Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi

Fitra Firdaus Aden
Chapter #7

Laki-laki yang Menghilang di Tengah Parade

Titik ketika Pagi dan Malam Bersatu – Yogyakarta, 2010

 

"Punten, A', ribut-ribut kenapa ya?" mas penjual burjo dengan jersey Barcelona menyela.

"Lho Mas, kowe ora ndelok po neng ngarep kuwi? Setan! Iblis[1]!" Dombret panik menyaksikan Mbah Nuklir bangun dari duduknya, berdiri dengan angkuhnya. "Lungo! Lungoo kono! Kemropok sikilku! Duh Gusti, nyuwun pangapunten! Menawi slamet saking setan menika, kulo bakal rajin maos Qur'an![2]"

 

Mbah Nuklir menggerakkan mulutnya, berkomat-kamit entah untuk apa.

"Dia akan membaca mantra!" Mayu mendesis. "Sebentar lagi akan ada marching band parade kematian! Cepat, kita harus pergi!"

“Opo meneh kuwiiii?” Dombret bergidik ngeri.

Aku buru-buru mengulurkan lembaran I Gusti Ngurah Rai kepada mas penjual burjo. "Ini Mas, buat bayar mi tadi. Ingat kata-kataku ini, Messi akan juara Piala Dunia tahun 2026. Pegang itu buat taruhan nanti!"

"Eh? Kapan A’? 2026?”

Saat kami membalikkan badan untuk pergi, terdengar suaranya di belakang, “Eh, A'! Ini uangnya kebanyakan!”

Aku tak peduli. Tidak ada waktu lagi.

 

DUM!

Ah, dentuman itu! Dentuman yang sama dengan kemarin senja! Kami terhenti beberapa langkah dari warung burjo. Mayu tidak bicara apa-apa, tapi wajah kuyunya memucat. Cara jalannya lebih gontai. Inikah yang dia maksud? Inikah marching band parade kematian itu?

DUM! DUM! DUM!

Dentuman yang lebih besar mengguncang kami. Tiga gumpalan hitam pekat melesat dari langit, menghunjam bangunan di belakang sana. Tidak menciptakan ledakan apa-apa, tetapi kepulan asap tebal membubung, mengangkasa, melebar, dan melesat ke arah kami dengan kecepatan tidak terkira. Lampu-lampu kota yang dilewati olehnya, padam seketika.

 

DUM! DUM! DUM!

TREEET, TRET TRET, TREEEEEET!

Wajah Mayu makin memutih. Inikah yang kau dengar tadi, gadis kecil? Marching band yang hendak mencabut nyawamu? Bunyi-bunyian menyayat hati memekakkan telinga. Instrumen tiup, perkusi, dan pit beradu, saling bertabrakan di udara. Setiap kali bass drum berdentum, setiap kali itu pula jantungku bagai membrannya yang dihantamnya sekuat tenaga. Setiap kali xilofon berdenting, setiap kali itu pula hatiku dijepit dingin yang beku.

 

 

Mbah Nuklir terus saja menggumamkan mantranya. Pak Rian hilang entah kemana. Ketika asap hitam itu semakin menyeruak, bunyi-bunyi itu berhenti. Musik hilang seperti tidak pernah ada sebelumnya. Senyap. Lenyap ... Mbah Nuklir membuka matanya, dan lengkingan-lengkingan panjang memecah udara.

 

HEIIIIIIIK-KKHHHH! HEIIIIIIK-KHHHH!! HEIIIIIKH-GHHHHHK!!!

 

Lengkingan lain meruyak jiwa, bersahut-sahutan dalam gelap yang meraja. Bagaikan lengkingan babi yang bergantian digorok oleh tukang jagal. Lengkingan menyambut kematian. Parau, basah, pekat, dan melekat kuat di telinga.

"M-mereka lebih banyak daripada yang tadi," Mayu memeluk lenganku erat-erat.

 

Di depan sana, marching band parade kematian memunculkan wajah sebenarnya. Puluhan, ah bukan, ratusan manusia berkepala babi, berbaris rapi, membunyikan terompet, meniup tuba, menghentak snare. Moncong-moncong merah muda para babi itu menggembung-kempis basah, mengeluarkan uap demi uap. Mulut mereka menganga, penuh air liur yang menetesi jalan. Liur yang kala mendarat di aspal, bagai racun korosif yang mencipta lubang, menebar aroma yang lebih menusuk hidung daripada kotoran yang menumpuk di kandang.

 

"Sori, Mikhail tidak ada di sini. Saya aman mau berbuat apa saja,” Mbah Nuklir menyeringai. Lampu LED yang menggantung di lehernya tegak dan membenderang. “Jadi, tamatlah riwayat sampeyan semuanya!"

 

HEIIIIIIIK-KKHHHH! HEIIIIIIK-KHHHHHH!! HEIIIIIKH-GHHHHHK!!!

 

BRUAKKKKKK!

"Modyaro setan iblis! Setan ra bakal menang lawan menungso[3]!"

 

Lihat selengkapnya