TUBIR PEKARANGAN

Tasamsyah
Chapter #15

TUBIR PEKARANGAN

Setiap bangunan rumah di muka bumi ini pasti memiliki garis batas yang jelas dan kasatmata. Bisa berupa tembok pembatas yang tinggi, saluran selokan air yang mengalirkan sisa hujan, atau sekadar deretan pagar besi tua yang memisahkan area privat dengan dunia luar. Namun, bagi orang-orang yang benar-benar memahami arti hidup, tidak semua garis batas diciptakan semata-mata untuk memisahkan atau menjauhkan satu pihak dari pihak yang lain. Garis batas ada bukan untuk menutup diri, tetapi untuk memberi tahu di mana sebuah ruang perlindungan dimulai.

‎Enam bulan telah berlalu sejak keputusan bulat diambil oleh keluarga kecil itu untuk menolak tawaran korporasi pengembang dan mempertahankan rumah tempat mereka berpijak selama puluhan tahun.

‎Tidak ada perayaan pesta kembang api yang meriah di halaman depan. Tidak ada jamuan makan malam kecil-kecilan untuk mengundang para tetangga merayakan kemenangan simbolis tersebut. Tidak ada satu pun tanda seremonial berupa spanduk atau ucapan selamat yang menunjukkan bahwa sebuah peristiwa maha penting baru saja mengubah total arah nasib hidup mereka.

‎Kehidupan harian berjalan begitu saja dengan normal, mengalir tenang dan datar seperti hari-hari biasa. Mungkin, memang begitulah cara kerja sebagian besar keputusan-keputusan paling krusial di dalam hidup manusia. Keputusan besar tidak selalu datang mengetuk pintu dengan suara dentuman palu sidang yang keras atau gegap gempita sorak-sorai kemenangan. Kadang kala, hanya hadir secara senyap dan penuh keheningan membuat seseorang terbangun keesokan paginya dan mendapati dirinya bersedia melakukan hal-hal kecil dengan cara yang sepenuhnya berbeda dari sebelumnya.

‎Pagar besi pembatas di depan rumah itu akhirnya mendapatkan sentuhan pemeliharaan total setelah sekian lama dibiarkan berkarat dan dimakan usia. Warnanya pun tidak lagi dicat menggunakan warna hijau tua kusam yang dulu selalu dipilih Pak Darmo semasa muda. Kali ini, Pak Darmo menjatuhkan pilihannya pada warna cokelat muda yang hangat, warna yang memantulkan kelembutan di bawah terik matahari pagi.

‎"Kenapa sekarang warna pagarnya diganti jadi cokelat muda, Pak?" tanya Arga heran sambil mengamati ayahnya yang sedang telaten mengkuas jeruji besi pagar dengan saksama.

‎Pak Darmo, yang tangan kanannya belepotan oleh cairan cat, mendongak sejenak menyeka keringat di dahinya. "Karena warna hijau tua yang lama itu sudah terlalu banyak menyerap air hujan, menanggung beban karat, dan menyimpan terlalu banyak cerita lelah masa lalu."

‎Arga tertawa lepas mendengar analogi filosofis yang meluncur dari mulut ayahnya. "Wah, cat besi pagar rumah kita juga bisa ikut-ikutan merasa capek rupanya?"

‎"Kalau raga manusia yang terbuat dari tulang dan daging saja bisa merasa letih setelah puluhan tahun berdiri, kenapa cat tembok dan besi pagar tidak boleh merasa lelah?" balas Pak Darmo tenang sambil kembali melanjutkan kuasnya.

‎Jawaban spontan itu seketika memancing tawa renyah keduanya di bawah terik matahari pagi yang hangat. Sudah begitu lama sekali rasanya mereka berdua tidak pernah tertawa lepas secara bersama-sama hanya karena hal-hal sepele yang menyejukkan hati, tanpa dibebani kecemasan tentang surat pengembang atau ancaman penggusuran.

‎Tepat di atas bekas lubang cekungan akar pohon mangga tua yang dulu roboh tersapu badai malam jahanam, kini mulai tampak tunas kehidupan baru yang merangsek naik dari dalam tanah.

‎Sebuah pohon berukuran kecil tumbuh subur di sana. Jenisnya bukan lagi pohon mangga berbatang raksasa yang menghasilkan buah masam setiap musim. Entah jenis tanaman apa persisnya, namun batangnya mulai meranggas menantang udara bebas, menampakkan daun-daun hijau muda yang segar setiap kali disiram air.

‎"Kenapa tidak menanam bibit pohon mangga yang baru saja di tempat yang sama, Pak?" tanya Pak Darmo, menguji anaknya.

‎Arga yang sedang menyiram tanaman hias di sekitarnya mengangkat bahu acuh tak acuh sambil tersenyum. "Biar rumah ini memiliki cerita baru yang berbeda dari lembaran sebelumnya, Pak. Supaya tidak selamanya terbayang-bayang oleh masa lalu."

‎Pak Darmo tidak melontarkan sanggahan atau protes apa pun mendengar jawaban itu.

‎Dulu, di masa lalunya yang kaku dan keras kepala, lelaki tua itu pasti akan bersikeras mengatakan bahwa pohon mangga kesayangannya tidak akan pernah bisa digantikan oleh tanaman jenis apa pun di dunia ini.

‎Namun sekarang, ia jauh lebih bijak. Ia telah belajar memahami bahwa kehadiran sesuatu yang baru di dalam hidup tidak serta-merta berarti menghapus atau melupakan kenangan berharga tentang hal lama yang telah pergi meninggalkan tempat.

‎Raka kini jauh lebih sering meluangkan waktunya untuk pulang menyambangi rumah orang tuanya di gang sempit itu.

‎Kehadirannya tidak lagi diatur oleh jadwal hari raya keagamaan atau akhir pekan tertentu yang kaku seperti dulu. Kadang ia datang tanpa diduga pada hari Rabu malam, membawa tas kerjanya yang masih mengepit dokumen kantor. Kadang ia hanya mampir sebentar sepulang dari perjalanan dinas, membawakan sekotak martabak manis favorit ibunya yang masih hangat.

‎Yang paling penting dari semua itu adalah kenyataan bahwa Raka tidak lagi merasa dirinya sebagai seorang tamu asing yang canggung dan kaku setiap kali melangkah masuk melewati pintu depan.

‎Ia mulai mengambil bagian aktif dalam merawat fisik rumah tersebut secara berkala. Kadang ia datang membawa obeng, tang, dan peralatan listrik untuk mengganti bola lampu teras yang mati. Kadang ia memperbaiki pipa saluran air kamar mandi belakang yang mampet. Atau kadang ia tidak melakukan apa pun selain datang, duduk bersila di teras menikmati angin malam bersama ayahnya tanpa perlu banyak berbicara satu sama lain.

Lihat selengkapnya