Tanah tidak pernah meluangkan waktunya untuk menyimpan atau mencatat nama-nama manusia yang datang pergi melintas di atas permukaannya. Ia tidak peduli siapa yang tercantum di dalam lembaran sertifikat resmi berstempel hukum, atau siapa orang pertama yang menanam patok pembatas wilayah. Tanah hanya diam, meresap, dan dengan setia menyimpan jejak setiap langkah kaki, tetesan air mata, serta peluh yang pernah jatuh meresap ke dalam pori-porinya.
Hari itu, tidak ada lagi utusan dari perusahaan pengembang yang datang mengendarai mobil putih mewah ke depan gerbang.
Tidak ada lagi ketukan pintu yang mencurigakan. Tidak ada lagi map kulit hitam berisikan dokumen tawaran angka penggantian kerugian yang disodorkan dengan senyum formalitas. Namun, entah mengapa, suasana di dalam rumah tua itu sejak pagi buta terasa begitu pekat, seolah-olah seluruh ruangan sedang menahan napas menunggu datangnya sebuah ketetapan nasib.
Sejak fajar menyingsing, Pak Darmo lebih banyak menghabiskan waktunya di pekarangan samping. Lelaki tua itu berjongkok lama di atas tanah yang kini kosong, membersihkan sisa-sisa rumput liar yang mulai merayap di sekitar bekas cekungan lubang akar pohon mangga yang telah tumbang. Sesekali ia berhenti bekerja, menegakkan punggungnya yang letih, lalu menatap lekat-lekat permukaan tanah gembur yang masih menyimpan memori tentang pohon raksasa yang menaungi hidupnya selama puluhan tahun.
Arga memperhatikan gerak-gerik ayahnya itu dari balik bingkai jendela teras. Sudah beberapa minggu terakhir ini, ia melihat perubahan yang begitu kontras pada diri sang ayah. Perubahan itu bukan berarti ayahnya menjadi sosok yang lebih lemah atau putus asa menghadapi tekanan zaman. Justru sebaliknya. Pak Darmo terlihat jauh lebih tenang. Sebuah ketenangan batin yang aneh, menyerupai ketenangan permukaan air telaga dalam yang tidak lagi bergelombang meskipun diterpa angin kencang.
Dulu, pada masa-masa awal ketika isu penjualan tanah dan penggusuran gang mulai berembus kencang, urat leher ayahnya langsung menegang setiap kali topik rumah disinggung. Wajahnya mengeras bagai batu karang, seolah-olah setiap kata tentang kepindahan adalah sebuah ancaman fisik yang harus dilawan sampai titik darah penghabisan. Namun sekarang, lelaki tua itu jauh lebih banyak mengunci mulutnya dalam keheningan. Bagi Arga, keheningan baru yang ditunjukkan ayahnya itu justru terasa jauh lebih berat, lebih dalam, dan jauh lebih menyayat hati ketimbang ledakan kemarahan yang biasa ia tunjukkan di masa lalu.
”Pak, diminum dulu kopinya mumpung masih panas,” sapa Arga ramah sambil melangkah keluar teras membawa dua cangkir mug keramik berisi kopi hitam pekat.
Pak Darmo menoleh sekilas, menghentikan aktivitas merumputnya, lalu menerima uluran cangkir dari tangan anaknya. “Duduklah dulu, Ga.”
Arga mengangguk, lalu mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku kayu pendek yang dibuat khusus dari potongan pangkal batang pohon mangga beberapa waktu lalu. Permukaan kayu bangku itu masih menyisakan guratan-guratan serat alami yang melingkar indah.
”Rasanya aneh sekali kalau dipikir-pikir, Pak,” ucap Arga memulai percakapan sambil meraba permukaan bangku kayu di bawahnya.
Pak Darmo menyesap kopinya perlahan. “Aneh bagaimana?”
”Dulu, bangku tempat aku duduk ini adalah bagian yang hidup dari pohon mangga yang menjulang tinggi.” Arga tersenyum kecil. “Sekarang, wujudnya berubah menjadi tempat duduk pasif di teras.”
”Itu namanya siklus,” sahut Pak Darmo tenang. “Pohon itu tidak musnah, wujudnya hanya beralih fungsi melayani kita dengan cara yang berbeda.”
Arga terdiam sejenak, meresapi kalimat ayahnya. “Kalau begitu... kalau suatu hari nanti rumah tua ini pada akhirnya benar-benar hilang dari tempat ini...” Arga menggantung kalimatnya, ragu-ragu melanjutkan.
Pak Darmo tidak langsung memberikan respons berupa jawaban cepat. Ia sudah menduga sejak lama bahwa pertanyaan paling ditakutkan itu cepat atau lambat pasti akan dilontarkan oleh anak bungsunya.
”Kalau rumah ini hilang...” ulang Arga dengan suara bergetar kecil, “...apakah itu berarti seluruh sejarah hidup kita di sini juga ikut lenyap tak bersisa?”
Pak Darmo mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah hamparan halaman pekarangan yang kini terbuka lebar tanpa naungan pohon. Tatapannya begitu jauh, menerobos menembus batas pagar rumah, seolah sedang membaca kembali lembaran-lembaran album masa lalu di dalam kepalanya.
”Coba ingat-ingat, Ga,” kata Pak Darmo lirih. “Dulu, waktu ibumu pertama kali memasak makan siang di dapur kecil rumah ini dengan kompor minyak tanah pinjaman...”
Arga mengerutkan dahinya, mendengarkan dengan saksama. “...kenapa masakan sederhana buatan ibumu kala itu selalu terasa begitu enak di lidah kita?”
”Ya karena resep masakannya memang enak, Pak,” jawab Arga spontan.
Pak Darmo tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan karena resepnya.”
”Lalu karena apa?”
”Karena orang yang memasak dengan segenap rasa cintanya di dapur itu,” jawab Pak Darmo telak. “Rumah ini pada hakikatnya tidak berbeda jauh dari sebuah dapur tua. Yang membuat sebuah tempat menjadi bermakna dan berharga di dunia ini bukanlah megah atau luasnya bangunan fisik tempat ia berpijak, tapi kualitas manusia yang tinggal dan menghidupkan ruangan-ruangan di dalamnya.”
Arga tertegun, lidahnya mendadak kelu tidak mampu membalas rangkaian kalimat filosofis yang meluncur dari mulut ayahnya.
Menjelang siang hari yang terik, gawai di atas meja ruang tengah berdering nyaring. Panggilan masuk dari Raka. Bukan panggilan video bergambar wajah, tapi sambungan suara telepon biasa yang terdengar putus-putus karena masalah sinyal seluler di perkotaan.
”Halo, Pak,” suara Raka terdengar di ujung sambungan sana.
Pak Darmo yang sedang duduk di ruang tamu segera mendekatkan ponsel ke telinganya. Sementara Bu Rini dan Arga yang berada di dapur serta-merta menghentikan aktivitas mereka, berdiri mematung mendengarkan dengan saksama.
”Iya, Rak. Bapak dengar suaramu dengan jelas,” jawab Pak Darmo tenang.
”Aku sudah memikirkan keputusan ini matang-matang sepanjang minggu kemarin, Pak.”
Suasana di dalam ruang tengah mendadak berubah hening mencekam.
”Aku tidak mau mengambil keputusan egois sendirian tanpa persetujuan keluarga di rumah,” lanjut Raka di ujung telepon. “Dan aku juga tidak ingin di kemudian hari merasa menyesal seumur hidup karena telah memaksa bapak dan ibu melepas rumah itu dalam keadaan terpaksa.”