Dapur adalah satu-satunya ruang di dalam rumah yang paling tahu berapa banyak orang yang masih ingin pulang. Dapur bukan sekadar tempat mengolah bumbu atau merebus air. Dapur adalah denyut nadi yang merekam kesetiaan penghuninya. Sejak matahari pertama menembus celah genting, dapur selalu lebih dulu dipenuhi oleh bunyi-bunyian kecil yang menenangkan. Suara pisau dapur yang mengiris bawang putih di atas talenan kayu, bunyi tutup panci aluminium yang beradu pelan dengan bibir wadahnya saat air mulai mendidih, hingga gesekan ujung sendok kayu di dasar wajan yang mengeluarkan aroma tumisan sederhana.
Bu Rini telah menghafal seluruh irama itu di luar kepala, meresapinya tanpa perlu melihat. Dari dalam dapur sempit itu, telinganya cukup tajam untuk membedakan antara desis air yang hampir mendidih dengan suara minyak goreng yang terlalu panas di atas wajan. Lebih dari itu, dari balik tirai dapur, ia bisa mengenali siapa saja yang baru saja bangun tidur hanya dengan mendengarkan karakteristik langkah kaki di lantai ruang tengah.
Pak Darmo selalu berjalan dengan langkah pelan dan mantap, tapak kakinya menjejak rata di atas ubin semen. Arga, anak bungsunya, berjalan dengan sedikit menyeret sandalnya karena kebiasaan bangun dalam keadaan setengah sadar. Sedangkan Raka, anak sulungnya yang kini merantau di kota besar, dulu selalu berlari bergegas dari kamar tidur menuju meja dapur, membuka tudung saji dengan tidak sabar bahkan sebelum sempat mengucapkan selamat pagi kepada ibunya.
Sekarang, suara derap lari itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah ingatan yang mengendap di balik dinding-dinding dapur yang mulai mengelupas catnya.
"Bu." Arga melangkah masuk ke dalam dapur sambil memikul sebuah galon air mineral kosong di bahunya. Napasnya sedikit terengah-engah. "Galonnya habis."
"Iya, nanti kalau mau keluar sekalian diisi ulang di warung depan," jawab Bu Rini tanpa mengalihkan pandangannya dari sayur yang sedang dicucinya.
Arga mengangguk kecil. Ia menurunkan galon dari pundaknya dengan hati-hati, bersiap membawanya keluar. "Biar aku saja yang bawa ke depan."
Belum sempat Arga mengangkat galon itu kembali, sebuah tangan tua yang kokoh mendahuluinya. Pak Darmo, yang baru saja melangkah masuk dari pekarangan setelah selesai merapikan alat-alat pertukangan, merebut galon plastik itu tanpa banyak bicara.
"Pak, berat. Biar aku saja yang bawa naik motor," protes Arga.
"Masih sanggup," jawab Pak Darmo singkat, suaranya datar namun mutlak.
Tanpa menunggu bantahan lagi, Pak Darmo memanggul galon air yang berat itu di pundaknya, lalu berjalan melangkah keluar rumah melewati pintu depan. Arga berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung ayahnya yang mulai membungkuk sampai sosok lelaki tua itu hilang di balik pagar halaman.
Beberapa detik kemudian, Arga menggelengkan kepala pelan sambil berbisik kepada ibunya, "Bapak sekarang benar-benar enggak pernah mau dibantu ya, Mak. Padahal tinggal bilang."
Bu Rini sedang sibuk mengiris buah tomat merah di atas talenan. Ia berhenti sejenak, menoleh sekilas ke arah pintu. "Bukan enggak mau dibantu, Ga."
"Lalu apa?"
"Ia sedang berusaha memastikan bahwa dirinya sendiri masih bisa diandalkan."
Arga terdiam. Kalimat yang diucapkan ibunya itu terdengar sangat sederhana, namun makna di baliknya begitu dalam hingga tinggal cukup lama di dalam kepalanya, menohok kesadaran bungsunya tentang harga diri seorang lelaki tua yang perlahan mulai digerus oleh usia.
Ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun dan suasana rumah terasa lengang, dering telepon rumah yang diletakkan di sudut ruang tengah mendadak memecah sunyi. Nomor telepon seluler Raka muncul di layar kecil perangkat rumah tangga yang sudah usang itu.
Bu Rini bergegas melangkah keluar dari dapur dan mengangkat gagang telepon sebelum dering ketiganya selesai. "Halo?"
Suara Raka langsung menyambut dari seberang sambungan, terdengar terburu-buru dan napasnya sedikit memburu. "Halo, Bu? Ibu lagi di dapur lagi masak, ya?"
"Iya, ini baru mau nyiapin makan siang. Ada apa, Nak? Terdengar buru-buru amat."
"Enggak apa-apa, Bu. Cuma pengen nanya... bapak di mana sekarang?"
"Bapak lagi keluar sebentar, ngisi galon air."
"Oh..." Suara di seberang sana mendadak terdiam sejenak, menyisakan desah napas panjang. "Bu... surat dari pengembang itu, apa sudah datang ke rumah?"
Bu Rini melirik sekilas ke arah meja makan di dekatnya. Amplop cokelat berisi surat penawaran dan brosur itu masih terselip rapi di tempat yang sama di bawah toples kerupuk udang.
"Sudah, Nak. Sudah diterima kemarin lusa," jawab Bu Rini tenang.
"Bapak... marah besar?"
"Enggak. Bapakmu enggak marah."
"Terus? Bapak cuma diam saja?"