Titik Akhir di Kalawaktu Semuanya Bermula - April 2014
Kuabaikan bocah kecil yang tangan kirinya memegang miniatur bus itu. Bahkan meski tangannya menarik-narik bajuku, seperti hendak menghentikanku berbelok ke tikungan rumah Mbah Isrofil sialan itu. Kutepis tangannya, lalu berjalan sekuat tenaga. Bocah itu berusaha mengejar, tapi yang kudengar cuma teriakannya saja.
"Om, jangan ke situ! Om, aku bisa bantu! Naik dulu busku!"
Aku tidak mau naik bus apa pun, bocah!
Aku mau buat perhitungan dengan Mbah Isrofil alias Mbah Nuklir!
----o0O0o---
"Mana janjimu itu?! Bukannya menghidupkan Abrit, kamu justru sekalian membunuh Mayu!"
Mbah Nuklir tenang saja menelan hardikanku. Dia bergeming, tidak jerih, tidak juga layu. Dilepasnya asap rokok itu ke samping, seolah tidak peduli dengan kedatanganku.
"Kau bilang datang lagi ke sini sepuluh tahun lagi! Aku bersabar, menahan detik demi detik, menit demi menit, tahun demi tahun, sampai sekarang ini! Tapi, apa yang terjadi?! Istriku yang sudah mati tidak kembali! Malah anakk yang sekarang pergi! Kamu ini! Apa sebenarnya niatanmu?!"
Mbah Nuklir terkekeh kecil, "Sori Mas Ide, sampeyan terlalu tinggi berekspektasi. Takdir itu tidak pernah bekerja sesuai keinginan manusia. Selalu ada luka, selalu ada air mata."
"Kamu sengaja menjebakku, kan? Kamu sudah mengambil Abrit dariku, sekarang kau juga rampas Mayu! Kau iblis!"
"Hu hu hu hu, terima kasih pujiannya Mas Ide. Sampeyan benar. Saya ini bagian dari iblis. Saya staf administrasi Tuan Iblis. Saya anggota kehormatan. Sebutkan segala macam keburukan dalam pikiran sampeyan, Mas Ide. Semuanya ada pada saya. Hu hu hu hu hu ..." dia memandangku, "Hu hu hu hu, menyedihkan, bukan? Menyedihkan bukan, jadi manusia yang punya keinginan dan harapan?"
Makhluk ini benar-benar memuakkan!
"Sepuluh tahun lalu, sampeyan belum sekotor ini. Sepuluh tahun lalu, api jiwa sampeyan masih ada yang sisa. Tapi, sekarang? U hu hu hu hu ... api jiwa sampeyan sudah binasa! Api jiwa sampeyan sudah jadi milik saya sepenuhnya. U hu hu hu, indahnya. Indahnya menyantap pisang yang sudah diperam sekian lama! U hu hu hu, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat manusia yang putus asa, lalu berkawan dengan saya sepenuhnya."
Apa maksudnya?!
Jadi, selama sepuluh tahun ini dia bukan memberiku waktu untuk menikmati bahagia bersama Mayu?! Jadi, sepuluh tahun ini, dii memberiku waktu untuk menggemukkan rasa sakitku sendiri, hingga berlipat ganda dan tidak ada ruang lagi untuk melawannya?!
Mbah Nuklir mendekat, menjangkau tubuhku. Ah, tidak! Dia ... dia memasukkan tangannya ke dalam dadaku, mengeluarkan sesuatu darinya dengan seringai yang lebih ngeri daripada sebelumnya,
"U hu hu hu, ini mancis sampeyan," Mbah Nuklir menarik lagi tangannya, menunjukkan ke mukaku. Sebuah korek gas bertabung warna merah darah pekat dipegangnya. Lalu, dipantiknya keras-keras dengan jempol hingga menyala api warna biru.
"Sudah sah, Mas Ide. Sesuai janji, saya akan buat dua semesta baru. Setelah ini, sampeyan akan pindah ke semesta baru pertama. Sampeyan tidak akan ingat Abrit, dan dia akan menjalani hari-hari baru. Setelah ini, Mayu akan lahir di semesta baru lainnya. Abrit juga tinggal di sana. Tapi, nama sampeyan? Sori, nama sampeyan tidak akan pernah ada di sana. Sempurna, Mas Ide. Ini dua semesta yag sangat sempurna."
Dinyalakannya rokok di tangan dengan mancis yang dia ambil dariku. Disesapnya dalam-dalam sambil memejamkan mata, seolah ini lebih nikmat daripada yang biasa. Lalu diembuskannya asap rokok itu ke depan wajahku.
"Sori, Mas Ide. Selamat tinggal."
Ah, apa yang terjadi padaku?! Tangan ini, jari ini, kenapa kaku?! Bibir ini, bibir ini tak bisa membuka suara, bisu! Mata ini, mataku ini bahkan tidak bisa dikedipkan, seolah membatu!
"Sekarang, agar ini semakin sempurna, dan tangan saya tidak kotor lagi, sampeyan akan kembali ke Jogja. Sampeyan akan menabrakkan diri ke sebuah bus. Bus yang akan melintas di Jalan Mangkubumi. U hu hu hu hu, sampeyan tidak bisa menolak, dan sampeyan tidak bisa berhenti. Saat semuanya terjadi, dua semesta baru itu akan sepenuhnya mewujud. U hu hu hu ..."
Sial! Sial! Sial sekali! Mana aku mau begitu! Ini tidak sesuai keinginanku! Tapi, badan ini berbalik. Sekuat apa pun hati ini menahan, badan ini berputar dan melangkah pergi dari rumah itu. Sekuat apa pun keinginanku berhenti, langkah ini terus maju dan tak bisa mundur lagi!
Sial! Sial! Kenapa harus begini? Kenapa harus berakhir seperti ini?!
Abrit, Mayu, kalian mendengarku?!
Abrit, Mayu, aku tak bermaksud menyakiti kalian lagi!
Abrit, Mayu ... maafkan aku .....
Abrit ... tolong aku!
Saat tubuh yang sudah seperti mayat hidup ini mendekati pagar, terdengar bunyi ringtone Mozart 40. Suara berat Mbah Nuklir terdengar di belakang sana. "Nggih, sendika dhawuh Gusti. Dados, siose Abrit tetep kemutan Ide kalihan Mayu? Tapi, Ide kalihan Mayu rak tetap kesupen dhumateng Abrit? Oh, nggih. Oh, khusus jagad anyar ingkang sepisan? Ingkang kaping kalih? Oh, ingkang jagad anyar kaping kalih, kesupen sedanten? Nggih, nggih, sendika dhawuh. Matur nuwun Gusti[1]."
---o0O0o---
Titik Terakhir di Semesta Baru Pertama - 2010