TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #6

MUSIM HUJAN

Hujan selalu tahu bagaimana cara menemukan jalan pulang ke bumi, bahkan jika harus menyelinap masuk lewat celah-celah kecil di balik genting yang bergeser atau lewat pipa talang yang sudah berkarat.

‎Malam itu, hujan turun dengan curah yang jauh lebih deras daripada hari-hari sebelumnya di perkampungan padat itu. Bukan jenis hujan kilat yang datang terburu-buru lalu pergi meninggalkan genangan dangkal, tapi tipikal hujan musim barat yang seolah akan tinggal cukup lama di tempat ini untuk merendam tanah pekarangan dan mendinginkan udara hingga menusuk tulang. Butir-butir air hujan memukul permukaan genting tanah liat dengan irama konstan yang begitu akrab di telinga. Dari arah dapur belakang, aroma tanah basah yang dihempas air, petrikor yang pekat, masuk terbawa angin malam, menyelinap lewat ventilasi nako yang renggang.

‎Di sudut dapur, Bu Rini berdiri dengan gerakan hafal di luar kepala. Tanpa perlu dinyalakan lampu yang terlalu terang, tangannya meraih sebuah baskom plastik berwarna biru kusam, lalu menempatkannya tepat di lantai semen di bawah titik tetesan air yang mulai merembes jatuh dari langit-langit.

‎Pluk.

‎Pluk.

‎Pluk.

‎Suara air yang menimpa dasar baskom plastik itu berderik nyaring di tengah kesunyian malam. Sudah tiga musim hujan berturut-turut keluarga mereka mengenal bunyi itu dengan sangat baik. Pak Darmo sebenarnya pernah naik ke atas atap pada tahun lalu untuk mengganti beberapa bilah usuk yang lapuk dan menambal retakannya dengan adukan semen khusus. Kebocoran itu sempat berhenti selama beberapa bulan penuh. Namun, begitu musim hujan kembali datang membawa angin besar, titik tetesan itu muncul lagi di tempat yang sama, seolah-olah rumah tua ini juga memiliki luka batin yang tidak pernah benar-benar bisa sembuh sempurna.

‎Dari arah kamar tidur bagian tengah, Arga melangkah keluar mengenakan kaus oblong dan celana piyama panjang, menguap lebar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

‎"Masih bocor juga ya, Bu, titik yang itu?" tanya Arga, memperhatikan baskom biru di lantai.

‎"Iya, Ga. Dari sore tadi mulai merembes lewat plafon triplek," jawab Bu Rini sambil mengelap tangannya dengan serbet.

‎"Besok biar aku panggil tukang langganan di depan gang saja sekalian suruh benerin atapnya," tawar Arga ringan.

‎Pak Darmo, yang sejak tadi duduk di kursi rotan ruang tengah sambil membaca lembaran koran harian yang sudah agak usang, melipat koran itu perlahan dan menaruhnya di atas meja. "Enggak usah panggil tukang," sahutnya datar.

‎"Emangnya bapak masih kuat naik ke atas genting licin pas musim hujan begini?" tanya Arga ragu.

‎"Masih sanggup," jawab Pak Darmo singkat.

‎Arga terdiam sejenak, mengamati sosok ayahnya dalam-dalam. Rambut yang dulu hitam legam kini telah diselimuti uban putih di sekujur pelipisnya. Garis-garis keriput di wajah lelaki tua itu semakin dalam terukir oleh cuaca. Namun, yang paling membuat Arga menghela napas cemas adalah ketika ia melihat tangan ayahnya tadi sore mengambil gelas air. Jemari-jemari keriput itu sempat bergetar tipis sebelum akhirnya mantap memegang benda. Arga memilih menelan kembali kata-katanya, tidak ingin memperpanjang perdebatan di malam yang dingin itu.

***

‎Pukul lima pagi lewat sedikit. Langit di luar masih tampak kelam, tertutup tumpukan awan mendung tebal, dan hujan gerimis masih turun merata tanpa tanda-tanda akan reda.

‎Di gudang belakang yang berbau minyak tanah dan debu tua, Pak Darmo sudah berdiri tegak. Lelaki tua itu mengenakan kemeja flanel lengan panjang dan celana kain longgar. Dengan napas yang sedikit terengah, ia mengangkat sebuah tangga aluminium tua yang salah satu kaki bagian bawahnya pernah disambung secara manual menggunakan lempengan pelat besi berkarat oleh tangannya sendiri bertahun-tahun lalu.

‎Arga, yang baru saja selesai mengambil air wudu untuk menunaikan salat subuh, terkejut mendapati ayahnya sudah bersiap di dekat gudang.

‎"Mau ngapain pagi-pagi begini, Pak?" tanya Arga heran.

‎"Naik ke atas. Mengecek genting yang bocor semalam," jawab Pak Darmo sambil menyeret tangga aluminium itu keluar menuju pekarangan samping.

‎"Pak... cuaca masih gerimis, licin banget di atas sana. Nanti saja kalau matahari sudah naik."

‎"Hanya sebentar. Keburu siang nanti keburu basah semua perabotan dapur."

‎"Biar aku saja yang naik, Pak," desak Arga cepat.

‎Pak Darmo menggelengkan kepalanya tegas. Tangga aluminium itu sudah disandarkan dengan mantap ke dinding luar rumah di dekat saluran talang air. Air hujan sisa semalam masih menetes deras dari ujung genting, membasahi pundak jaket yang dikenakan Pak Darmo.

‎"Ayah lebih tahu persis letak kayu usuk yang lapuk dan posisi bocornya di atas sana," kilah Pak Darmo tanpa memberi ruang bagi bantahan.

Lihat selengkapnya