Tuan Lori

Adinda Amalia
Chapter #59

58: Anak Ekspedisi


Bana membuka jendela pintu sebelah kanan. “Pergi! Pergi, pergi, pergi!” Dia mengeluarkan satu tangan dan diayun-ayunkan kencang, bermaksud mengusir anjing yang belum juga menjauh dari kabin.

Sesaat kemudian, dia malah langsung buru-buru menarik tangan memasuki kabin kembali sambil duduk semundur mungkin, menjauh dari jendela kaca lantaran anjing itu tiba-tiba agak melompat sambil menggonggong kencang. “Ngagetin! Takut, tahu!”

“Ini juga gak ada pilihan lain.” Haw tiba-tiba sudah sibuk dengan ponsel. Laporan baru telah dibuat. Pengiriman tertunda karena ada anjing tetangga galak.

Bana menatap gadis itu sambil mengerutkan alis. “Haui! Berhenti bikin laporan aneh, deh!”

Gadis itu balas menatapnya dengan penuh tekad. “Gue bilang, gak ada pilihan lain, ‘kan? Lu mau turun dan dikirim ke alam lain sebelum sempat nganterin paket ke penerima?”

Bana seketika terdiam.

“Si penerima gue hubungin gak bisa, orang-orang juga gak ada yang ngusirin anjing itu! Kita bisanya pergi, ‘kan? Emang lu mau nunda pengiriman paket lain cuma karena mentingin satu ini?”

“Iya, iya!” Bana buru-buru menyela sebelum gadis itu berceloteh makin panjang. Padahal biasanya dia sendiri yang paling cerewet, tetapi kali ini bisa dikalahkan oleh Haw.


Memutar setir untuk berbelok ke jalan raya, Bana menghela napas berat. “Hari ini aneh-aneh terus.” Dia lantas melirik sebelah. “Haw, di situ gimana?”

“Penerima udah ngerespons.” Dia mengalihkan pandangan dari ponsel ke pemuda itu. “Bana, katanya kalo gak ada orang, suruh langsung kasihin ke Macan aja, soalnya itu camilan kesukaan dia.”

“Macan?” Bana terkejut, makin keheranan akan pengiriman-pengiriman kali ini. “Penerima kita pelihara macam? Orang kaya banget dong!” Dari tersenyum lebar antusias, dia tiba-tiba pucat bukan main. “Bentar ... kita harus ngasih makan macan?”

Selang beberapa menit kemudian, Fero sudah terparkir di tepi jalan. Mesin kendaraan mati dan kabin telah kosong. Dari bangunan tepat di sampingnya, sama sekali tak ada suara, bahkan sampai membuat hembusan angin bisa terdengar jelas.

Haw dan Bana berjongkok di pelataran rumah itu, tepat di depan akuarium selebar tiga puluh sentimeter. Ada tiga ikan cupang kecil di dalamnya, tanaman, pasir, serta kerikil. Kemudian yang menjadi perhatian mereka, hewan kecil dengan cangkang bermotif garis-garis hitam dan oranye.

Haw dengan entengnya baru melanjutkan pesan si penerima, “Keongnya namanya Macan.”

Senyuman paksaan terlukis di raut miris Bana. “Macan, ya ....”

Usai meletakkan paket di dekat pintu rumah, keduanya kembali menuju Fero. Laporan baru telah dibuat. Penerimaan paket diwakilkan oleh Macan.

Pintu Fero sebelah kanan ditutup usai kursi kemudi terisi. Bana menyambar kertas di dasbor, memeriksa alamat berikutnya yang perlu dicari melalui maps. Sedetik kemudian, dia seketika murka, “Ini apaan lagi sih?”

Baginda Raja

Lt. 4, Istana Utama

Tidak ada nomor telepon, beri kabar pada penjaga kerajaan saja.

Bana asal melempar kertas ke dasbor, lantas menjatuhkan tubuh ke sandaran kursi kemudi dengan kasar. “Nyerah ....” Dia mengangkat satu lengan menutupi wajah. “Haw, kali ini gue setuju sama lu. Ayo bikin laporan aneh, gue lelah.”

“Oke.” Gadis itu langsung meraih ponsel. Mengutak-atik sebentar, lalu menunjukkan layar ke Bana. Pengiriman tertunda karena kurir lelah.

Lagi-lagi, senyuman paksaan pemuda itu mengembang. “Gak gitu maksud gue, tapi ... itu bener juga sih.” Dia menggeser pandangan ke sembarang arah sambil menghela napas tanpa motivasi hidup. “Temuin Bang Jati aja dulu kali, ya?”

Selagi pemuda itu tak bicara lagi dan sibuk menatap kosong ke luar jendela kanan Fero, perhatian Haw tertuju pada kertas di dasbor. Dia mengambilnya, kemudian memeriksa cermat-cermat cukup lama.

Hening kabin pecah saat Haw lantas tiba-tiba menjatuhkan tangan yang memegang kertas itu ke pangkuan sambil beralih menatap pemuda di sebelah. “Bana, lu ingat rumah mewah yang kita lewati sebelum sampai di perumahan elit tadi? Itu kayaknya empat lantai dan ada kucing di gapura pagarnya.”

Bana tersentak, spontan agak menegakkan duduk sambil memandang gadis itu. “Maksud lu ....”

“Gak banyak rumah yang punya empat lantai, ‘kan? Jadi …,” Haw sungguh serius, “itu mungkin tempatnya.”


Lihat selengkapnya