Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi

Fitra Firdaus Aden
Chapter #4

di Antara Mantra dan Umpatan Sia-Sia

Titik yang Sama, Yogyakarta 2010

 

Mayu dalam bahaya!

Entah dari mana datangnya, kalimat tersebut menghantam pikiranku. Perih yang aneh menyebar di dada, meluas jadi tak terhingga. Perih yang sama persis saat melihat name-tag mbak penjaga halte Mangkubumi itu.

Apa yang terjadi padamu, Mayu? Aku harus bagaimana?

Aku sudah melompat turun bahkan sebelum bus Pak Rian benar-benar berhenti sempurna. Aku sudah tiba di depan lokasi yang semalam adalah halte portabel dengan rambu tanda pemberhentian bus. Tapi, mau mengucek mata berapa kali pun, di depanku tidak ada apa-apa. Kosong. Hotel di sebelah kiri itu juga berwarna biru, tidak coklat seperti kemarin itu.

Kamu harus menyelamatkannya, Ide.

Eh, suara itu? Suara itu kan suara mbak petugas halte itu? Bagaimana bisa? Apakah halusinasiku sudah semakin menggila? Kenapa harus suara dia? Bukankah, seperti katanya sendiri, dia tidak mengenalku?

Ah, Tuhan .... jika kau memang ada, pertemukan aku dengan Mayu. Sekali saja! Sekali lagi!

----o0O0o----

 

Titik yang Sama, Yogyakarta 2026

 

DUM! DUM!

TRET, TET, TREEET!

Marching band itu, yang disebut Mbah Nuklir sebagai parade kematian itu, makin mendekatiku. Muka-muka mereka, suara menguik yang mengotori udara, dan air liur yang menetes tanpa henti itu ....

Aku harus pergi! Aku tidak mau terjebak di sini!

Uh! Kakiku? Kenapa kakiku tidak bisa diangkat? Kucoba sekuat tenaga, tapi tak bergerak juga. Aku menoleh pada Mbah Nuklir, dan dia tersenyum sembari komat-kamit, seolah mantra tidak jelas yang diucapkannya itu adalah yang menahan kakiku. Sial! Sial sekali! Ini lebih buruk daripada mimpi terburuk!

DUM DUM DUM!

 

TIIIIIIIIIIIIIIIN!

Sebuah klakson yang memekakkan telinga merobek malam. Bus kuning-hijau bernomor 13 melesat, membelah kerumunan parade, melindas beberapa pemusik tanpa ampun. Mbah Nuklir mendesis kencang.

"Asu! Bajingan! Oh sori, saya berkata kotor," katanya menepok jidat.

 

Entah apakah karena konsentrasi Mbah Nuklir terpecah, ataukah karena mantranya tidak boleh diselingi ucapan kotor, kakiku bisa bergerak kembali. Saat itulah bus jalur 13 itu berhenti. Pintu hidroliknya terbuka di depan hidungku.

 

Ndhuk, cepet munggah[1]!”

Eh, suara itu? Kulihat Pak Rian berteriak dari kursi sopir. Seorang pramugara yang menggunakan topi dan masker mengulurkan tangannya kepadaku. Langsung saja kuraih, sembari meloncat masuk. Ada hangat yang asing, yang sulit kujelaskan.

"Pintu Pak!" teriaknya, yang membuatku sadar, petugas ini bukan laki-laki, tetapi perempuan. Pak Rian memencet tombol, dan pintu bergerak lebih cepat daripada Mbah Nuklir yang hendak menerobos. Kepalanya menghantam kaca pintu, dan bapak tua bercaping itu terlontar jatuh ke aspal.

"Malam ini aku bukan sopir Trans Jogja. Aku sopir bus jalur 15!" Pak Rian, seperti berbicara sendiri, tancap gas. Alat speed limiter yang tertancap di dekat speedometer meraung, tapi Pak Rian tidak peduli.

Bus jalur 13 ini melesat secepat angin. Di dalamnya hanya ada aku, pramugari, Pak Rian, dan seorang bocah dengan badan anak SD yang sibuk memainkan miniatur bus di kursi belakang.

 

"Kamu nggak apa-apa, Mayu?"

Pramugari itu membuka topi dan maskernya. Eh ... dia cantik, sangat cantik. Rambutnya yang mulai beruban dan sedikit kerut di dahi justru membuatnya berwibawa. Tahi lalat di dagu kirinya ... hanya berbeda letak dari punyaku. Wajah kami berdua ....

Lihat selengkapnya