lalu, saat ini para remaja berpakaian abu-abu putih tampak berkeliaran sambil bercanda, walau tak diizinkan meninggalkan wilayah itu.

“Haw, lu …,” pandangan Bana tak beralih dari tempat tepat di hadapan mata, “kenapa gak lanjut ke SMA?”

Gadis itu mengayun kecil kakinya beberapa kali, sambil memandang bawah. “Gue mewarisi semua harta Papi Mami, udah gak butuh sekolah buat nyari kerjaan dan duit.”

Bana akhirnya menoleh, “Tapi sekolah kan bukan cuma buat nyari ijazah doang.”

Haw berhenti, ikut menengok sehingga tatapan mereka bertemu. Dia agak mengintimidasi. “Tapi yang ada di masyarakat sekarang, kayak gitu, ‘kan?” Menyadarinya sempat agak terpojok, Haw mendahului sebelum pemuda itu hendak bicara, “Lalu, lu sendiri gimana?”

Bana memandang depan kembali, tetapi dia agak menunduk dengan fokus buyar. “Gak ada uang,” suaranya nyaris tak terdengar sama sekali. Dia belum pernah semurung ini ketika bicara, padahal pemuda itu selalu sangat cerewet.

Bana lantas tertawa kecil, terdengar miris. “Sebenernya, gue agak iri sama Haw …,” dia menggaruk rambut pelan, “yang lahir dari keluarga kaya.”

Gadis itu menjadi memandang Bana lekat, tetapi tak mengintimidasi seperti sebelumnya. Dia mengedipkan mata beberapa kali, ingin mendengar lebih banyak.


“Selamat datang ....” Seorang wanita paruh baya tersenyum pada gadis-gadis muda berpakaian rapi, meski sederhana, yang memasuki warung.

Bana kecil berada tak jauh dari wanita itu, duduk di depan ujung etalase. Kaki mungil menggantung, sibuk berayun, sedangkan tangan memainkan mobil-mobilan kayu kecil yang dibuatkan bapaknya. 

“Bana …,” ujar seseorang ceria. Pengunjung warung kerap kali menggodanya. Terlebih, bocah kecil itu sumringah dan tak takut berinteraksi dengan orang lain, meski hanya sekadar memberi senyuman lebar sebentar, kemudian sibuk bermain kembali.

Warung sederhana keluarga kecil itu memang tak pernah penuh, tetapi selalu ada saja pengunjung datang.

“Wah, Bana, sudah besar sekarang.”

“Iya! Bana sekarang sudah TK, punya banyak teman di sekolah!” Bocah lelaki itu tampak bangga pada dirinya sendiri. Dia masih duduk di ujung etalase seperti biasa, tetapi kali ini kakinya sudah bisa menapak injakan kursi. Jemari juga bukan lagi sibuk dengan mainan, melainkan buku bacaan.

Gadis muda pengunjung itu tertawa gemas. “Pintar … dilanjutkan belajarnya.”

Bana kecil mengangguk semangat, kemudian kembali fokus ke bukunya.

Pria usia lima puluhan tiba-tiba datang dari belakang warung. Memasangkan kacamata pada bocah lelaki itu sehingga dia sempat terkejut. “Kamu lupa lagi. Kalau gak pake itu, bacanya jadi susah, ‘kan?”

“Bapak ....” Bana kecil menoleh memandangnya sambil harus mendongak. “Terima kasih.”

Pria itu tersenyum tipis, kemudian beralih menghampiri wanita di dapur warung. “Ibuk, mana yang perlu dibantu?”

Wanita itu ikut tersenyum, lebih lebar dan tampak bersahabat. “Ini ….”

Bana kecil mengamati mereka berdua bekerja bersama, sudut bibirnya ikut terangkat tinggi-tinggi. Dia selalu senang tiap kali mendapati ibuk dan bapaknya menunjukkan ekspresi itu. Kembali fokus, dia lantas melanjutkan membaca.


Lihat selengkapnya