TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #1

PEKARANGAN PAGI

‎Pekarangan selalu bangun lebih dulu daripada penghuninya. Setiap pagi, jauh sebelum matahari benar-benar naik cukup tinggi untuk menghangatkan genting-genting rumah yang mulai berlumut, suara sapu lidi sudah lebih dulu terdengar mengoyak sunyi halaman itu. Suara gesekan yang pelan, berulang-ulang, berirama tetap di atas permukaan tanah berpasir dan ubin semen yang retak-retak. Srekk... srekk... srekk... Seolah ada seseorang yang sedang berusaha merapikan waktu, menyapu sisa-sisa malam sebelum dunia luar memaksanya membuka mata pada hiruk-pikuk hari yang baru.

‎Pak Darmo selalu memulai rutinitas itu dari batas paling depan dekat pagar. Dengan gerakan hafal di luar kepala, ia membuka gerendel besi yang engselnya sudah berkarat dimakan usia, mendorong daun pagar perlahan-lahan agar tidak menimbulkan bunyi berdecit tajam yang bisa membangunkan istrinya di dalam rumah. Cat hijau tua pada besi pagar itu telah lama mengelupas di sana-sini, memperlihatkan warna dasar kehitaman yang kusam. Pagar besi itu bukan dibeli jadi dari toko loak. Puluhan tahun lalu, di tahun-tahun pertama pernikahan mereka ketika pabrik tempatnya bekerja masih berjaya, ia memaku dan melas sendiri kerangka besi tersebut dengan sisa-sisa tenaga setelah seharian berdiri di depan mesin tenun.

‎Udara pagi masih menyimpan sisa dingin yang menusuk tulang. Bau tanah basah dan embun bergesekan dengan aroma daun mangga yang semalam gugur setelah tertiup angin barat yang cukup kencang. Daun-daun itu tidak banyak. Hanya lima atau enam helai yang berserakan di dekat pot. Namun, Pak Darmo tetap memungutnya satu per satu dengan jemarinya yang kasar sebelum ia mulai mengayunkan sapu lidi. Kebiasaan itu sudah mendarah daging selama bertahun-tahun. Katanya, sapu lidi buatan tetangga sebelah rumah itu akan jauh lebih awet jika tidak dipaksa menyeret tumpukan daun yang terlalu basah oleh embun pagi. Bagi Pak Darmo, menyapu halaman bukanlah sebuah kewajiban domestik yang melelahkan, justru sebuah bentuk dialog diam-diam antara telapak tangannya dan tanah yang telah memberinya tempat berteduh selama separuh lebih usianya.

‎Di sisi kanan pekarangan, dua pot cabai rawit milik Bu Rini tampak mulai berbuah lebat. Beberapa kuntum bunga putih kecil masih bertahan di ujung-ujung rantingnya yang rapuh, kontras dengan warna daunnya yang hijau tua pekat. Tanaman itu dirawat bukan karena hasil panennya sangat diandalkan untuk kebutuhan dapur sehari-hari, tapi karena dulu, almarhumah ibunya selalu berpesan agar sebidang tanah di sekitar rumah tidak pernah dibiarkan kosong melompong. "Tanah yang dibiarkan telanjang tanpa tanaman adalah undangan bagi kesunyian," begitu nasihat ibunya yang selalu ia ingat. Maka, Pak Darmo menanam apa saja yang mau tumbuh dengan sabar di sana, merawatnya tanpa banyak menuntut hasil.

‎Tepat di sebelah pot-pot cabai itu, sebatang pohon mangga berukuran besar berdiri megah. Batangnya yang kokoh penuh dengan guratan-guratan waktu dan bekas-bekas paku yang tertanam dalam di dalam kayu. Dulu, paku-paku berkarat itu memiliki fungsi penting sebagai tempat menggantung ayunan kain sarung untuk anak-anak mereka, cantolan lampion kertas saat perayaan tujuh belasan agustus, sangkar burung perkutut milik pamannya yang sering dititipkan, hingga papan kayu kecil bertuliskan tulisan tangan anak-anak mereka yang berbunyi, "Hati-hati, Ada Kucing Melahirkan." Tak satu pun dari paku-paku itu yang pernah dicabutnya, seolah paku-paku tersebut adalah paku sejarah yang menahan ingatan agar tidak tercerabut dari tempatnya.

‎Pak Darmo mengangkat sedikit sapunya ketika seekor kucing loreng berbulu kusam melintas dari arah jalanan gang, menyelinap di bawah kolong pagar menuju dapur belakang. Ia mengenali kucing liar itu, meski tidak pernah sekalipun repot memberinya nama atau menyediakan sisa makanan di piring khusus. Hampir setiap pagi, tanpa pernah terlambat, hewan itu datang, duduk termenung sebentar di bawah naungan pohon mangga, lalu menghilang entah ke mana menyusuri lorong-lorong antar-rumah.

‎Dari dalam rumah, sayup-sayup terdengar bunyi tutup panci aluminium beradu pelan dengan bibir wadahnya, disusul suara Bu Rini yang mengalun dari dapur sempit di bagian belakang.

‎"Sudah nyapu?"

Lihat selengkapnya