Jemuran tidak pernah memilih pakaian siapa yang lebih dulu kering dan matahari pagi tidak pernah membedakan kemeja siapa yang mendapat giliran disinari paling terang. Matahari baru saja naik sepenggalah ketika tali jemuran di samping rumah mulai terisi penuh. Bu Rini berdiri di atas sebuah bangku plastik pendek yang warnanya sudah kusam karena bertahun-tahun terpanggang panas dan tersiram hujan. Dengan gerakan tangan yang cekatan, tangannya yang keriput menjepit helai demi helai pakaian satu per satu. Kemeja putih tua milik Pak Darmo digantung paling ujung, membiarkan kain katun yang mulai menipis itu berkibar tenang ditiup angin. Di sebelahnya berderet celana training biru tua, dua buah handuk mandi yang sudah aus di bagian pinggirnya, sehelai lap dapur yang penuh noda kecokelatan, serta kaus hitam polos milik Arga, anak keduanya yang baru beberapa hari lalu pulang menumpang bus malam.
Semua pakaian itu berjajar rapi di atas tali nilon putih, tanpa pernah saling memilih atau memprotes posisi mereka. Angin yang sama akan mengeringkannya, menghantarkan aroma sabun cuci murah bercampur bau matahari pagi.
Dari dalam rumah, terdengar suara gesekan pintu kamar yang dibuka pelan. Arga melangkah keluar sambil mengucek matanya yang masih menyipit menahan silau. Rambutnya masih acak-acakan menyerupai sarang burung dan kaus oblong abu-abu yang dipakainya tampak kusut masai, bekas dipakai tidur semalaman di atas kasur kapuk ruang tengah. Ia mengangguk kecil kepada ibunya yang masih sibuk di tempat jemuran, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi di bagian belakang.
”Airnya jangan lama-lama dipakai,” tegur Bu Rini tanpa menoleh dari pekerjaannya.
”Iya, Mak,” jawab Arga singkat.
Jawaban itu terdengar seperti sebuah kebiasaan harian yang sudah dihafal di luar kepala, bukan sebuah kesanggupan yang sungguh-sungguh diperhatikan.
Sementara itu, di sisi lain pekarangan, Pak Darmo sedang sibuk memperbaiki salah satu papan kayu pagar belakang yang mulai longgar dan bergeser dari dudukannya. Sebuah palu kecil di tangannya mengetuk kepala paku dengan ritme yang pelan dan terukur. Ketukannya tidak keras, hanya sekadar cukup untuk mengembalikan paku yang mulai mencuat itu kembali masuk ke dalam kerangka kayu.
Arga yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri ayahnya, memerhatikan gerakan tangan orang tua itu dalam diam selama beberapa saat.
”Pak,” panggil Arga.
”Hm?” sahut Pak Darmo tanpa menghentikan ayunan palunya.
”Itu pagarnya rasanya masih kuat kok, Pak. Enggak usah diketuk-ketuk lagi.”
Pak Darmo tetap melanjutkan pukulannya sekali lagi hingga kepala paku benar-benar rata dengan permukaan kayu. “Kalau enggak dipaku sekarang, besok-besok pas kena angin besar pasti goyang. Sesuatu yang mulai longgar harus langsung dibenahi sebelum lepas sekalian,” jawabnya datar.
Arga tidak menanggapi lagi. Ia tahu betul watak ayahnya. Sesuatu di dalam rumah ini yang masih bisa diperbaiki tidak akan pernah dibuang begitu saja. Dulu, ketika kipas angin gantung di ruang tamu ngadat dan macet dinolnya, Pak Darmo membongkarnya sendirian di atas lantai, membersihkan debu-debu tebal di baling-balingnya, lalu memasangnya kembali hingga berputar normal. Saat engsel pintu kamar mandi copot sebelah karena dimakan rayap, ia tidak memanggil tukang. Ia memperbaikinya dengan mengganjal sekrup menggunakan serpihan kayu korek api dan obeng tua. Lalu ketika sepeda anak-anak mereka sudah aus catnya serta bannya botak dimakan usia, ayahnya mengecat ulang seluruh rangkanya dengan cat minyak sisa, membuat sepeda bekas itu tampak seperti baru lagi, sampai akhirnya benar-benar tak bisa dikayuh karena besi kerangkanya keropos dimakan karat.
Rumah ini tidak pernah bertahan karena semua perabotannya masih baru atau mewah. Rumah ini bertahan justru karena ayahnya tidak pernah tega membuang apa pun yang masih bisa diselamatkan oleh kesabaran sepasang tangan tua.
Menjelang siang, ketika terik matahari mulai menyengat ubun-ubun, Bu Rini mulai mengangkat pakaian-pakaian yang sudah kering dari tali jemuran. Arga yang melihat ibunya kerepotan langsung datang membantu tanpa perlu diminta. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan kasar yang sengaja dibentangkan di teras depan.
”Mas Raka tadi sempat ngabarin ke Mak lagi enggak?” tanya Arga sambil melipat sehelai kemeja milik ayahnya.