TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #11

KURSI PLASTIK

Ada jenis kursi tertentu di dunia ini yang dibuat semata-mata untuk fungsi dasarnya. Diduduki sejenak, menopang tubuh yang lelah, lalu ditinggalkan begitu saja ketika waktu beranjak siang. Namun, ada pula jenis kursi lain yang dihadirkan bukan sekadar untuk tempat melepas lelah, tapi untuk menanti dan menampung kepulangan seseorang dari perjalanan yang panjang.

‎Kursi-kursi plastik murahan di rumah itu tidak pernah dibeli sekaligus dalam satu waktu. Satu buah kursi berwarna putih bersih dibeli pertama kali ketika Arga baru saja masuk hari pertama sekolah dasar, dibeli dari uang sisa tabungan hasil berjualan koran keliling. Dua buah kursi plastik lainnya menyusul dibeli bertahun-tahun kemudian ketika Raka diterima kuliah di kota sebelah, agar ada tempat duduk yang layak ketika anak sulung itu pulang membawa tumpukan buku tebal. Sisanya dibeli sedikit demi sedikit dengan warna yang tidak pernah seragam, setiap kali rumah kedatangan tamu atau tetangga dalam jumlah banyak.

‎Tidak ada satu pun dari kursi-kursi itu yang tampak istimewa dari segi bentuk maupun bahan bakunya. Warnanya pun sudah saling berbeda dan memudar. Ada yang berwarna putih susu. Ada yang biru terang. Ada pula yang sudah berubah warna menjadi kusam keabu-abuan karena terlalu lama dibiarkan terpapar teriknya sengatan matahari di teras terbuka.

‎Bahkan, salah satu kaki dari kursi plastik berwarna putih itu pernah retak akibat menahan beban berlebih beberapa tahun lalu, dan kini disambung dengan lilitan kawat tembaga tebal agar tidak ambruk saat diduduki. Namun, entah mengapa, kursi-kursi plastik itulah yang selalu dikeluarkan secara serentak dari dalam gudang setiap kali keluarga kecil tersebut mengadakan momen penting berkumpul bersama.

‎Momen perayaan lebaran idulfitri dengan ketupat sayurnya. Acara tahlilan kecil untuk mendoakan almarhum kakek. Peringatan ulang tahun sederhana. Atau sekadar sore hari yang damai ketika tetangga sebelah datang berkunjung membawa cerita-cerita gosip kampung.

***

‎Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya tersimpan berdebu di dalam gelapnya gudang belakang, seluruh kursi plastik itu dikeluarkan kembali secara bersamaan.

‎Bu Rini berdiri di dekat pintu ruang tamu, menghitung jumlah kursi satu per satu sambil melipat kedua tangannya di dada.

‎"Kurang satu," gumam Bu Rini lirih.

‎Pak Darmo yang berdiri tidak jauh dari tempatnya menoleh. "Kursi yang patah itu?"

‎"Iya, yang kakinya retak parah kemarin belum sempat diganti."

‎Pak Darmo mengangguk kecil, lalu berjalan pelan ke arah sudut teras depan, meraih sebuah kursi kayu tua bermotif ukiran sederhana yang biasa ia duduki seorang diri. "Kalau begitu, pakai kursi kayu ini saja untuk tambahan."

‎"Jangan, Pak," cegah Bu Rini cepat. "Itu kan kursi kesayangan bapak untuk bersantai."

‎Pak Darmo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan keluasan hati. "Kenapa memangnya kalau dipakai?"

‎"Ya... bapak kan biasanya selalu duduk di situ setiap sore."

‎Pak Darmo menatap kursi kayu tua tersebut dalam-dalam, mengusap permukaannya yang licin dan mengkilap karena puluhan tahun tersentuh tubuhnya.

‎"Kalau untuk malam ini..." ucap Pak Darmo sambil mengangkat kursi kayu itu dengan ringan dan membawanya masuk ke ruang tengah. "...biar yang lain duduk di kursi plastik, dan bapak mengalah agar tamu yang datang bisa duduk dengan nyaman."

‎Tepat pukul delapan malam, suara decitan mesin mobil sedan tua milik Raka terdengar memasuki halaman depan. Kendaraan itu berhenti dengan mulus tepat di depan pagar besi yang berkarat. Sudah begitu lama sekali rasanya suara deru mesin mobil itu tidak pernah lagi masuk dan memecah kesunyian halaman rumah mereka.

‎Bu Rini adalah orang pertama yang melangkah cepat menuju pintu depan, membuka lebar-lebar daun pintu kayu menyambut kedatangan anak sulungnya.

‎"Kurus banget badanmu sekarang," kalimat itu yang pertama kali meluncur dari mulut Bu Rini begitu melihat Raka turun dari balik kemudi.

‎Raka tertawa renyah, menyalami tangan ibunya lalu mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu penuh takzim. "Ibu selalu bilang begitu setiap kali kita ketemu terakhir kali."

‎"Memang kenyataannya badanmu masih kurus kering begini," timpal Bu Rini sambil menepuk-nepuk bahu anaknya penuh kasih sayang.

‎Keduanya tertawa kecil, mencairkan ketegangan udara malam yang dingin. Sementara itu, Pak Darmo berdiri tenang di balik kusen pintu ruang tamu. Lelaki tua itu tidak banyak bergerak, tidak pula berhamburan menyambut dengan teriakan histeris. Namun, binar di dalam sorot matanya jelas menyimpan gelombang emosi yang berbeda dari biasanya. Anak sulungnya pulang.

‎Bagi seorang ayah yang keras kepala seperti Pak Darmo, kenyataan sederhana itu saja sudah lebih dari cukup untuk membayar seluruh kepenatan hidup yang mendera selama berminggu-minggu belakangan ini.

‎Makan malam keluarga malam itu berlangsung jauh lebih ramai dan hangat daripada hari-hari biasa. Suasana cair bukan semata-mata karena ada banyak topik pembicaraan lucu yang memenuhi meja makan. Justru sebaliknya. Keramaian itu tercipta karena masing-masing anggota keluarga menyimpan begitu banyak hal penting yang ingin mereka bicarakan, namun sengaja ditahan di ujung lidah karena takut merusak suasana kepulangan.

Lihat selengkapnya