Dalam diriku, kau saksikan senja dari sebuah hari,
Sebagaimana cahaya yang memudar di ufuk barat selepas matari terbenam,
Yang perlahan diambil alih pekatnya malam,
Kembaran sang maut, yang menyegel segalanya dalam istirahat.
"Terbit Ide Cemerlang, ayah Mayoansa Ruby."
Aku ... ayah Mayu? Gadis yang berasal dari masa depan itu anakku?
Dia ... tidak tahan menyantap mi jika diberi bubuk cabai. Dia juga memilih susu Milo hangat. Di antara semua orang yang kutemui sepanjang dua hari ini, dia satu-satunya yang bisa melihat Mbah Nuklir sejak awal ....
Jadi, air mata yang tiba-tiba mengalir saat melihatnya, ternyata ... perasaan asing merasa sudah mengenalnya jauh-jauh hari itu .... keinginan memeluknya, dan menjaganya dari Mbah Nuklir itu ...
Kamu hanya bisa memilih salah satu, Ide.
Hidupmu atau hidupnya?
Kenapa? Kenapa aku tidak memperhatikan tanda-tanda itu sejak awal? Kenapa kami harus bertemu dengan cara seperti ini? Apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupku? Apa yang dialaminya setelah aku bunuh diri dua belas tahun lalu?
Kenapa aku tega meninggalkannya waktu itu?!
Kenapa aku semenjijikkan itu?!
Kulihat gadis itu, yang kini lemah lunglai, terduduk di trotoar dengan tatapan hampa. Sakit yang tadinya hanya satu titik di hati ini, jadi melebar kemana-mana; membentuk lingkaran yang seolah siap untuk menelanku dalam sekejap.
DUM! DU-DU-DUM! DUM! DU-DU-DU-DU-DUM!
TREEET, TET, TET, TREEET! TREEET, TET, TET, TEEEET!