Sebuah Titik Kecil di Yogyakarta - Kalawaktu Segalanya Bermula, April 2003
"Ide, ini beneran."
Abrit yang dari kamar mandi, menghampiriku yang masih berkutat dengan naskah sepagi buta ini. Wajahnya tidak sepi seperti biasa, ada semu merah di pipi, dan senyum mekar dengan indahnya. Kedua tangannya disembunyikan di belakang. Ada apa?
Saat dia menggerakkan kepala ke kanan, sembari menunjukkan sesuatu di tangan, barulah kusadari. "Eeeh .... beneran Abrit? Alhamdulillah!"
"Terima kasih," dia menyodorkan test pack bergaris dua itu. "Mulai hari ini, kamu menjadi ayah. Jaga aku dan bayi ini, ya."
"Pasti, pasti, Abrit. Kita sudah melewati yang lebih berat daripada ini. Sekarang, jalannya sudah lebih mudah lagi. Kamu punya nama untuk jagoan kecil ini?"
"Mayu. Mayoansa Ruby. Karena dia adalah mirah delima buat kita. Bagaimana menurutmu? Hm?"
Aku tertawa, mencium keningnya. "Soal nama, kamu yang lebih ahli. Ah, oke. Ibunya Mayu, sejak hari ini jaga dirimu baik-baik ya. Jangan sampai kelelahan, dan harus semangat selalu."
Abrit memejamkan mata. Ah, seandainya dia lebih sering tersenyum seperti ini, alangkah indah dunia. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin terus membuat senyumnya bertahan lebih lama. Aku ingin tiada lagi yang menyakiti hatinya.
Mudahkanlah jalan kami, Tuhan ... kumohon.
---o0O0o----
"Bapak, Mas Ide mau bicara sebentar. Boleh?" Abrit yang baru saja mengabarkan kehamilannya lewat telepon, menoleh padaku. Kaki ini beranjak sedikit. Nada bicara ayah mertuaku tadi begitu ceria mendengar dia akan punya cucu. Mayu akan menjadi cucu pertama di keluarga Abrit. Kakak ipar kami yang mengalami sebuah penyakit, sudah tujuh tahun menunggu anak. Selain itu ...
"Bapak tutup telepon saja ya, Brit. Jaga anakmu baik-baik. Kalau butuh apa-apa, bilang."
Ah, sakit itu datang kembali. Sakit yang kami kira bisa pudar oleh waktu.
"Sebentar saja boleh?"
"Abrit, Bapak nggak mau dengar suara suamimu itu! Kamu ... kamu tahu kan, dia itu ... Bapak belum memaafkan dia! Gara-gara dia kan, ibumu meninggal? Mbak Lembayung juga keguguran. Setelah kalian menikah, kenapa keluarga kita jadi selalu sial?!"
"Bapak ...." mata Abrit berkaca-kaca. Aku maju, mengusap bahunya dengan luka hati ini yang tak tertahan lagi. Apa salah waktu lahirku? Jika memang aku boleh mengulang lahir pada waktu tertentu, akan kulakukan untuk Abrit.
"Bapak, itu bukan salah Mas Ide! Kenapa Bapak percaya yang seperti itu?!" Abrit yang sebelum menikah denganku tak pernah marah, kini meninggikan suara. Pada saat yang sama, robekan lukaku jauh lebih menganga. Seandainya ...
"Kamu dengar sendiri petuah Mbah Isrofil kan? Dari awal kalian itu nggak cocok! Dia salah buat kamu!"
Ah, Pak tua berkulit albino itu lagi. Pak tua bungkuk yang kemanapun membawa tongkat kayu. Tetua kampung yang dihormati keluarga Abrit. Sosok yang saat pertama kali kuajak salaman saat lamaran Abrit, langsung mencelos tak suka.
"Lusan kan?" katanya kepada ayah mertua.
Belakangan kuketahui, lusan adalah telu dan pisan. Abrit anak ketiga, aku anak pertama dan satu-satunya.
"Lahirnya pagi, kalau bertemu yang lahir senja, rezekinya seret. Akan ada yang meninggal. Pekerjaannya apa?"