Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi

Fitra Firdaus Aden
Chapter #9

Sori Mas, Punya Mancis atau Rek Jres?

"Seumur hidup, aku nggak pernah tahu siapa ayah dan ibuku! Mbak Arum yang mengasuhku nggak pernah menjawab apa-apa saat kutanya! Dia selalu bilang, ayah dan ibuku menyayangiku dari jauh. Jauh? Jauh yang seperti apa? Jauh yang hanya bisa dilewati oleh kematian?"

Mayu memukul dadaku sekuat tenaga. Lalu, pukulan kedua, ketiga, dan selanjutnya terjadi dengan selemah-lemahnya pukulan, hingga tiada lagi yang tersisa. Pertahanannya runtuh. Dia menutup muka, menjerit sekeras-kerasnya, dan menangis sesenggukan. Aku ... aku ingin sekali memeluknya tapi tak bisa.

"Apa kamu tidak tahu sakitnya? Aku punya kenangan masa kecil pernah disayang seorang ayah yang luar biasa, tapi tidak ingat apa pun tentang namanya. Tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya! Orang-orang di sekitarku juga. Seolah ada yang sengaja menghapusnya. Seolah aku tidak berhak untuk punya memori seperti anak-anak lainnya! Kenapa? Kenapa aku harus mengalaminya?!"

 

Mayu, maafkan aku .... sebodoh itukah aku dulu? Sesampah itukah aku sehingga sengaja meninggalkanmu? Manusia macam apakah aku?!

 

"Sori Mas Ide, sampeyan yang sekarang memang sudah melupakannya. Tapi, memang itulah perjanjiannya," Mbah Nuklir terkekeh-kekeh. "Sampeyan menyerahkan api jiwa yang menyala-nyala, dan satu permintaan paling utama akan saya acc dengan riang gembira. Saya stempel dan saya kirimkan suratnya kepada Tuan Iblis yang Maha Mulia. Saya punya salinannya kalau sampeyan mau legalisir atau tidak percaya."

Mbah Nuklir sekali lagi terkekeh melihatku yang sudah jadi ampas. Dia menghisap rokok dalam satu tarikan napas, dan mengembuskannya seperti ingin menyebarkan ke seisi dunia. "Oooh, perjalanan yang sangat panjang. Saya mengumpulkan api jiwa di mana-mana. Di Asia, Amerika, juga Afrika. Dari orang-orang putus asa, dari orang yang hidupnya sudah tidak berharga. Saya selalu berkata kepada mereka, "Sori Mas. Punya mancis atau rek jres?"."

 

Jadi, maksud kalimatnya waktu itu

adalah niat merenggut jiwaku?

 

"Kemari saja Mas Ide, masuk ke parade kematian yang menjemput sampeyan. Bergabunglah dengan kami, pasukan manusia berkepala babi yang luar biasa! Sampeyan tidak mendengar indahnya Marche Funebre yang sempurna itu? Pasukan saya tidak lagi mengenal putus asa dan luka. Pasukan saya yang sudah habis api jiwanya ..." Mbah Nuklir merentangkan kedua tangan sepanjang-panjangnya, "tidak lagi mengenal penderitaan tanpa akhir umat manusia! Hu hu hu hu, hu hu hu hu!"

Dia tertawa begitu syahdu, hingga kami tak tahu, itu berasal dari bahagia atau perih luka yang bertumpuk-tumpuk dari sekian tahun lalu.

 

Lihat selengkapnya