Seandainya pun harus mati semuda ini, tak masalah.
Saat lenyap dari muka bumi,
membusuk jadi tanah atau menguap sebagai abu,
Ide ini tak ingin dikenang siapa pun.
Fiuhh, terlambat lagi! Langit mengelam, senja segera berganti malam. Setengah terengah, kupaksakan berjalan lebih cepat lagi. Menyusuri perempatan titik nol ini, pikiran menebak-nebak tanpa henti. Apakah bus jalur 15 yang kubenci, masih mau menunggu di depan Radio Arma Sebelas ujung tikungan ini? Ataukah, dia sudah keburu pergi meski belum saatnya berhenti?
Aku tak bisa naik motor, dan kelemahan itu selalu kurutuki setiap pulang kerja begini. Untuk kami, orang Jogja yang tak cakap mengemudi, waktu hidup hanyalah 12 jam sehari. Ah, bahkan kadang lebih pendek lagi, tergantung sesukanya sopir dan kernet bus beroperasi. Jika sudah lewat dari rentang waktu itu, pilihanmu cuma dua: jalan kaki sampai kakimu tak bisa melangkah lagi, atau menyerahkan seperduabelas UMR kepada tukang ojek yang hobi mengebut seolah semua jalan di kota ini milik kakeknya sendiri.
Seandainya kamu punya kekasih,
mungkin hidupmu akan lebih terarah lagi, Ide.
Bukan sekadar berangkat-pulang seperti ini.
Sembari mengingat ucapan Mas Lingga, sesama penulis di kantor penerbit tempatku bekerja, kutatap langit sekali lagi. Hitam, pekat. Sudah semakin mirip hidupku saja. Tapi, ini sedikit tidak biasa. Langitnya kosong, tanpa awan .... dan hampa.
DUM!
Eh? Apa itu barusan? Mendung jatuh?! Sebuah gumpalan hitam legam menukik tajam dari langit ke toko depan sana. Terdengar suara melengking bagaikan rem bus yang diinjak mendadak oleh sopir ugal-ugalan yang menghindari tabrakan. Bertepatan dengan itu, semua lampu di sekitarku padam. Sekeliling menghitam! Handphone yang dari tadi kugenggam, mendadak mati. Cih, sial! Setahuku, tadi masih 50 persen. Apa baterainya bocor?! Apa riwayatku juga akan berakhir pada hari sepekat ini?!
Apakah aku takut mati? Ide ini sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku anak semata wayang, ayah dan ibu yang merantau ke kota ini sudah lama tiada. Kalau malaikat kematian, Izrail atau siapa pun namanya, mau datang, datanglah saja.
“Sori, Mas. Punya mancis[1] atau rek jres[2]?”
Seseorang muncul di sampingku. Lelaki tua berkulit albino dengan caping di kepala, kacamata rayban yang tidak cocok dengan usianya, dan kumis panjang layaknya Gatotkaca. Di lehernya, tergantung lampu LED yang entah bagaimana menyala terang.
Karena aku tak segera menjawab, Pak Tua ini menyorongkan kepalanya lebih dekat.
“Mancis? Rek jres? Punya?”
Telunjuk dan jari tengahnya mengapit rokok kretek. Tangan kirinya memegang tongkat yang lebih mirip tiang besi tempatku berpegangan di tengah bus yang penuh sesak. Dia memakai baju lurik yang tidak dikancingkan, sehingga perut buncit dan kutang putihnya terlihat menonjol. Di bagian bawah, dia mengenakan sarung hitam kelam.
Apa dia malaikat maut? Atau seseorang yang seharusnya masuk ke Grhasia selatan Terminal Pakem sana? Otakku yang lelah karena seharian menulis naskah, sulit untuk diajak mencerna apa yang sedang terjadi.
Sebelum diri sempat bereaksi lagi, entah komat-kamit merapal doa, atau lari terbirit-birit, Pak Tua Albino itu menggerakkan kacamata rayban dengan ujung telunjuknya. “Ah, lupa aku. Sampeyan[3] nggak merokok ya.”
“Iya, Pak. Tidak merokok,” jawabku singkat.