“Ide, kamu tahu kan hari ini Pak Jibril ke kantor?!” Suara Mas Lingga di telepon terdengar sengit, jauh dari kebiasaannya selama ini. “Kenapa malah bolos?! Kamu juga nggak berkabar sama sekali. Kami-kami yang di sini kena semprot semua, tahu!”
Kutelan ludah, menatap langit sore dari dari celah tenda warung makan mini ini. Sepiring nasi penuh lengkap dengan sayur tempe, ditambah tiga gorengan besar sudah berjejalan di perut yang lapar karena tidak makan sejak pagi.
Aku tak heran dengan amarah Mas Lingga yang meluap-luap. Mau bagaimana lagi? Aku menghilang saat Godzila memorakporandakan pelabuhan hingga rata. Sembari mengusap mulut, aku berkata pelan, “Maaf Mas, ada sesuatu yang harus kuselesaikan hari ini juga.”
“Awas kalau cuma masalah cewek!”
Entah kebetulan atau tidak, saat Mas Lingga mengucapkan itu, pandangan mataku beradu dengan mbak-mbak penjual warung makan yang sumeh itu, tersenyum sekelebat kepadaku.
“Ide, kamu belum lupa kan, kasus Indira? Dia pernah sakit berhari-hari, naskahnya telat selesai, cuma karena diputus pacar. Ingat kata-kataku waktu itu?!”
Bodoh benar hancur karena orang yang mencampakkan kita. Ucapan Mas Lingga yang dilontarkan dalam rapat internal kami, membuat Mbak Indira pucat pasi.
Tapi, menangis karena disakiti? Aku tidak seperti itu. Aku yang menenggelamkan diri untuk mencari Mayu, gadis yang baru kukenal semalam. Begitu inginnya tenggelam, sampai aku mendatangi fakultasnya, jurusannya, mencari jadwal pendadarannya, yang sudah pasti tidak ada.
Mbak-mbak penjual warung makan menyambut pembeli baru. Dua bapak-bapak, sopir dan kernet jalur 15 yang wajahnya cukup familiar. Yang satu tinggi-jangkung memakai topi flatcap, yang satu, berkulit kelam-mengilap dengan rambut klimis ala Superman.
“Kamu masih mendengarkanku kan Ide? Jangan coba-coba mikirin cewek. Urus saja hidupmu yang sebentar lagi berantakan! Camkan baik-baik, ada surat SP-1 di mejamu. Aku nggak mau jadi bempermu lagi. Malu aku, dimaki-maki di depan banyak orang. Nggak kamu, nggak Indira ... duh!” keluh Mas Lingga. “Sudah, pokoknya selesaikan urusanmu hari ini. Besok, pagi-pagi sekali, aku mau batang hidungmu itu nongol di kantor.”
Aku tidak menjawab kalimat terakhirnya. Kumatikan saja sambungan, dan selesai begitu saja. Kubayangkan, Mas Lingga akan mengeluarkan nama-nama hewan yang biasanya cuma diucapkan Pak Jibril. Tapi, bukan masalah. Aku layak dicemooh. Aku bahkan layak dilenyapkan karena menghilang pada bulan-bulan kritis kantor kami.
Pak Jibril mengunjungi kantor sebulan atau dua bulan sekali. Tidak ada yang tahu kapan dia datang. Bahkan Mas Lingga yang sudah lima tahun di sana. Tapi, setiap kali sang Godzilla datang, AC yang dinyalakan hingga 16 derajat celcius pun tak bisa meredam panas yang ikut serta di belakangnya.
Penjualan buku populer tengah menurun drastis. Lebih banyak buku yang diretur kembali ke gudang. Apalagi, Gramedia punya aturan baru soal buku macam apa yang dipajang di etalase. Bagi Pak Jibril, semua elemen itu adalah bukti bahwa tim kami tidak becus. Dan tidak becus alias gagal di mata beliau sang Godzilla, berarti siap dibuang ke neraka.
“Ngunjuk Mas[1],” kata bapak-bapak berambut klimis, menyeruput teh nasgitel di gelas jumbonya. Aku mengangguk pelan.
“Mase rak sing sering medhun Mijilan kae to? Lha kok tekan kene? Melu ngesir Mbak Arum po piye[2]?”
Mbak penjual warung makan melambaikan serbet kotak-kotak kepadanya. “Ngawur, Pak-e. Mase gek bingung kuwi, ket mau bolak-balik kampus[3].”
“He he he, iya Mbak,” jawabku pendek.
“Kalau ngesir Mbak Arum, hati-hati Mas,” bapak berambut klimis itu menepuk bahuku, “Lawanmu satu rombongan kru jalur 15. Terutama ...” dia menoleh pada kernetnya yang bertopi flatcap, “Jaya dan Dombret.”
“Ih, wegah aku karo Dombret. Jarang adus[4],” Mbak Arum memonyongkan bibirnya. Pak berambut klimis tertawa kencang. “Nek ngono ya karo Jaya wae.”
Dari kejauhan, terdengar klakson bus, yang sengaja dibunyikan kencang-kencang. Aku yakin, itu bus jalur 15 yang lain.
“Jiamput, Rian karo Dombet meneh!” Pak berambut klimis buru-buru menenggak tehnya. “Jian, mangan gorengan siji we dadi ra kolu. Ayo Jay, lek gage!”
Pak berambus klimis nyaris melompat keluar tenda warung makan. Di belakangnya, Pak Jaya setengah berlari, menyempatkan diri mengedipkan mata ke arah Mbak Arum, membetulkan letak topi flatcap-nya agar terlihat lebih miring. Diselingi pisuhan Pak berambut klimis, Pak Jaya meninggalkan kekasihnya, menyusul masuk ke dalam bus yang mesinnya sudah meraung-raung.
Di aspal Yogyakarta ini, bagai kru bus jalur 15, hidup adalah balapan brutal. Karena lambung mereka tidak diisi oleh gaji bulanan tetap, setiap detik di jalanan adalah pertaruhan. Mereka harus berebut meraup sebanyak mungkin penumpang. Meskipun jadwal trayek sudah diatur, semua bus ingin menguasai waktu emas, yaitu jam-jam saat mahasiswa bubar kuliah, siswa pulang sekolah, atau pegawai kantoran mulai tampak gelisah di pinggir jalan.
Ada kalanya kejadian seperti barusan. Bus yang urutannya lebih belakang sengaja ngebut gila-gilaan demi “menempel” bus di depannya yang sedang asyik ngetem. Jika itu terjadi, bus di depan tak punya pilihan selain segera tancap gas. Jika keras kepala bertahan, mereka akan "dipancal” alias disalip paksa. Artinya jatah setoran hari itu ludes dirampas kawan sendiri. Dapur mengepul lebih penting daripada adab berkendara. Saling sikut trayek, kepulan asap hitam, dan klakson yang memekakkan telinga adalah hal biasa.
Kulihat Mbak Arum memasang tampang cemberut. Mungkin karena kesempatannya bertemu Pak Jaya direnggut seketika oleh Dombret dan sopir partnernya, Pak Rian. Mungkin juga, karena setelah ini, Dombret yang bau karena jarang mandi itu, akan bisa berlama-lama berada di warung makannya.
“Sakjane malesi Dombret ki. Wis nduwe bojo kok seh genit. Dumeh aku rondho po piye[5],” Mbak Arum berbicara sendiri, tapi entah, seperti sengaja menyaringkan suara agar aku mendengar. “Dadi wong lanang sing setia yo Mas, ora setiap tikungan ada.”
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum mengangguk, walaupun tak tahu harus setia pada siapa. Mayu yang memantik semangat hidupku kurang dari 24 jam lalu, kini lenyap tanpa jejak. Kucari kemana-mana, jejak namanya sekalipun tidak bersisa.
Saat Dombret dan Pak Rian pethakilan mendatangi warung makan dan menyapa Mbak Arum dengan guyonan tidak sopan, entah mengapa aku ingin bertahan. Bahkan, aku yang selama setengah jam sebelumnya cuma diam menyantap gorengan, tiba-tiba saja mengeluarkan suara, lebih keras daripada yang seharusnya.
“Mbak, ada minuman dingin?" tanyaku. Mbak Arum kaget tidak menduga pertanyaan itu, tapi lalu bertanya balik dengan nada yang jauh lebih lembut, "Mau apa, Mas? Frestea? Sosro?"
"Ah, Frestea, Mbak. Rasa seadanya saja. Eh, pernah dengar bus jalur 13?”