TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #13

MALAM PENGEMASAN

Sebuah rumah tidak akan pernah bisa menjadi benar-benar kosong, selama di dalam kepala atau ingatan seseorang masih tersimpan dengan jelas letak setiap benda, sudut, dan kenangan yang pernah bernyawa di dalamnya. Meskipun dinding-dindingnya dilucuti, meskipun perabotannya diangkut ke tempat lain, sisa-sisa kehidupan itu akan tetap tinggal, berdiam diri di antara celah-celah ubin yang retak.

‎Sejak pohon mangga tua di samping rumah roboh pada malam badai itu, pekarangan mereka mendadak terasa jauh lebih luas. Bahkan terasa teramat sangat luas dan asing bagi pandangan mata.

‎Titik-titik ruang yang selama bertahun-tahun lamanya selalu tertutup oleh naungan bayangan rimbun dedaunan kini terbuka secara langsung pada hamparan langit terbuka. Sinar matahari pagi datang menerobos masuk jauh lebih cepat, menembus kaca jendela kamar depan tanpa ada lagi saringan hijau dedaunan. Angin sore datang berembus tanpa tempat bersembunyi, langsung menghantam dinding luar dengan telak.

‎Kini Bu Rini mendapati dirinya bisa melihat sisi belakang rumah tetangga di seberang dengan sangat jelas dan terang-benderang.

‎Dulu, dahan-dahan lebat pohon mangga itu dengan setia bertindak sebagai tabir pelindung yang menutupinya. Sekarang, tidak ada lagi yang tersisa untuk menyembunyikan apa pun dari pandangan dunia luar. Rumah itu seolah-olah dipaksa telanjang bulat di bawah teriknya siang.

***

‎Tepat seminggu setelah peristiwa tumbangnya pohon mangga tersebut, Raka kembali datang melangkahkan kaki masuk ke halaman rumah. Kali ini, kedatangan anak sulung itu bukan sekadar untuk mampir makan malam kilat atau melepas rindu sesaat seperti pekan lalu. Di tangan kanannya, Raka menenteng sebuah map tebal berwarna biru tua yang menyimpan keputusan mutlak yang selama ini ditakuti oleh seisi rumah.

‎Pak Darmo melihat kedatangan mobil anaknya itu dari balik kursi teras depan. Ia tidak melontarkan pertanyaan apa pun. Tidak pula menyambut kedatangan itu dengan ekspresi wajah yang berbeda dari biasanya. Tanpa tergesa-gesa, ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati gerbang pagar, lalu membuka kait kuncinya lebar-lebar.

‎"Masuk, Rak," ucap Pak Darmo tenang.

‎Hanya satu kata perintah yang keluar dari bibirnya. Namun bagi Raka, satu kata itu sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan sisa-sisa ketegangan yang bergelayut di dadanya sejak ia menyetir dari kota.

‎Mereka semua kemudian berkumpul duduk bersila di ruang tengah tempat di mana dulunya di masa kecil Raka dan Arga selalu riuh rendah oleh suara tawa, pertengkaran kecil, dan tangisan mainan. Namun kini terasa begitu senyap dan dipenuhi keheningan yang tebal.

‎Raka meletakkan map biru tua itu di atas permukaan meja kayu di hadapan ayahnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah benda itu terbuat dari kaca tipis yang mudah pecah.

‎"Aku sudah bicara panjang lebar lagi dengan pihak manajemen kantor pengembang kemarin sore, Pak," buka Raka dengan suara berat.

‎Pak Darmo mengangguk pelan, kedua tangannya bertumpu di atas lutut. "Bagaimana? Penawaran harganya masih tetap sama seperti yang dulu?"

‎"Iya, Pak. Nominalnya tidak berubah."

‎"Lalu, apa keputusan mereka selanjutnya?"

‎Raka mengangkat wajahnya, menatap lekat-lekat mata sang ayah. "Mereka memberikan batas waktu toleransi terakhir kepada keluarga kita sampai akhir bulan ini."

‎Mendengar tenggat waktu yang begitu dekat, Bu Rini yang kebetulan sedang berjalan membawa nampan berisi cangkir teh di dekat dapur mendadak menghentikan langkah kakinya seketika.

‎"Kalau sampai batas waktu itu kita tidak kunjung memberikan kepastian jawaban?" tanya Bu Rini lirih.

‎"Pihak pengembang akan menarik kembali penawarannya, lalu mengalihkan seluruh fokus pembebasan lahan mereka ke pemilik rumah di blok sebelah," jawab Raka jujur tanpa menutup-nutupi kenyataan.

‎Tidak ada satu pun anggota keluarga yang langsung membuka suara merespons kalimat itu.

‎Di sudut ruangan, baling-baling kipas angin gantung berputar pelan dengan irama yang monoton. Suara derit besi tuanya yang bergesek terdengar jauh lebih nyaring dan menusuk telinga daripada biasanya, seolah-olah sengaja mempertegas betapa hampa dan rapuhnya suasana di dalam rumah tersebut.

‎Arga terdiam sejenak, lalu terulur tangannya mengambil map biru tua yang tergeletak di atas meja. Ia membuka lembar demi lembar dokumen resmi di dalamnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Angka nominal harga jual tanah yang tertera di sana. Rincian ukuran luas meter persegi bangunan. Bahkan lampiran brosur cetak biru digital tentang rencana pembangunan kompleks ruko komersial modern yang akan berdiri di atas tanah tempat ia dilahirkan. Semuanya tersusun rapi di dalam map itu. Semuanya terlihat sangat masuk akal secara hitung-hitungan finansial di atas kertas. Tapi justru itulah fakta paling menyedihkan yang membuat dada Arga terasa sesak bukan main, sebab kenyataan bahwa segala sesuatu yang masuk akal di dunia bisnis ternyata tidak pernah mudah untuk diterima begitu saja oleh akal sehat sebuah hati nurani.

‎"Kalau rumah ini pada akhirnya memang harus dijual..." ucap Arga memecah keheningan, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan. "...sebenarnya kita nanti mau pindah dan tinggal di mana, Mas?"

Lihat selengkapnya