TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #2

AKAR DAN AMPLOP

Pohon-pohon mengingat musim jauh lebih baik daripada manusia. Pohon tidak butuh kalender untuk tahu kapan kemarau panjang akan memanggang tanah atau kapan angin barat akan datang membawa badai yang merontokkan dahan-dahan rapuh. Pohon mangga di pekarangan rumah Pak Darmo telah berdiri di tempat yang sama selama tiga puluh dua tahun, menyaksikan perubahan demi perubahan yang terjadi di gang sempit itu. Dari jalanan tanah merah yang becek dan penuh kubangan kerbau ketika hujan, hingga berubah menjadi aspal tambal sulam yang setiap hari dilewati sepeda motor dan truk proyek berukuran besar.

‎Pak Darmo memutuskan untuk tidak membuka amplop cokelat misterius itu di luar, di bawah langit terbuka yang mulai terang oleh cahaya matahari pagi. Ada semacam kehati-hatian yang sudah mendarah daging dalam diri seorang lelaki tua yang hidupnya diatur oleh kesederhanaan. Ia tahu betul bahwa tidak semua kabar baik datang dengan cara yang sopan dan tidak semua amplop tanpa nama membawa rezeki.

‎Ia membawa amplop itu masuk lewat pintu samping, melangkah pelan di atas ubin semen yang terasa dingin di telapak kakinya yang tidak beralas. Ia meletakkan amplop tersebut di atas meja makan. Sebuah meja kayu berukuran sedang yang permukaannya sudah mulai terkelupas di beberapa bagian, ditutup dengan taplak plastik bermotif bunga krisan yang warnanya telah pudar dimakan usia. Meja itu bukan hanya sekadar tempat menaruh piring atau gelas, tapi juga sebagai pusat gravitasi dari rumah ini. Di sekeliling meja inilah segala keputusan penting diambil, tempat anak-anak mereka belajar mengeja huruf abjad di bawah temaram lampu bohlam lima belas watt, tempat cucuran keringat diseka setelah seharian bekerja, dan tempat di mana sisa-sisa kehangatan keluarga dipertahankan di tengah gempuran dunia luar yang kian bising.

‎Di sisi meja yang lain, Bu Rini sedang menuangkan air panas dari termos ke dalam dua buah gelas enamel hijau tua yang catnya sudah banyak mengelupas di bagian pinggir. Gelas-gelas antik yang tak sengaja dikoleksi telah jadi saksi bisu dari zaman ketika anak-anak masih kecil, masa di mana setiap sen uang belanja dihitung dengan cermat agar cukup sampai akhir bulan. Suara benturan pelan antara ceret aluminium dan bibir gelas enamel itu menciptakan ritme tersendiri di dapur yang sempit, sebuah bunyi harian yang sangat dihafal oleh Pak Darmo sedari dulu.

‎”Asal dari siapa, Pak?” tanya Bu Rini tanpa menoleh. Ia sibuk merapikan bungkus kopi bubuk dan gula pasir ke dalam toples plastik, seolah mengabaikan keberadaan amplop cokelat di hadapan suaminya adalah cara terbaik untuk menjaga agar dunia kecil mereka tidak mendadak runtuh oleh kecemasan yang belum waktunya.

‎Pak Darmo menarik kursi kayu berkaki empat, lalu duduk dengan gerakan lambat yang mencerminkan usianya yang tidak lagi muda. “Belum tahu,” jawabnya singkat.

‎”Kok enggak langsung dibuka?”

‎Pak Darmo hanya mengangkat bahu sekilas. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, meraih gelas enamel yang uap panasnya masih mengepul tipis, lalu meniup permukaannya pelan-pelan. Ia lebih memilih menikmati aroma kopi pahit yang menusuk hidung daripada merobek kertas cokelat di sampingnya, seolah uap air panas yang mengepul itu jauh lebih penting dan mendesak untuk dihadapi saat ini.

‎Rumah itu memang sudah terbiasa hidup dalam tempo yang lambat. Mereka tidak pernah terburu-buru dalam merespons apa pun. Kalau ada genting yang bocor di musim hujan, mereka tidak langsung memanjat atap di tengah badai, lebih baik menunggu sampai langit benar-benar terang dan reda sebelum menambalnya dengan adukan semen dan sisa genting lama. Kalau ada piring keramik yang tak sengaja tersenggol dan pecah berkeping-keping di lantai, pecahan itu tidak langsung disapu terburu-buru. Mereka akan menunggu sampai semua anggota keluarga selesai makan agar tidak ada yang menginjak serpihannya. Juga kalau ada kabar buruk atau masalah besar yang datang tiba-tiba, kebiasaan yang terpelihara di dalam rumah ini adalah memilih untuk diam lebih lama, membiarkan kebisuan meresap ke dalam kepala sebelum suara-suara dikeluarkan untuk membela diri.

‎Mereka tidak pernah menyukai ketergesaan. Di luar sana, dunia berputar dalam kecepatan yang membuat kepala pusing. Orang-orang berlomba menjual sebidang tanah milik leluhur dalam hitungan hari, menghitung keuntungan berlipat ganda dengan kalkulator digital, dan mengganti apa saja yang lama dengan yang serba baru. Namun, rumah ini memiliki hukum gravitasinya sendiri. Di sini, segala sesuatu diukur dengan ketekunan dan kesabaran yang panjang. Jika ada dinding tembok yang mulai berpasir dan rontok catnya, mereka tidak merobohkannya untuk membangun bangunan minimalis berdinding kaca. Mereka cukup mengerok bagian yang rapuh, mengaduk semen baru dengan pasir kali, dan mencatnya kembali dengan warna putih kusam yang menenangkan. Prinsip hidup itu merasuk ke dalam setiap jengkal bangunan tua ini, menolak untuk tunduk pada budaya buang-pakai yang dibawa oleh gelombang modernisasi kota besar.

‎Setelah sarapan pagi yang hanya dilewati dengan beberapa patah kata, Bu Rini membawa piring-piring kotor ke bak cuci piring di sudut dapur, meninggalkan suaminya sendirian di meja makan.

‎Pak Darmo masih duduk di tempatnya. Tatapan matanya yang sayu sesekali berpindah dari amplop cokelat di hadapannya ke arah jendela kaca nako yang menghadap langsung ke pekarangan. Di luar sana, dahan-dahan pohon mangga tampak bergoyang pelan, menari-nari gemulai mengikuti arah embusan angin pagi yang mulai menghangat, memantulkan bayangan belang-belang di atas kaca jendela yang sudah lama tidak tersentuh kain lap pembersih.

‎Pohon mangga itu bukanlah tanaman biasa yang tumbuh begitu saja tanpa sejarah. Pohon itu ditanam tepat tiga puluh dua tahun yang lalu, dihitung secara pasti dari minggu pertama kelahiran anak sulung mereka, Raka. Bibit pohon itu tidak dibeli dari toko tanaman hias modern, tapi dibawa langsung oleh almarhum ayahnya dari kampung halaman yang berjarak ratusan kilometer, menumpang bus antarkota ekonomi yang sumpek dan penuh sesak oleh penumpang serta barang bawaan pasar.

‎Pak Darmo masih sangat mengingat wajah ayahnya hari itu. Wajah yang legam karena terbakar matahari sawah, dengan peluh yang bercucuran di dahi, membawa sebatang bibit pohon setinggi lutut orang dewasa yang bagian akarnya dibungkus rapat menggunakan kain basah dan ijuk kelapa agar tidak mati kehausan di tengah jalan.

‎”Tanam di sini, Mo,” kata almarhum ayahnya waktu itu dengan suara serak khas perokok berat, menunjuk sebidang tanah kosong yang masih berupa rumput liar di samping sumur belakang. “Biar cucu-cucumu kelak punya tempat berteduh dari teriknya matahari kota yang kejam. Pohon ini akan menjadi saksi bahwa keluarga kita punya akar di sini.”

‎Kalimat sederhana yang diucapkan puluhan tahun lalu itu kini tertanam kuat di dalam batin Pak Darmo, berubah menjadi semacam sumpah batin yang harus ia jaga mati-matian sampai akhir hayatnya. Pohon mangga itu bukan hanya sekadar tanaman halaman yang menghasilkan buah masam setiap musim hujan tiba. Pohon itu adalah jangkar kehidupan sekaligus penanda biologis bahwa keluarga mereka menancapkan sejarah di tanah ini. Bukan sekadar menumpang lewat atau mengontrak sementara waktu.

‎Pak Darmo tersenyum tipis dalam diam, mengenang kembali saat-saat di mana tinggi pohon itu bahkan belum mampu menyaingi tinggi badannya sendiri. Sekarang, batang pohon tersebut telah membesar, melampaui tinggi genting rumah, merentangkan dahan-dahannya yang rimbun ke segala arah seolah melindungi seluruh isi rumah dari sengatan panas siang hari.

‎Dengan gerakan tangan yang tenang, ia akhirnya meraih amplop cokelat itu. Jari-jarinya yang kasar meraba sisi kertas yang berselotip, lalu membukanya perlahan-lahan dengan hati-hati agar tidak merusak isinya. Di dalam amplop itu, tidak ada surat panjang lebar yang puitis atau basa-basi birokrasi. Hanya ada dua lembar kertas HVS putih bersih yang terasa sangat asing di rumah yang serba sederhana ini. Lembar pertama adalah surat pemberitahuan resmi bernomor agenda perusahaan, sementara lembar kedua adalah salinan peta ukur tanah yang diprint dengan garis-garis merah mencolok.

Lihat selengkapnya