Ada hal-hal tertentu di dunia ini yang sengaja ditutup rapat bukan karena pemiliknya ingin melupakannya atau tidak sudi untuk ditemukan kembali oleh siapa pun, tetapi karena mereka tahu betul bahwa isi di dalamnya belum saatnya atau bahkan tidak akan pernah siap sepenuhnya untuk diceritakan secara terbuka kepada orang lain.
Sumur tua yang terletak di sudut paling sunyi di pekarangan belakang rumah itu telah lama berhenti digunakan secara aktif untuk keperluan mandi, mencuci, atau memasak sehari-hari.
Bukan berarti sumber mata air purba di perut bumi di bawah sana telah mengering oleh cengkeraman musim kemarau yang panjang. Pak Darmo bahkan masih sesekali menimba air jernih dari sana menggunakan timba kecil setiap kali ia membutuhkan air murni untuk menyiram tanaman cabai rawit atau membersihkan lantai semen pekarangan yang kotor. Hanya saja, sejak sebuah pompa air listrik dengan mesin berdengung dipasang di dekat dinding dapur beberapa tahun yang lalu, sumur tua itu perlahan-lahan beralih fungsi. Ia tidak lagi menjadi pusat denyut urat nadi kebutuhan rumah tangga keluarga kecil tersebut, tapi tergeser menjadi semacam monumen sunyi yang dibiarkan berdiri kaku di sudut belakang pekarangan.
Papan penutup dari bilah kayu jati tua di atas bibirnya mulai tampak lapuk, retak-retak, dan dimakan usia. Lapisan lumut hijau beludru tumbuh subur di sela-sela permukaannya yang selalu lembap akibat percikan air hujan yang turun setiap sore.
Namun, seberapa pun parah tingkat kerusakan fisik pada papan penutup kayu itu, Pak Darmo tidak pernah sekali pun berniat menggantinya dengan lembaran seng baru atau lempengan semen modern.
”Papan kayu tua ini masih kokoh dan sanggup dipakai,” begitu jawaban yang selalu diucapkannya dengan nada final setiap kali Bu Rini mendesaknya untuk membuatkan penutup sumur yang lebih rapi dan aman bagi anak-anak kecil.
Bagi orang asing atau tetangga baru yang kebetulan melintas dan melihatnya dari celah pagar, sumur itu mungkin tidak lebih dari sekadar lubang tua berdiameter sempit yang tampak berbahaya di sudut pekarangan belakang. Namun, bagi keluarga kecil mereka, sumur tua itulah benda mati pertama yang ditanam di atas tanah kosong ini. Jauh sebelum satu pun batu bata merah disusun menjadi dinding atau satu batang kayu usuk ditegakkan menjadi kerangka atap rumah.
***
Pagi itu, udara di pekarangan belakang rumah terasa sangat sejuk, diselimuti embun pagi yang belum sepenuhnya menguap tersiram cahaya matahari. Arga memutuskan berjalan seorang diri ke sudut belakang dengan niat membersihkan tumpukan daun mangga kering yang berserakan menutupi jalur setapak di sekitar sumur.
Dengan gerakan hati-hati, ia meraih sisi papan penutup kayu yang berat itu dan menggesernya perlahan ke samping hingga terbuka separuh.
Begitu celah penutup itu terbuka lebar, aroma khas tanah basah yang dingin, pekat, dan purba langsung naik menerpa rongga hidungnya, bercampur dengan kelembapan dinding batu kali yang terkurung selama puluhan tahun di dalam sana. Arga menyalakan lampu senter kecil dari layar ponsel pintarnya, lalu mengarahkannya menembus kegelapan mutlak lubang sumur yang menganga.
Air di bawah sana masih tampak ada, menggenang dalam diam. Permukaannya begitu tenang, nyaris tanpa riak gelombang sedikit pun, memantulkan seberkas cahaya putih kecil dari layar ponsel ke atas dinding batu. Air itu tampak begitu gelap, dalam, dan menyimpan sunyi yang teramat sangat, seolah-olah menampung seluruh rahasia waktu yang berlalu di atas permukaannya.
”Jangan suka membuka tutup sumur sembarangan begitu, Ga.”
Suara bariton Pak Darmo yang tiba-tiba meluncur dari arah pintu belakang membuat Arga terperanjat kaget. Ia menoleh secepat kilat dengan dada berdegup kencang.
”Aduh, bapak... bikin kaget saja muncul tanpa suara,” tukas Arga sambil mengelus dadanya yang berdegup.
”Buat apa tutupnya dibuka-tutup segala?” tanya Pak Darmo datar, melangkah mendekat dengan langkah pelan menyusuri jalan setapak tanah.
”Cuma mau mengecek kondisi dalamnya saja, Pak. Takutnya kalau ada anak kecil tetangga main ke sini terus terperosok ke dalam kan bahaya besar.”
Arga tersenyum kecil mencoba mencairkan suasana canggung. “Tenang saja, Pak. Aku kan bukan anak kecil lagi yang suka lari-larian tanpa melihat jalan.”
Pak Darmo menghentikan langkah kakinya tepat di tepi bibir sumur. Ia menatap lurus ke dalam lubang gelap itu cukup lama dengan sorot mata yang sulit dibaca, lalu seulas senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya yang berkerut.
”Dulu, kamu juga pernah mengucapkan kalimat yang persis sama persis seperti itu,” ujar Pak Darmo tenang.
Arga mengerutkan dahinya, kebingungan setengah mati. “Kapan? Aku sama sekali tidak pernah merasa bilang begitu kepada bapak.”
”Waktu umurmu baru menginjak tujuh tahun,” kenang Pak Darmo lembut, nadanya melayang jauh ke masa lalu. “Kamu nekat memanjat pagar pembatas ini sendirian hanya karena rasa penasaran yang besar ingin melihat bayangan wajahmu sendiri di dalam air sumur. Begitu ketahuan ibumu sedang membawa cucian, kamu langsung memasang muka panik dan bilang: ‘Ibu jangan marah, aku kan sudah besar, bukan anak kecil lagi.’”
Arga tertegun, mencoba memutar balik guliran kaset ingatan masa kecilnya yang sudah buram dimakan waktu. “Aku benar-benar sama sekali tidak ingat kejadian itu, Pak.”
”Memang tidak harus diingat olehmu,” sahut Pak Darmo sambil mengambil alih papan penutup kayu dari tangan anaknya, lalu merapatkannya kembali dengan mantap ke atas bibir sumur. “Yang bertugas mengingat sebuah kejadian masa lalu di rumah ini biasanya bukanlah orang yang mengalaminya secara langsung, tapi orang yang berdiri mengawasinya dari kejauhan dengan rasa cemas yang tidak pernah ada habisnya.”
Tanpa beranjak pergi meninggalkan tempat itu, keduanya kemudian memutuskan duduk bersila di atas sebuah bangku kayu panjang yang diletakkan persis di dekat sumur tua tersebut.
Sudah sangat lama sekali rasanya mereka tidak pernah duduk berdampingan berdua dalam suasana santai tanpa beban seperti pagi ini. Tanpa gangguan layar televisi yang menyala berisik di ruang tengah, tanpa dering panggilan ponsel pintar yang mendesak, dan tanpa tuntutan pembicaraan terburu-buru yang harus segera disudahi karena urusan pekerjaan.
”Dulu...” kata Pak Darmo sambil menunjuk lurus ke arah sekeliling pekarangan dengan telunjuknya yang kasar. “...di bagian belakang rumah ini sama sekali belum ada bangunan apa pun yang berdiri.”
Arga mendengarkan dengan penuh perhatian, membiarkan matanya membayangkan hamparan tanah kosong di masa lalu.
”Masih berupa tanah lapang penuh semak belukar, ilalang liar, dan pohon-pohon liar yang tidak bertuan.”