TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #12

POHON MANGGA TUMBANG

Tidak semua hal yang jatuh ke bumi dapat diartikan sebagai sebuah kekalahan mutlak. Di alam semesta ini, selalu ada titik batas di mana sesuatu harus merelakan dirinya rebah bukan karena ia menyerah pada keadaan, tapi semata-mata karena usianya telah melampaui batas kekuatan raganya untuk terus berdiri menantang angin.

‎Hujan lebat pada malam jahanam itu datang menyapa tanpa ada tanda-tanda peringatan awal yang lazim. Tidak seperti badai-badai musim sebelumnya yang biasanya datang perlahan mengumpulkan gumpalan awan hitam pekat berhari-hari di langit sebelum akhirnya menumpahkan air mata langit ke bumi. Hujan kali ini turun begitu saja secara mendadak. Sangat deras. Sangat berat. Debuman airnya menghantam atap seng seperti ribuan butir peluru es, seolah-olah seluruh isi langit sedang bersepakat untuk memindahkan bebannya yang maha berat ke atas permukaan tanah perkampungan.

‎Tepat ketika jarum jam dinding di ruang tengah menunjuk pukul dua pagi, suara pertama yang memecah keheningan malam bukanlah suara sambaran petir yang menggelegar dahsyat. Tapi suara retakan kayu tua yang dipaksa melintir di luar batas kemampuannya.

‎Krek.

‎Sebuah bunyi patahan serat kayu yang begitu nyaring, kering, dan mengerikan.

‎Pak Darmo, yang sejak tadi tidur gelisah di atas kasur kapuknya, langsung membuka lebar-lebar kedua matanya dalam gelap gulita kamar. Lelaki tua itu sangat mengenal karakteristik bunyi tersebut. Itu adalah suara jeritan serat kayu yang sudah puluhan tahun menahan beban berat, kini menyerah kalah pada takdir malam.

‎”Pak! Bangun!” suara panik Bu Rini mendadak melengking dari samping, tangannya mengguncang-guncang lengan suaminya dengan keras. “Ada suara apa di luar? Cepat bangun!”

‎Pak Darmo bangkit duduk seketika, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. “Ada apa, Bu?”

‎”Pohon...” napas Bu Rini terengah-engah, jarinya menunjuk gemetar ke arah jendela belakang. “...pohon mangga kita!”

‎Satu patah kata dari istrinya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Pak Darmo melompat turun dari ranjang tanpa memedulikan rasa nyeri di lutut tuanya. Ia melangkah terburu-buru menuju pintu belakang rumah.

‎Sementara itu, Arga yang tidur lelap di kamar depan ikut terbangun seketika oleh kegaduhan tersebut. Ia langsung melompat dari kasurnya, berlari kecil menyusul orang tuanya ke arah ruang belakang.

‎”Ada apa ini, Pak? Kenapa?” tanya Arga cemas.

‎Tidak ada satu pun dari kedua orang tuanya yang sempat menjawab pertanyaan itu.

‎Ketiga anggota keluarga tersebut kini berdiri berjajar di dekat pintu belakang yang terbuka separuh, mata mereka menatap tajam ke arah pekarangan samping yang disiram cahaya kilat petir.

‎Pohon mangga tua yang selama ini menaungi rumah mereka tampak miring secara drastis ke sisi kiri. Batang utamanya yang sebesar pelukan orang dewasa telah retak menganga di bagian pangkal bawahnya. Akar-akar raksasa yang selama puluhan tahun tertanam kokoh di dalam tanah kini terangkat ke atas, menjebol permukaan ubin semen pekarangan dengan suara gemeretak yang memekakkan telinga.

‎Hanya butuh waktu beberapa detik setelah itu. Brak! Pohon raksasa itu roboh sepenuhnya ke bumi. Untung yang tak terkira, arah jatuhnya tidak menimpa bangunan kamar tidur utama, dan tidak pula merobohkan pagar pembatas tetangga. Pohon itu rebah melintang memenuhi seluruh area tanah kosong di samping rumah.

‎Namun, suara dentuman keras saat tubuh pohon seberat berton-ton itu membentur permukaan tanah membuat seluruh fondasi rumah tua mereka ikut bergetar hebat, seolah-olah baru saja terjadi gempa bumi berskala kecil di dalam kamar.

***

‎Pagi hari datang menyapa dengan membawa pemandangan lanskap pekarangan yang benar-benar asing dan berbeda total. Tidak ada lagi bayangan tajam daun-daun rindang yang biasa bergoyang-goyang menutupi teras depan setiap kali matahari pagi beranjak naik. Tidak ada lagi guguran bunga mangga kecil atau daun kering yang berserakan menyambut pagi. Tidak ada lagi riuh suara burung-burung gereja yang biasanya bertengger riang gembira di pucuk ranting tertingginya setiap pukul enam.

‎Yang kini tersisa di halaman samping hanyalah sebatang pohon raksasa yang rebah tak berdaya. Batangnya yang besar tergeletak di atas tanah, tampak begitu sunyi dan pasrah, bagaikan seorang pejuang tua yang akhirnya diizinkan berbaring untuk tidur nyenyak setelah menempuh perjalanan hidup yang amat panjang dan melelahkan.

‎Pak Darmo berdiri terpaku di tepi reruntuhan batang pohon tersebut. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak subuh tadi. Tangannya yang keriput terulur perlahan, menyentuh permukaan kulit kayu yang kasar dan dipenuhi lumut tebal di bagian yang patah.

‎Arga berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya, mengamati punggung bungkuk lelaki tua itu dengan perasaan ngilu di dada. Ia belum pernah seumur hidupnya melihat sang ayah terdiam membisu begitu lama tanpa ekspresi.

‎”Umur pohon ini sebenarnya sudah berapa tahun, Pak?” tanya Arga pelan, mencoba memecah keheningan pagi yang menyesakkan.

‎Pak Darmo mengusap-usap guratan getah kayu yang melekat di telapak tangannya, menolak mengalihkan pandangan. “Usianya jauh lebih tua daripada umurmu, Ga.”

‎Arga tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan. “Itu jelas terlihat dari besarnya batang ini.”

‎”Bahkan usianya jauh lebih tua daripada usia berdirinya bangunan rumah tempat kita tinggal ini,” tambah Pak Darmo serius.

‎Arga tertegun, urung meneruskan senyumannya. “Jadi... sebelum rumah ini dibangun di atas tanah ini, pohon mangga ini memang sudah lebih dulu ada di sini?”

Lihat selengkapnya