TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #7

SURAT PAJAK

Ada jenis surat-surat tertentu yang datang ke sebuah rumah hanya untuk membawa kabar sekilas lalu. Seperti undangan pernikahan kerabat jauh atau selebaran promosi toko swalayan yang langsung berakhir di tempat sampah. Namun, ada pula surat jenis lain yang datang membawa beban begitu berat hingga mampu mengubah cara pandang seluruh penghuninya terhadap dinding-dinding yang menaungi mereka.

‎Surat dari kantor pelayanan pajak daerah itu masih tergeletak bisu di atas permukaan meja makan. Tidak ada seorang pun yang berinisiatif memindahkannya sejak semalam. Tidak ada pula yang membuka pembicaraan mengenainya saat sarapan pagi disajikan. Seolah-olah ada keyakinan tak tertulis bahwa selama benda kertas itu tidak disentuh atau dibaca ulang, angka-angka nominal yang tercetak di dalamnya tidak akan pernah bertambah dan beban yang dibawanya tidak akan pernah nyata.

‎Bu Rini sibuk mengibas-ngibaskan serbet meja, menyapu remah-remah roti tawar yang berserakan ke telapak tangannya. Pak Darmo berdiri di dekat sudut ruang tamu dengan wajah berkerut, sibuk mengganti baterai jam dinding kayu yang sempat berhenti berdetak karena kehabisan daya semalam. Sementara Arga duduk di kursi dekat meja makan, matanya berulang kali melirik ke arah amplop putih tersebut, namun tangannya berulang kali pula mengurungkan niat untuk menyentuhnya.

‎Rumah itu sedang belajar mendiamkan diri sendiri. Sebuah keheningan yang tegang, menggantung kaku di antara perabot-perabot tua yang mulai kehilangan kilau aslinya.

‎Menjelang siang hari, suasana di luar gang mendadak kembali hidup dan berisik oleh rutinitas harian warga.

‎Seorang tukang servis kompor keliling tampak memarkirkan sepeda ontelnya di depan rumah warga di seberang jalan. Sekelompok anak-anak sekolah dasar yang baru pulang belajar berkejaran dengan sepeda roda kecil mereka, riuh tawa mereka memecah udara siang yang terik. Penjual sayur keliling mendorong gerobaknya sambil memanggil-manggil ibu-ibu rumah tangga dengan nada khas yang sudah dihafal warga bertahun-tahun.

‎Namun, di tengah keriuhan itu, ada satu perubahan visual yang begitu kontras dan menyayat hati tepat di sebelah rumah mereka.

‎Rumah Pak Saman yang beberapa hari lalu baru saja dikosongkan, kini telah menampakkan sebuah pemandangan baru. Sebuah papan kayu kecil berwarna putih bersih tertancap kokoh di balik pagar depannya. Tulisan hitam tebal di atas papan itu tercetak jelas dan tegas: DIJUAL.

‎Papan itu tampak begitu bersih, terlalu rapi, dan terasa sangat asing di antara deretan rumah-rumah lama yang kusam dimakan zaman.

‎Pak Darmo berdiri terpaku mengamati papan itu dari balik naungan pohon mangga di pekarangannya. Tatapannya begitu lama, begitu dalam, dan menyaratkan kelelahan yang teramat sangat. Jauh lebih lama daripada saat ia menatap surat tagihan pajak yang datang semalam.

‎"Pak..." panggil Arga pelan, melangkah mendekati ayahnya.

‎Pak Darmo tidak langsung menoleh. "Hm?"

‎"Aku boleh tanya sesuatu?"

‎"Tanya apa, Ga?"

‎"Kalau... dulu waktu pertama kali bapak memutuskan beli tanah dan bangun rumah di sini..." Arga menggantung kalimatnya, ragu-ragu. "...apa bapak sempat merasa takut?"

‎Pak Darmo menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman geli yang masam. "Dulu, waktu pertama kali bapak menginjakkan kaki di sini, wujud rumah ini bahkan belum ada sama sekali."

‎Arga mengernyitkan dahinya, kebingungan. "Maksudnya, Pak? Belum ada bagaimana?"

‎"Dulu tempat ini bukan perkampungan padat seperti sekarang. Ini dulunya adalah kebun singkong milik warga kampung sebelah," kenang Pak Darmo menerawang jauh. "Kalau musim hujan tiba, genangan lumpurnya bisa merendam sampai sebatas mata kaki orang dewasa. Tidak ada jalan aspal, tidak ada tiang listrik."

‎Pak Darmo berjalan perlahan menuju kursi plastik kecil yang diletakkan di dekat pangkal pohon mangga, lalu duduk di sana. Tangannya yang keriput menepuk-nepuk permukaan tanah gembur di sampingnya, mengisyaratkan anaknya agar ikut mendekat.

‎"Dua tahun lamanya kami harus mengontrak di petakan kecil dekat pasar," lanjut Pak Darmo. "Setelah uangnya agak terkumpul sedikit, baru kami beranikan diri mencicil tanah kaplingan ini secara bertahap."

Lihat selengkapnya