"Sori, sori. Sampeyan berdua pasti mengira, siapa yang bisa melihat saya, dialah yang akan dicabut nyawanya?" Mbah Nuklir memandangi kami berdua. "Wah, sori, pemikiran itu muncul dari film-film soal malaikat maut. Padahal, ya ndhak gitu juga."
Dia menyandarkan punggung ke kursi, menatapi langit-langit Bus Trans Jogja yang kini diisi asap rokoknya. "Saya nggak akan mengambil nyawa sampeyan berdua. Sori, tujuan saya beda. Malam ini, saya mau mencabut nyawa ..." dia memejamkan mata agak lama, menepuk jidatnya dengan ujung rokoknya. "Dul, Dul ... aaah, Dulrohman!"
Mataku membulat. Secara insting, diri ini menoleh ke kartu pengenal karyawan Trans Jogja yang ditempel di kaca jendela. Benar dugaanku. Pak Pramugara yang berkupluk berjenggot tipis itu bernama Dulrohman. Tadi aku sempat melihat name-tagnya saat Mayu membayar QRIS.
"Naaah, itu dia orangnya," Mbah Nuklir tertawa-tawa, menunjuk Pak Pramugara dengan ujung tongkat besinya. "Makasih, Mas Ide. Sampeyan jadi penyelamat saya. Maklum, sudah tua. Sering pikun! Kadang salah orang juga, kalau tidak diingatkan."
Dia bangkit dan mengetukkan tongkatnya, meninggalkan bunyi KLING KLING dingin yang menusuk tulang. Namun, tidak ada satu pun penumpang selain kami, entah bocah SMA, entah mbah bakul, yang terusik olehnya. Bahkan, Pak Dulrohman pun tidak. Dia sedang di depan sana, membaca Al-Qur'an mini sembari sesekali melihat halte demi halte yang kosong.
Apa yang harus kulakukan? Berteriak kepada Pak Dulrohman untuk menghindar? Memperingatkannya agar hati-hati terhadap seorang tua yang mau menyudahi hidupnya? Aku bisa dianggap gila. Yang bisa kuperbuat hanya diam, menyaksikan Mbah Nuklir bertindak sesuka hatinya.
"Oh iya," Mbah Nuklir memalingkan muka ke arah kami, "Sori, Sampeyan berdua ndak akan bisa bertemu lagi. Kalau bertemu, bisa repot saya. Masa' harus beres-beres lagi."
Aku dan Mayu saling pandang. Saat kami menoleh ke tempat Mbah Nuklir tadi bicara, sudah tidak ada apa-apa. Kosong dan hampa. Tapi, anehnya Pak Dulrohman tetap duduk seperti biasa. Suaranya melantunkan Surah An-Naziat sayup-sayup terdengar pula.
"Masih hidup kan?" bisikku kepada Mayu, yang dijawab dengan anggukan.
"Apa halusinasi bisa dialami dua orang secara bersamaan?" desakku memastikan. Mayu menggeleng. "Seharusnya tidak mungkin. Tapi, Mas Ide melihat dia sebagai kakek tua albino dengan caping petani, kan?"
"Iya. Persis. Kacamata Rayban, kumis tebal, perut buncit, dan tongkat besi.”
Kami lantas terdiam. Lebih baik mengunci mulut dan pikiran rapat-rapat. Selama Pak Dulrohman tidak bereaksi apa-apa, ucapan Mbah Nuklir itu hanya omong kosong tak bermakna. Bus terus melaju, membelah malam yang makin dingin dan sepi. Kulirik sekilas, bocah SMA itu masih sibuk bermain game, sedangkan mbah bakul tertidur pulas.
Kami berempat turun di Pasar Belut yang menurut Mayu adalah halte terakhir. Aku nyaris tidak percaya saat menginjakkan kaki ke tanah. Setahuku, sampai tadi pagi, bangunan yang dimaksud Mayu adalah eks kantor Kecamatan Godean. Aku yakin 1001 persen karena di sinilah almarhum ayah bertugas sampai 5 tahun lalu. Tapi, sekarang bangunan itu berubah jadi deretan kios terbuka yang bahkan tidak ada siapa-siapa di sana.
“Mana pasar belutnya? Pedagangnya sudah tidak ada,” kataku.
“Sudah kukut semua sejak ada Covid. Tinggal namanya saja,” jawabnya.
Covid? Apa itu? Semacam obat atau bagaimana?
Mayu mengambil ponselnya dari saku celana jeans. Jemarinya menari lincah di atas permukaan layar ajaib itu, melakukan beberapa ketukan cepat yang tak kupahami. "Fiuhhh, kalau jam-jam segini, pak gojek agak lama nyantolnya."
“Gojek? Tukang ojek?"
"Iyaaa ... Ah, akhirnya dapat. Sekitar lima menit lagi baru sampai,” jawab Mayu tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Lumayan, masih ada voucher. Cuma Rp9000 sudah sampai rumah."
Astaga ... ternyata ada yang begitu, juga? Tukang ojek di kota ini minimal akan memerasmu untuk mengeluarkan minimal Oto Iskandar Di Nata. Aku benar-benar ketinggalan peradaban!
"Bisa pesan tukang ojek dari situ? Biayanya semurah itu? Semacam SMS lebih dulu begitu?"
Mayu menoleh padaku, bengong. Melihat lagi baju kotak-kotak ini, lalu tersenyum ringan. "Beda dong. Ngapain SMS segala, malah keluar uang. Kita-kita tinggal duduk santai, pak gojek langsung datang menjemput."
Aku sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi. Tapi, rasanya, tak perlulah menurunkan derajat lebih rendah lagi di depan gadis ini. Yah, setidaknya, dengan ponsel mirip artefak ini, aku tahu di mana harus menekan kalau mau mengetik huruf 'A'. Di ponsel Mayu yang tanpa tombol, jika orangnya gaptek sepertiku, barangkali bisa setahun untuk membuat satu kalimat.
Mayu menarik tas punggungnya, “Jadi, kita berpisah di sini?”
“Tampaknya begitu ....” jawabku ragu, melihat matanya. Aku sudah tiga kali jatuh cinta, tapi tak pernah berani menyatakannya. Jadi, malam ini ... “Ah, apakah besok kita bisa bertemu lagi? Di Pasar Belut ini? Sekitar jam 8? Aku bakal naik Jalur 13 setiap hari karena halte Ahmad Dahlan dekat dengan kantor.”
Dia tersenyum, mengusap rambutnya. “Jam 8? Bukan tawaran yang buruk. Aku juga naik bus ini ke kampus hampir setiap hari. Sedang skripsi, harus rajin-rajin ke perpustakaan.”
"Oke, jangan lupa besok pagi, Mayu,” kataku seoptimistis mungkin, meski jantungku berdebar tidak menentu.
“Janji. Yang tidak datang, tidak akan punya jodoh sampai mati,” dia mengerling. Ah, gadis ini. Dia mungkin tidak akan sadar betapa mudah tingkahnya membuat siapa pun jatuh hati. Aku tertawa mendengarnya, “Kamu suka Argentina, ya? Sayangnya Lionel Messi nggak bisa sebagus saat main di Barcelona.”
Dia tertawa lebih kencang. “Ah, itu sih teori zaman dulu. Bintang tiga ini buktinya. Messi juga bisa dapat Ballon d’Or dua kali lagi lho.”
Tak lama kemudian, tukang ojek yang dipesan Mayu itu benar-benar datang, lengkap dengan seragam hijau dan sarung tangan. Andai bisa memanggil ojek yang serapi ini, jangankan Otto Iskandar Di Nata. Menyodorkan I Gusti Ngurah Rai sekalipun, aku bakal mau.
Ojek itu juga menyodorkan helm dengan warna senada, sembari berkata, "Silakan dipakai, Kak".
Seumur-umur, di Jogja ini, baru sekarang kudengar seseorang menyapa dengan panggilan itu.
Saat Mayu melambaikan tangan di ujung jalan sana, semua yang kami alami tadi, terlintas di dalam kepala. Sebelum bayangannya hilang ditelan malam aku mulai mengeja detailnya satu per satu.
Mayoansa Ruby. Nama yang terdengar seperti batu permata.
Anak Cancer, katanya. Sungguh kontras dengan kehangatan yang meluap-luap setiap kali dia bicara. Ah, dia juga cerita, usianya baru sembilan belas tahun. Berarti, lima tahun di bawahku. Tapi, di depannya, dengan segala keajaiban benda bernama ponsel di tangannya, aku merasa seperti pemula yang baru belajar membaca.
Ia mahasiswi Sastra Jepang di FIB Ahmad Dahlan. Kampusnya, seingatku, adalah lokasi ngetem bus jalur 15. Ah, aku lupa bertanya, apakah dia suka menggambar gaya manga seperti diriku. Dan yah, baru saja dia pergi lima menit lalu, aku sudah merasa kehilangan ....
---o0O0o---
Jumat keesokan harinya, tidak ada berita tentang pramugara Trans Jogja yang meninggal dunia. Sudah kucek di Jogja TV dan kanal televisi lokal lainnya, juga googling sekilas lewat laptop tua yang kupunya. Sedikit lega, tetapi juga sedikit hampa. Lantas, Mbah Nuklir itu khayalan jenis apa?
Penasaran dengan apa mungkin yang ditemukan Mayu di ponsel layar datarnya, aku datang sepagi mungkin ke Pasar Belut semalam. Buru-buru, bahkan makan pun kuabaikan. Tapi, sampai di sini .... yang terlihat di depan mata, sama sekali berbeda. Tidak ada kios-kios terbuka. Tidak ada pula bus Trans Jogja. Sejauh mana pun aku memandang, yang berdiri di tempat seharusnya Pasar Belut berada, hanyalah gedung tua eks kantor Kecamatan Godean. Terbengkalai, tidak terawat, dan depannya ditumbuhi tanaman merambat. Kutunggu Mayu sampai mengabaikan tiga bus jalur 15, dia tidak datang juga. Bahkan, sampai jarum jam bergerak ke arah angka sembilan, gadis itu entah menghilang ke mana.
Apakah dia menghindar? Apakah ini penolakan? Bukankah dia sendiri yang berjanji, siapa yang tidak datang, tidak akan punya jodoh sampai mati?
Sadar diri ini hanya akan terlambat, hendak sengebut apa pun bus jalur 15 yang berikutnya, kupilih langkah nekat saja. Sengaja aku membolos kerja, tidak juga menghubungi Mas Lingga atau Mbak Indira. Lebih baik mencari rumah Mayu di sekitar Mataram College. Aku masih hafal jalannya karena sempat belajar di lembaga bimbel itu saat persiapan Ebtanas kelas 6. Namun, berkeliling kemana saja di sekitarnya, tidak ada satu pun orang yang mengenal Mayoansa Ruby. Bahkan, Erman, teman masa kecilku yang sekarang jadi montir bengkel motor pun hanya bisa menggeleng saja.
“Mungkin nama alias, Ide? Nama aslinya siapa?”
Bagaimana bisa? Apakah segala yang kulihat semalam hanya khayalan belaka? Mulai dari Mbah Nuklir, Trans Jogja Jalur 13, hingga gadis tempatku jatuh cinta keempat kalinya? Tidak adakah satu pun yang nyata?
Kata siapa waktu tak bisa kembali?
Dia datang dan pergi dalam hitungan yang lebih cepat daripada detik.
Dia senantiasa dalam kesibukan.