Sebuah Titik Kecil di Yogyakarta - Kalawaktu Segalanya Bermula, akhir Desember 2013
Betapa indah hari-hari bersamamu itu ....
Tapi, mungkin takdir memang berjalan seperti itu.
Kebahagiaaan tidak pernah berjodoh denganku.
Kuterobos rintik gerimis sore menjelang senja itu, menjemput Mayu yang sudah terlalu lama menunggu.
Aku terlambat. Wawancara dengan klien yang ingin kisah hidupnya dinovelkan, jauh lebih lama daripada yang dibayangkan. Ia terlalu banyak membual tentang kesuksesan, meminta kisah-kisah sedihnya ditambah agar lebih wah dan menginspirasi banyak orang.
Kuabaikan pembicaraan yang bernilai belasan juta itu. Di ujung sana, Di pintu depan TPA yang sudah tertutup, Mayu sudah cemberut berkacak pinggang. Di sebelahnya, ada Bu Arum, pengajar TPA baru. Kabarnya, dulu dia pernah lama berjualan di sekitaran tempat ngetem bus saat Jalur 15 masih menjadi raja jalanan yang tak terkalahkan.
"Ayah lama sekali sih!" keluh Mayu.
"Maaf, maaf," aku tertawa, mengusap jilbabnya dengan jemari tangan yang sedikit basah oleh gerimis. "Tadi, bapak yang diwawancarai ayah ngobrolnya panjang lebar sekali. Sulit berhenti."
Badan ini membungkuk takzim kepada Bu Arum yang berdiri dengan sabar. "Maaf ya, Bu, sering sekali saya merepotkan Ibu sampai jam segini."
"Nggak apa-apa, Pak Ide. Sekalian saya menunggu dijemput suami. Dia masih terjebak macet di dekat pertigaan Bantulan," jawabnya ramah. Entah ini sudah kali keberapa dia menemani Mayu menungguku.
"Harusnya ayah bilang dong kalau harus jemput anak di TPA," Mayu mendengus kesal. Tangannya menggenggam ujung jaketku. "Eh, tapi Ayah tahu tidak? Aku sudah mau naik ke jilid enam. Sebentar lagi aku bisa baca Al-Qur'an besar, bukan iqro lagi."
Kami mengobrol sejenak di bawah emperan TPA, berbasa-basi ala kadarnya. Aku tidak enak meninggalkan Bu Arum begitu saja. Dia bercerita tentang sang suami yang belakangan semakin sulit mendapatkan penumpang. Bu Arum juga menuturkan, selain mengajar di TPA, dia juga membantu mengurus panti asuhan Mataram College.
Saat Pak Jaya datang dengan motor Honda Astrea 800-nya, Aku berpamitan. Pasangan itu sempat menawarkan payung untuk kami berdua. Namun, Mayu menolak dengan lembut.
"Tidak usah, Bu Arum. Mayu ingin hujan-hujanan sedikit dengan Ayah. Biar nanti Ayah membuatkan susu hangat kesukaanku di rumah," katanya sambil nyengir.
Gerimis memang tidak menderas, tapi juga tidak mau reda. Ia seperti ingin memastikan bapak dan anak ini mandi air panas sampai rumah nanti.
Di tikungan sebelum mencapai kontrakan, aku melihat bangunan pos ronda yang biasanya kosong. Namun, kali ini ada yang mengganggu pandangan. Di dalam pos ronda itu, duduk seorang anak laki-laki, mungkin seusia Mayu, mengenakan kaus biru yang warnanya terlalu mencolok.
Bocah itu bermain sebuah miniatur bus berwarna biru tua sendirian. Dengan lincah, jemarinya menggerakkan bus itu melewati lantai semen yang retak, menirukan bunyi deru mesin keras-keras. Warna bus itu mirip bus Jalur 15 yang belakangan semakin jarang kulihat di jalanan Yogya ....
"Om, ada yang bisa kubantu?"
Langkahku terhenti seketika saat bocah itu mendongak. Ia tidak menatap Mayu, ia menatapku tepat di mata. Senyumnya mekar dengan sangat indah. Seharusnya, senyum seperti itu menenangkan. Tapi, entah kenapa, justru bulu-bulu di leherku meremang. Rasanya seperti ada udara dingin yang diembuskan tepat di tengkuk ini.
"Ayah? Kenapa berhenti?" tanya Mayu bingung.
Aku hanya melambaikan tangan dengan kaku kepada bocah itu dan kembali melangkah, sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
"Kalau ada apa-apa, aku bisa bantu! Aku punya banyak bus untuk mengantarmu!"
Teriakan bocah itu dari belakang sana, justru membuat semakin tidak tenang. Sejak kejadian yang waktu itu, aku tak pernah lagi melihat hantu atau yang sejenis. Ah, lebih baik mulai besok dan seterusnya, aku memutar jalan lebih jauh saat antar-jemput Mayu ke TPA.
---o0O0o---
Sebuah Titik Hujan - Kalawaktu Segalanya Bermula, Awal Januari 2014
"Hujan deras sekali ya, Yah?" kata Mayu lemah. Tangannya kugandeng melewati lintasan bus luar kota Terminal Giwangan.
"Iya, makanya kita harus cepat-cepat. Lewat lorong atas saja Mayu," kataku.
Seperti ucapan gadis kecil kesayanganku, di luar sana, hujan angin menyambut kedatangan kami kembali sekembalinya dari takziah. Mendung kelam yang memenuhi langit Yogya, membuat siang sekalipun tampak begitu muram.Kami baru saja pulang dari takziah di kota seberang.
Kakek Mayu, ayah Abrit, meninggal. Lebih tepatnya, ditemukan tidak bernyawa sebulan setelah menghilang dari rumah. Dalam bulan-bulan terakhir, ayah mertua kabarnya sering linglung, berjalan jauh, tersesat, dan tidak tahu arah pulang. Ia pernah ditemukan di terminal, halte bus, pom bensin, dan tempat ganjil lain. Ia selalu ingin naik bus, tapi tak pernah menyebutkan jika ditanyakan hendak kemana.
"Jakarta Pak? Bandung?"
Beberapa agen bus menyapaku ramah saat kami melewati lorong menuju sisi barat, tempat bus-bus kota yang semakin langka. Beberapa kios masih buka, beberapa lainnya sudah lama lenyap tanpa jejak apa-apa. Aku hanya menggeleng sambil melambaikan tangan tanda menolak halus. Sementara Mayu, terus saja bertanya, "Eh, Ayah, kapan kita ke Jakarta? Temanku bilang Dufan itu seru. Apalagi Ancol. Aku juga mau ke Bandung! Ke Bosscha!"
Aku tertawa kecil, "Kapan-kapan, kalau kamu sudah 10 tahun ya?"
Sudah setahun terakhir ayah mertua dia tidak datang ke Yogya. Setelah Abrit meninggal, dia beberapa kali menjenguk Mayu. Selalu tidak di rumah, tetapi di sekolah. Saat aku menjemput, Mayu sudah tidak ada, dan gurunya berkata dijemput kakeknya. Sore harinya, Mayu akan pulang dengan membawa amplop coklat dan setoples permen. Aku bersyukur ayah mertua masih peduli dengan cucunya, dan uang pemberiannya tak pernah kugunakan, barang seribu rupiah pun. Kucampur dengan sisa penghasilanku, untuk tabungan Mayu hari depan.
"Ayah, kita naik jalur 15?" kata Mayu bersemangat.
"Iya, satu-satunya yang sampai rumah kan bus itu. Yah, semoga sesore ini masih ada sih," jawabku ragu memandang sekitar.
"Asyiiik, aku suka warna birunya, Yah. Biru tua. Kayak bajunya Ibu yang ada di foto!"
Di ujung lorong, sebuah kios agen bus terbuka setengahnya saja. Tidak ada orang di sana. Entah kenapa, aku merasa tidak beres dengan itu. Buru-buru kutarik tangan Mayu, sengaja mempercepat langkah melewatinya. Sebuah tangan kecil muncul dari celah bawah kios itu, tangan yang memainkan bus biru zig-zag di atas keramik putih. Anak kecil yang waktu itu, yang di pos ronda itu, melongokkan kepala menatapku. Dia tersenyum manis, tapi leherku mendingin.
"Aku punya tiket gratis ke tujuanmu lho, Om. Mau?"
Aku mengabaikannya, menarik tangan Mayu sehingga dia berjalan agak terseret. Dia menoleh ke bocah tadi. "Ayah, siapa itu? Ayah kenal?"
"Jangan sampai tersesat, Om!" teriak bocah itu, yang membuatku yakin tidak akan mau berpaling ke belakang. Tangan ini gemetar tanpa sebab. Kami harus pulang cepat-cepat. Aku punya firasat buruk, jika di sini sedikit lebih lama, Mayu akan .....