Pagar tidak pernah memilih siapa yang boleh melangkah masuk atau siapa yang diizinkan pulang. Besi tua dan kayu-kayu pelindung itu tidak punya hak untuk menolak atau menerima tamu yang datang. Manusialah yang selalu memberi batas, yang memisahkan antara bagian dalam yang aman dan dunia luar yang bising.
Pagi itu, rumah Pak Saman tampak jauh lebih terang dari biasanya. Kecerahan itu tidaklah datang karena lampu terasnya baru saja diganti, tetapi karena tak ada lagi apa pun yang menghalangi pandangan mata menembus batas pekarangan sebelah. Pot-pot bunga aglonema dan lidah mertua yang selama bertahun-tahun berjajar rapi di depan teras telah diangkut bersih menggunakan mobil bak terbuka semalam. Kursi bambu panjang yang selalu menghadap ke arah gang tempat Pak Saman biasa duduk menikmati rokok lintingan kini lenyap, menyisakan ubin semen berdebu. Bahkan lonceng angin dari bilah-bilah bambu yang tiap sore berbunyi ditiup angin kini hanya menyisakan deretan paku kecil yang menancap kosong di kusen pintu.
Pak Darmo berdiri terpaku di balik pagar rumahnya sendiri. Tangannya yang keriput bertumpu mantap pada kerangka besi hijau yang catnya telah mengelupas di banyak tempat. Ia memandangi rumah kosong di sebelah itu cukup lama, seolah sedang mencoba menghitung seberapa banyak kenangan yang ikut diangkut pergi bersama perabotan-perabotan tetangganya.
Gang sempit itu mendadak terasa jauh lebih lebar dari sebelumnya. Jauh lebih sunyi dan entah mengapa, terasa jauh lebih asing.
"Pak." Suara Arga memecah lamunannya. Anak keduanya itu baru saja pulang menjelang siang, berjalan kaki dari warung kelontong di ujung gang sambil membawa kantong plastik berisi roti tawar dan sebungkus kopi bubuk cap patok.
"Titipan Mak," kata Arga sambil menyodorkan belanjaan itu.
Pak Darmo mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah sebelah. "Sudah kosong."
"Iya, Pak."
"Semalam proses pindahannya sampai jam sebelas malam."
Arga ikut melangkah ke dekat pagar, memandangi rumah sebelah yang kini tampak seperti rongga ompong di antara deretan bangunan gang. Masih ada jejak tapak ban truk pengangkut yang membekas di atas tanah halaman depan. Lingkaran-lingkaran kusam bekas pot tanaman yang dipindahkan meninggalkan noda kebasahan di lantai semen.
"Aneh ya, Pak," gumam Arga lirih.
"Apa yang aneh?"
"Rumah kosong ternyata bisa bikin satu gang ini rasanya berubah total. Suasananya jadi beda."
Pak Darmo tidak langsung menanggapi. Ia tidak menjawab ucapan anaknya. Jemarinya justru meraba tiang pagar besi itu, menepuknya pelan beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa kerangka besi di hadapannya masih berdiri kokoh dan belum goyah oleh perubahan zaman yang merangsek masuk.
***
Menjelang sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, ketenangan pekarangan kembali usik. Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka. Pengendaranya mengenakan helm hitam standar dan jaket kain berwarna gelap.
"Permisi, Pak Darmo?" sapa lelaki itu dari balik pagar.
Pak Darmo melangkah keluar dari teras, menghampiri tamunya dengan langkah tenang. "Ya, benar. Ada apa, Mas?"
"Saya disuruh menyerahkan ini oleh bagian pemasaran," kata lelaki itu sambil mengulurkan sebuah map plastik bening yang di dalamnya tampak selembar brosur kertas mengilap. "Titipan dari kantor pengembang."
Pak Darmo menerima map tersebut tanpa banyak bicara. Wajahnya datar, tanpa ekspresi menyambut. Pengantar surat itu langsung memutar balik kendaraannya dan pergi begitu saja meninggalkan kepulan asap tipis di ujung jalan.
Arga yang sedari tadi duduk bersila di atas tikar teras memerhatikan gerak-gerik ayahnya. Begitu Pak Darmo berbalik dan membawa map itu mendekat, Arga langsung penasaran.
Pak Darmo membuka map plastik bening tersebut di atas meja kecil ruang tamu. Di dalamnya terdapat sebuah brosur promosi bergambar deretan rumah modern berdesain minimalis. Ada foto jalanan kompleks yang lebar dan bersih, taman bermain anak yang hijau, kolam renang kecil di sudut kawasan, serta tulisan berukuran besar tercetak tebal di bagian sampulnya: "Hunian Modern untuk Masa Depan Keluarga yang Lebih Baik."
Pak Darmo membalik lembaran brosur itu dengan jemari yang kaku. Di halaman terakhir, terdapat rincian spesifikasi bangunan dan tabel simulasi harga ganti rugi tanah yang dicetak rinci.
Arga melirik sekilas dari tempat duduknya. Angka-angka yang tertera di tabel itu sangat besar. Jumlah nominal yang bahkan belum pernah dilihatnya terkumpul dalam rekening tabungan keluarganya seumur hidup.