Tuan Lori

Adinda Amalia
Chapter #60

59: Rumah


Gadis itu sekadar memandang uang tersebut, tanpa benar-benar paham. Dia tak merasa harus pulang ke tempat lain lagi. Selama bersama Jati dan Bana, itu sudah seperti berada di rumah. Tiada apa pun yang diinginkan lebih.

Sedetik kemudian, Haw sangat tersentak saat akhirnya paham. Jati memintanya untuk benar-benar pulang ke kediaman semula di Boyolali. Selain itu, mengapa hanya dia? Mengapa Bana dibolehkan tetap di sini?

Jelas tak tahan, gadis itu sudah hendak buru-buru mengutarakan pembelaan, tetapi spontan mengurungkan niat saat mendadak merasakan sesuatu dan menoleh. Seketika, dia kian bergidik ngeri.

Lima belas meter dari mereka, Sidden berdiri agak menyandar pagar setinggi satu meter yang melingkar sepanjang pinggiran Alun-Alun Kalong. Lelaki itu memang hanya diam, tetapi Haw merasakan bahwa dia sedang menunggu Jati.

Itu, artinya ....

Terkunci di dalam tatapan, menoleh, akan segera terjadi.

“Gak mau!” Haw berteriak tegas, meski bercampur warna suaranya yang masih sedikit lucu dan tersisa logat khas anak kecil. Dia sama sekali tak ingin ditentang lagi, tekad itu sudah sangat telak.

“Haui—”

Gadis itu mengambil uang yang barusan mendarat di kursi sebelahnya, kemudian melemparkan kembali ke Jati, kebetulan pas ditangkap.

“Gak mau! Gue gak mau!” Dia sengaja memanjangkan kata terakhir sambil terus berteriak lebih kencang, hingga kemudian baru berhenti saat tenaganya habis.

Di belakang, Bana spontan memegang pelan pundak gadis itu, berusaha menenangkan. Dia sangat terkejut lantaran Haw tak pernah semarah ini sebelumnya.

Sementara si pria muda, sekadar menatapnya dengan wajah datar.

“Jati ... kenapa lu tiba-tiba kayak gini?” Haw tanpa sadar bicara dengan memelas dan dia sangat membenci itu, “Kenapa gue gak boleh ada di sisi lu?”

Pria muda itu belum kunjung mengatakan apa pun. Mengesalkan memang, tetapi bukan apa-apa lantaran Haw sesungguhnya tak membutuhkan jawaban.

“Gue udah janji buat gak ninggalin lu,” Haw berusaha bicara lebih tegas, meski lirih, “dan lu gak keberatan akan hal itu. Iya, ‘kan?” Namun, mengapa ..., kata-kata itu tertahan, bahkan dalam hati pun, Haw tak bisa benar-benar mengucapkannya.

Lagi pula, dia tahu. Jika polisi sudah jelas terlibat, maka Jati pasti akan dibawa. Kemudian, alasan mengapa pria muda itu tiba-tiba bersikap seperti ini, agar Haw tidak melihat saat hal itu terjadi kelak. 

“Jati, denger. Gue bakal ngomong sekali doang.” Gadis itu mengambil napas dalam, bersiap berteriak kembali, dengan lebih tegas, “Gue gak mau pulang!”

Jati masih tak mengucapkan sepatah kata. Tatapan belum bergeser dari gadis itu sama sekali, dengan wajah tetap datar seolah tiada masalah mengusik. Namun, dia agaknya hanya berpura-pura tegar atas segala perasaan bergejolak yang bermunculan.

Pulang, salah satu kata mengerikan yang dapat diucapkan Jati kepada gadis itu. Pasalnya, dia paling tahu, bahwa Haw sesungguhnya tak memiliki tempat lain lagi yang bisa disebut rumah.


“Katanya di sini?” Jati tak terlalu ingat berapa lama waktu semenjak hari itu berlalu. Yang jelas, kala itu dia baru saja menghentikan Fero di tepi jalan, kemudian memeriksa rumah dan mengecek arahan yang diberikan penerima dari ponsel. “Bener sih.”

Jati asal meletakkan ponsel dan selembar kertas berisi data rekap dari paket-pekat yang dikirimkannya kali ini, ke atas dasbor dengan kesal bercampur lesu. Lalu menyandar malas. “Capek ....”

Dia asal melirik samping. “Yang punya rumah mana? Tutupan rapat gitu. Dihubungin juga udah gak bisa lagi. Paketnya taruh di depan gerbang aja kali, ya?”

Lihat selengkapnya