Sebuah perkampungan atau gang sempit tidak pernah tiba-tiba kehilangan suaranya dalam waktu semalam. Ia tidak mendadak mati suri karena gempa atau kebakaran besar. Kampung menjadi sunyi perlahan-lahan, meredup sedikit demi sedikit, persis seperti api pelita yang kehabisan minyak.
Dua minggu setelah papan bertuliskan “DIJUAL” berdiri kokoh di depan halaman rumah Pak Saman, suasana di sepanjang gang itu mulai terdengar sangat berbeda.
Perubahan itu bukan semata-mata karena gang menjadi lebih sepi dari lalu-lalang kendaraan. Melainkan karena indra pendengaran para penghuni yang tersisa perlahan-lahan mulai terbiasa kehilangan bunyi-bunyian harian yang selama bertahun-tahun telah dianggap remeh dan biasa saja.
Suara radio transistor milik Pak Saman yang memutar lagu-lagu dangdut lawas setiap jam sepuluh pagi tidak pernah terdengar lagi. Daun pintu gerbang besinya tidak lagi berderit nyaring beradu dengan tembok setiap pukul enam pagi menyambut tukang koran. Tidak ada lagi suara tawa renyah cucu-cucunya yang berlari-lari mengejar kucing liar sampai ke tengah jalan aspal. Bahkan, anjing cokelat kurus yang dulu selalu setia tidur melingkar di bawah pohon jambu milik tetangga sebelah ikut menghilang tanpa jejak. Entah pergi ke mana mencari majikan baru. Kesunyian, rupanya, juga memiliki cara dan jalurnya sendiri untuk pindah rumah.
Bu Rini baru benar-benar menyadari perubahan itu pada suatu pagi ketika ia sedang sibuk menanak beras di dapur. Biasanya, setiap kali menjelang pukul sebelas siang, Bu Saman pasti akan memunculkan kepalanya dari balik dinding pembatas pagar sambil berteriak kecil menawarkan atau meminta sesuatu.
”Bu... daun kari untuk masak sayur lodeh ada sisa?”
Atau sekadar bertanya dengan ramah apakah tukang gas keliling sudah lewat di depan gang.
Namun, sudah tepat dua minggu berlalu, dapur kecil di sebelah rumah itu tidak pernah lagi mengeluarkan suara sapaan akrab tersebut. Beberapa kali, Bu Rini masih sering secara tidak sadar menolehkan kepalanya ke arah jendela dapur setiap kali mendengar derap langkah kaki berlalu di luar.
Namun, orang-orang yang lewat di depan rumah mereka kini hanyalah wajah-wajah asing yang tidak pernah dikenalnya. Buruh bangunan proyek, sopir truk material, atau agen properti berpenampilan rapi yang memegang brosur tanah.
***
Arga kini jauh lebih sering menghabiskan waktu duduk di teras depan seorang diri selepas jam kerjanya selesai.
Bukan karena ia benar-benar berniat menikmati embusan angin sore yang sepoi-sepoi. Tapi karena tanpa sadar, mata dan pikirannya mulai menghitung satu per satu rumah di sepanjang gang yang masih bertahan dihuni oleh wajah-wajah lama tetangga mereka.
Rumah Bu Ratih di belokan gang? Masih ada.
Rumah Pak Hendra tukang sumur? Masih ada.
Rumah Pak Lurah sesepuh kampung? Masih ada.
Rumah Pak Saman? Kosong.
Rumah berpagar kayu di ujung sudut gang? Kosong.
Rumah cat biru dekat musala kecil? Sudah kosong dan tidak berpenghuni.
Arga mendadak berhenti menghitung di dalam hatinya. Ia menyadari sebuah ironi yang getir. Ternyata jauh lebih mudah bagi seseorang untuk mengingat siapa saja tetangga yang telah pergi meninggalkan tempat ini, daripada menghafal siapa saja yang masih bertahan tinggal.
***
Suatu sore menjelang asar, sebuah mobil bak terbuka berukuran sedang perlahan memasuki badan gang yang sempit. Kendaraan itu berhenti tepat di depan rumah kosong milik Pak Saman. Tiga orang lelaki turun dari kendaraan tersebut sambil membawa peralatan tukang yang tidak biasa. Sebuah rol meteran panjang, beberapa patok kayu runcing, serta kaleng cat semprot berwarna jingga terang.