Titik yang Melebur Jadi Satu, Yogyakarta 2010
"Eh ..."
Perempuan itu seperti terdorong sesuatu dari belakang, berjalan terbungkuk-bungkuk, dengan rambut kusut dan wajah penuh keringat. Mata kami saling bertumbukan, dan dari dalam dada ini terembus napas lega.
"Mayu? Mayu kan? Kamu baik-baik saja?"
"Eeh ... Mas Ide?"
Matanya berkaca-kaca. Mataku juga. Bahkan, seperti saat pertemuan pertama di bus jalur 13 itu, air mataku mengalir begitu saja, membasahi pipi. Rasanya damai menemukannya. Tenang yang tidak ada penjelasannya.
Dia terengah-engah. Terlihat lelah. Buru-buru kuambil botol minuman teh siap minum dari dalam tas. Botol yang kubeli dari angkringan Mbak Arum tadi. Untung belum kucicipi barang sedikit pun. Kuputar tutupnya, "Duduk dulu. Minum dulu. Tenangkan dirimu."
"Eeeh ..." dia menerimanya ragu, tapi lantas duduk di trotoar, menenggak minuman itu pelan-pelan sembari menatapku. Sungguh, jika kami sudah saling mengenal lebih lama, mungkin aku akan memeluknya. Bukan pelukan seorang lelaki untuk perempuan. Pelukan lain ... pelukan hangat yang sama sekali berbeda.
Ah, tahi lalat di dagunya itu, memang benar di sisi kanan. Bukan kiri.
Mayu membulatkan mata sambil menghentikan minumnya, "Eh, Mas? Kenapa? Ada yang salah dari wajahku?"
"Ah, nggak. Tadi siang aku bertemu mbak petugas halte yang wajahnya sama persis denganmu. Bedanya, tahi lalatnya di dagu kiri. Terus ..."
Aku tidak melanjutkan kalimat. Wajah Mayu memucat. Lalu, tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram lenganku kuat-kuat. "Maaaas, mbak itu tadi menolongku! Dia berkorban buatku! Dia dibunuh Mbah Nuklir. Pak Dulrohman dan Pak Rian juga! Semuanya dilenyapkan, Maaas!"
Aku hendak menenangkannya. Aku berniat menjelaskan, Pak Dulrohman baik-baik saja. Cuma, kalau siang dia agak brutal saja, tidak islami seperti saat malam. Aku juga mau berkata, mbak petugas itu pun aman saja. Siang tadi dia masih berjaga di halte. Tapi, cengkeraman kuat Mayu itu, wajah pucatnya itu, dan bibirnya yang bergetar hebat itu .... dia terisak, dia tidak kuat lagi. Kuberikan dada ini, yang tak pernah dimiliki siapa pun sebelum ini, untuk dipeluknya. Kuberikan sepenuhnya sembari menepuk-nepuk punggungnya. Jika ada orang yang melihat, mungkin kami bagai sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Bukan, aku memang merasakan hangatnya cinta. Tapi, bukan cinta yang pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan ini ingin melindungi Mayu selama mungkin. Selama-lamanya ....
Saat isaknya sudah mereda, dan pelukannya melonggar, kupegang lengannya. "Mayu, dengar. Jangan menunduk lagi. Tengadahkan wajahmu. Dengarkan aku."
Dia mengikuti semua permintaanku, menggigit bibirnya agar tidak bergetar lagi.
"Aku tadi mencarimu di FIB Universitas Ahmad Dahlan. Tapi, kamu tidak ada di sana."
"Eh ... aku seharian di kampus."
Mata kami sama-sama membulat.
"Eh, aku juga mencari nama Mas Ide di internet. Tapi, nggak ada sama sekali. Terus, Penerbit Diandra yang jadi tempat Mas Ide bekerja itu, sudah tutup tahun 2012."
Ah ....
"Tunggu, kamu bilang tutup tahun 2012?"
"Eh, iya," dia membuka ponsel layar datarnya itu, lalu menggulir dengan tangan, masih sesekali terisak, "sebentar. Aku cek dulu. Siapa tahu salah. Tahun 2012 atau 2013 ya? Eh, hapeku tidak berfungsi. Aneh sekali."
"Mayu, ini tahun berapa?"
"2026. Sebentar lagi Piala Dunia di Amerika Serikat ..." dia melacak mataku, dan bibirnya berhenti sejenak. "Argentina yang dipimpin kapten Lionel Messi datang sebagai juara bertahan."
"Ini tahun 2010 .... Argentina baru saja dihancurkan Jerman 4-0 di perempat final." Kulihat bibirnya yang menganga lebar. "Lionel Messi, bersama Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo dianggap sebagai bintang yang tidak bisa mengangkat negara mereka di Afrika Selatan."
Kami ... datang dari waktu yang berbeda?
Ah, itulah penyebabnya! Itulah alasan semua kejanggalan ini! Aku bangun dan mengulurkan tangan kepadanya, "Ayo, Mayu. Tampaknya kita harus menyelesaikan banyak hal."
"Eh, kemana Mas?" dia menyambut tangan ini.
"Kamu cukup kuat untuk berjalan kaki? Sekitar 300 meter di sebelah sana, ada warung burjo. Isi perutmu, lalu ceritakan semua yang kamu alami sepanjang hari ini."
Mayu mengangguk, lalu kami melangkah pergi tanpa melihat ke belakang lagi ....
---o0O0o---
Aku tak bisa tidak mencintaimu,