Titik Lain di Semesta Baru Kedua - 2026
Kau ingin sesuatu yang lebih cerah dari langit musim panas
Lebih putih dari cahaya bulan di malam musim dingin
Lebih dalam dari palung samudera,
Lantas, bagaimana jika semua mimpimu jadi nyata?
"Les Adultes Terribles" - Sheena Ringo
Entah sejak kapan, perasaan itu menetap di dalam sini. Perasaan bahwa di dunia ini ada seseorang yang menemani. Bahkan, meski kenyataannya sejak kecil diri ini hidup sendiri.
Sejak SMA, aku tinggal di kota ini, melihat bagaimana dia berganti rupa dalam ramai dan sepi. Dulu, saat masih kuliah, kusaksikan sendiri bus kota berusia tua dan asap hitam-kelam, susul-menyusul, saling serobot di jalan-jalan ini. Tapi, sekarang, bus-bus itu lenyap tak punya jejak tersisa lagi. Seolah-olah mereka tidak pernah melintas, seakan hidupnya yang belasan tahun di kota ini, tak berpunya arti.
Dulu, saat SMA hingga kuliah, kemana-mana, aku selalu naik bus kota. Entah itu bus jalur 4, 12, atau 15. Tapi, sejak bekerja dan punya motor sendiri, keterikatanku dengan bus pudar tak berbekas. Bahkan, sekali pun, aku tak pernah naik Trans Jogja, yang tahun-tahun ini semakin banyak saja jumlahnya.
Perasaan ingin menetap di Jogja ini seakan abadi. Bisa jadi karena rangkaian kejadian yang menimpa keluargaku di kota sebelah. Setelah ibu meninggal, bapak menyusul. Kakak ipar juga begitu. Mungkin, karena alam bawah sadarku terluka oleh hal-hal itu, Jogja jadi tempatku untuk lari. Lari dan tidak akan kembali.
"Abrit, dengan bakat gambarmu itu, seharusnya jangan di Jogja saja. Berangkatlah ke Jakarta. Di sana kamu bisa masuk agensi. Namamu bisa tertera di credit film animasi!"
Ucapan teman dari sepuluh tahun lalu sesekali terngiang di telinga ini. Tapi, entah kenapa pula, aku tidak tertarik. Lebih baik tinggal di sini, membuka open comission gambar anime, membuka les gambar, mengajar ekstrakurikuler, dan apa pun yang bisa kulakukan dengan kedua tangan ini.
Kadang, aku merasa butuh bertemu sesuatu di kota ini. Kadang, aku merasa harus mencari seseorang yang nama atau wajahnya kukenali. Selama takdir itu belum kujumpai, selama itu pula Jogja akan kutinggali. Bahkan sampai saat ini, saat rambut ini mulai beruban dan usiaku sudah 46 tahun lebih.
Tapi, sebenarnya, di kota seluas ini, siapa yang harus kutemui?
---o0O0o---
"Eeee ... maaf Mbak, uangnya kebanyakan. Ada yang lebih kecil?" Bapak-bapak pramugara Trans Jogja berkacamata itu melihat lembaran uang bergambar Tari Pakarena dariku. Dia mengenakan topi layaknya Thomas Shelby di Peaky Blinders.
"Oh maaf Pak, nggak ada."
Hari ini untuk pertama kalinya seumur hidup aku naik Trans Jogja. Bukan karena apa-apa. Motor maticku mogok dan harus masuk bengkel. Sementara, aku ingin datang ke festival komik di JEC.
"Mbak ada QRIS? Jika tidak, bisa bayar di halte saat turun," bapak-bapak itu mengerutkan dahi, mengamatiku sejenak.
"Oh bisa pakai QRIS? Boleh Pak," kataku mengeluarkan ponsel. Dia menyodorkan alat pembayaran, dan dalam hitungan detik, kertas tiket meluncur keluar dari alat tersebut.
Bapak-bapak tadi masih melihatku beberapa saat, matanya menimang-nimang sesuatu, seolah diri ini adalah sosok asing yang aneh.
"Bus ini langsung ke JEC Pak?" tanyaku ragu.
"Eeee, tidak. Turun di Kridosono, Mbak. Nanti, dari sana, naik 1A sampai Taman Pintar. Selanjutnya, naik 1B," dia tersenyum ramah, "Eee, tidak perlu membayar lagi. Cukup tunjukkan tiket ini."
Oh ... transit tiga kali, tapi cuma bayar sekali? Aku mengangguk. "Terima kasih Pak."
Dia tersenyum lebih ramah, lalu berbalik ke arah depan, menoleh kepadaku lagi. Dia tampak mengobrolkan sesuatu dengan pak sopir yang mengenakan songkok hitam. Pak sopir terkejut sesaat.
Apa yang salah dari diri ini?
Saat itulah bus Trans Jogja yang sudah tua ini berhenti di depan Pasar Kranggan. Pak Pramugara membukakan pintu, dan beberapa ibu bakul naik.
"Wah, Mbak Arum seneng ki dipethuk bojone[1]," pak sopir, yang kumisnya tebal melintang, menyapa salah satu bakul dengan suaranya yang keras.
"Ha, nggih e Pak. Njajal dodolan dawet, sopo reti laris[2]."
"Pak Jay, digandeng no, bojone, ben romantis[3]. Wua ha ha ha," Pak sopir tertawa lagi. Aku tersenyum simpul. Tampaknya bu bakul yang disapa tadi adalah istri pak pramugara.
"Romantise nek neng omah, Pak. Saiki awan-awan wayahe kerjo[4]," bu bakul itu menimpali, lalu berpaling ke arah belakang sini. Matanya tertumbuk dengan mataku. Diri ini kikuk, harus bersikap bagaimana. Tapi, dia malah bengong. Tidak sesaat, beberapa saat lamanya ...
"Mayu ...." dia berucap. Pak sopir dan pak pramugara juga memandangku.
Mayu? Eh? Kenapa aku seperti kenal dengan nama itu? Seseorang yang sepertinya pernah ada di sebelahku dulu .... Eh, kenapa ini? Air mata? Air mata mengalir di pipiku begitu saja? Bagaimana bisa?
---o0O0o---
"Sebentar ya Mbak," Mbak Arum membolak-balik buku induk panti asuhan yang tebal itu. Tulisan tangan latin rapi di dalamnya, sebagian terlihat luntur. Tinta biru yang melekat di sana, sudah berubah menjadi ungu gelap di tepiannya. "Sebentar ... "
Aku mengangguk, lalu pandangan ini mengelilingi ruang tamu panti. Kami duduk di kursi kayu yang melingkari meja bundar empat kaki. Diri ini menghadap ke dinding putih gading, yang dihiasi foto wajah-wajah anak kecil tersenyum manis. Salah satunya, yang senyumnya paling alami, adalah gadis yang kucari, yang sekarang sudah menulis skripsi.
"Sebentar ... Oh iya. Apa Mbak Abrit nggak menunggu Mayu datang saja? Biasanya dia pulang sekitar jam 4 atau 5 sore."
"Ah, kalau boleh, kami sebaiknya tidak bertemu dulu."
Aku ... entah karena saking inginnya, justru tidak berani. Ada sesuatu yang menghalangi. Seolah, jika aku bertemu gadis itu, malapetaka akan besar terjadi.
Mbak Arum mengangguk-angguk, lalu jari telunjuknya terhenti di satu titik. "Ah, ini. Mayu datang ke sini pasnya 30 April 2014. Waktu itu, seingat saya malam hari. Dia diantar kakeknya, yang bernama Mbah Isrofil."
Mbah Isrofil? Ah, bukan nama bapakku. Bukan juga nama salah satu laki-laki di keluargaku. Jadi, kesamaan wajah kami seperti yang dikatakan Mbak Arum, cuma kebetulan belaka?
Kulihat lagi foto Mayu dewasa yang ditunjukkan Mbak Arum di ponselnya. Sama. Sama persis. Hanya, tentu saja aku lebih tua. Juga, letak tahi lalat kami yang berbeda. Dia ... di dagu kiri.
"Kalau nama ayah dan ibunya Mbak?"
Mbak Arum menerawang sejenak, memandangi langit-langit ruangan. "Mbah Isrofil nggak menyebut nama sih, Mbak. Katanya sih bapak ibunya meninggal karena kecelakaan. Oh iya, kami juga nggak bertanya lebih banyak sih, Mbak. Setelah mengantar Mayu, Mbah Isrofil juga nggak pernah ke sini lagi. Kami sih, sudah menganggap Mayu sebagai anak sendiri. Maklum, saya dan Pak Jaya juga ndhak punya anak.”
Kakeknya sendiri tidak pernah datang lagi? Rasanya ada sesuatu yang tidak biasa. Rasanya ... memang, setiap kali melihat foto Mayu, aku terikat oleh rasa rindu. Seakan-akan dia pernah ada di sisiku. Seolah, dia ini ... bagian dari hidupku.
“Aajaibnya, setelah Mayu datang, kami jadi banyak rezeki. Padahal, dulunya, semua serba susah. Saya pernah buka warung cukup lama, yang jadi tempat ngetem jalur 15. Tapi, waktu bus kota sudah mulai kukut, jadinya pindah ke sini, diminta mengelola panti ini. Ngomong-ngomong, ajaib juga sih, Mbak. Mayu beneran seperti copy-paste dari Mbak Abrit. Plek ketiplek. Makanya tadi suami saya dan Pak Rian sampai bengong melihat Mbak. Kami kira, kami menemukan saudara Mayu yang lama terpisah. Atau, setidaknya ada hubungan darah."