TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #9

PITA KUNING

Segala sesuatu yang ada di dunia ini pada akhirnya selalu tunduk pada hitungan, ukuran, dan takaran angka. Luas wilayah dapat dikalkulasi, volume air dapat dihitung, dan nilai tanah dapat ditimbang dengan lembaran mata uang. Namun, di bawah langit luas ini, selalu ada satu hal yang tidak pernah bisa diukur atau dibeli dengan kekayaan apa pun. Alasan tulus seseorang memilih untuk bertahan dan merawat sebuah tempat.

‎Sudah hampir genap sebulan sejak rumah Pak Saman di sebelah resmi dikosongkan dan ditinggalkan oleh seluruh penghuninya. Rumput liar di halaman depan rumah itu kini tumbuh subur tak terkendali, tingginya sudah hampir mencapai betis orang dewasa. Pagar besi tua yang dulu setiap sore selalu terbuka lebar menyambut angin, kini terkunci mati dengan rantai gembok baru berwarna hitam legam. Cat putih di dindingnya mulai mengelupas dan kusam karena tidak ada lagi tangan yang rajin menyiram lumut atau mencabut rumput liar setiap pagi.

‎Gang sempit itu perlahan-lahan mulai belajar menerima kehilangan yang datang silih berganti. Namun, di dalam dada orang-orang yang masih tinggal, menerima kenyataan pahit bukanlah berarti mereka sudah terbiasa hidup di dalam kehilangan itu. Luka kecil akibat perpisahan selalu menyisakan bilur yang ngilu setiap kali angin sore berembus.

***

‎Hari Senin datang menyapa bersamaan dengan teriknya matahari yang terlalu menyengat ubun-ubun sejak pagi buta. Pak Darmo sedang berada di pekarangan samping, memegang gunting kebun untuk memangkas beberapa ranting cabai yang mulai layu, ketika sebuah mobil sedan berwarna putih bersih mendadak berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka.

‎Kendaraan itu bukan sepeda motor tukang sayur keliling. Bukan pula mobil tetangga yang kebetulan lewat. Itu adalah jenis mobil modern yang sama persis dengan kendaraan yang pernah datang parkir di depan rumah Pak Saman beberapa minggu yang lalu sebelum tetangga mereka itu akhirnya menyerah dan pergi.

‎Dua orang lelaki berpenampilan rapi keluar dari dalam mobil tersebut. Lelaki pertama mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang dan menenteng sebuah map kulit berwarna hitam legam di tangan kanannya. Lelaki kedua berjalan di belakangnya, membawa sebuah gulungan pita meteran jalan berwarna kuning terang. Pak Darmo menghentikan aktivitasnya seketika. Ia berdiri tegak dari posisi jongkoknya. Jari-jari kasarnya masih menggenggam erat gunting tanaman yang bilahnya berkilau memantulkan cahaya matahari.

‎”Selamat pagi, Pak Darmo,” sapa lelaki berkemeja biru dengan senyum ramah yang dibuat-buat sopan.

‎”Pagi,” jawab Pak Darmo datar, suaranya berat dan tidak bersahabat.

‎”Kami dari tim perwakilan PT Graha Cakrawala.”

‎Pak Darmo mengangguk pelan satu kali. Tanpa perlu disebutkan namanya lagi, ia sudah tahu persis siapa dan apa maksud kedatangan orang-orang berdasi itu ke pekarangannya.

‎”Mohon maaf mengganggu waktu pagi bapak sekeluarga,” lanjut lelaki itu. “Kami hanya ingin mampir berbincang sebentar saja.”

‎Pak Darmo tidak langsung melangkah membuka gerbang pagar besi rumahnya. Selama beberapa detik yang panjang, ia hanya berdiri mematung di balik jeruji besi, menatap tajam ke arah dua tamu tak diundang itu dengan sorot mata menyelidik.

‎Dari arah dapur belakang, Bu Rini yang mendengar suara gaduh menghentikan aktivitasnya menumbuk bumbu, berdiri kaku di dekat jendela. Sementara Arga, anak bungsunya yang sedang menyapu remah-remah debu di teras, serta-merta menghentikan sapuan dan ikut menoleh dengan napas tertahan.

‎Rumah tua itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekam. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada suara angin. Akhirnya, dengan gerakan lambat, Pak Darmo mengulurkan tangan membuka kait gembok pagar. Ia membukanya. Namun tidak lebar-lebar. Hanya cukup dibuka separuh badan saja.

‎”Silakan masuk,” ucap Pak Darmo dingin.

‎Kedua tamu itu melangkah masuk melewati ambang gerbang dengan langkah kaki yang sangat berhati-hati. Sikap tubuh mereka menyiratkan kesadaran penuh bahwa tempat yang sedang mereka masuki saat ini bukanlah sekadar sebidang tanah kosong biasa, melainkan sebuah ruang hidup yang sarat dengan denyut sejarah manusia.

‎”Nama saya Jana, Pak,” ucap lelaki berkemeja biru itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.

‎Pak Darmo menyambut uluran tangan itu sekilas saja, hanya sentuhan kulit yang singkat sebelum ia menarik kembali tangannya. “Silakan duduk di kursi teras.”

‎”Dan ini rekan saya, Wahyu,” sambung Jana merujuk pada lelaki di sebelah yang memegang gulungan meteran.

‎Mereka bertiga duduk di atas kursi plastik panjang yang diletakkan di teras depan. Tak lama kemudian, Bu Rini datang dari dalam rumah membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat yang masih mengepul, meletakkannya dengan sopan di atas meja kayu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sebelum kembali undur diri ke dalam.

‎Pada menit-menit pertama kedatangan mereka, tidak ada satu pun yang langsung membicarakan perihal pembelian tanah atau penawaran harga ganti rugi. Kedua utusan pengembang itu dengan sengaja membuka percakapan basa-basi yang terasa sangat hati-hati. Mereka bertanya tentang kondisi cuaca pagi ini, tentang suasana kerukunan warga di perkampungan padat tersebut, hingga memuji lebatnya buah pohon mangga yang menaungi pekarangan rumah.

‎Sebuah percakapan formal yang berusaha dibangun agar terdengar sopan dan ramah. Namun di balik keramahan itu, terselip kecanggungan yang begitu pekat dan menyesakkan dada.

‎Setelah basa-basi itu dirasa cukup, lelaki bernama Jana dari pihak pengembang perlahan-lahan membuka map hitam di pangkuannya.

‎”Pak Darmo...” ucapnya memulai dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. “Kami sangat paham bahwa rumah ini telah menjadi tempat bernaung yang menyimpan banyak sekali kenangan bagi keluarga bapak.”

‎Pak Darmo tetap bergeming. Wajahnya lurus menatap ke depan, menolak memberikan respons yang membesarkan hati tamunya.

Lihat selengkapnya