Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi

Fitra Firdaus Aden
Chapter #13

Mancis Terlezat Aroma Mint

 

"Hentikan! Cukup!"

Teriakan Mayu, yang diiringi air matanya, membuat serangan Mbah Nuklir terjeda. 

"Hentikan! Apa kamu belum cukup?! Kamu ambil semuanya, Pak Dulrohman, Pak Rian, ibuku, dan sekarang dia! Apa yang kau mau?!"

Mbah Nuklir, dengan napas terengah-engah, menyeka keringat, lantas memperbaiki letak capingnya. Dia memandangi Mayu, Pak Rian, dan Dombret satu demi satu. Dia tendang tubuh Ide yang sudah tidak bergerak, lantas menghentakkan tongkat besinya.

"Apa yang saya mau? Asu! Sudah jelas kehancurannya! Bajingan mulut ini nggak bisa berhenti misuh! Saya ingin dia menyerah sepenuhnya. Asu, masak begitu saja tidak paham?! Saya ingin dia jadi penabuh snare drum berikutnya dalam parade kematian ini!"

Mbah Nuklir menggerak-gerakkan tangannya, tapi tiada satu pun babi berkepala manusia yang mengikuti. Mbah Nuklir menghardik mereka, mengeluarkan pisuhan demi pisuhan, tapi mereka justru saling menoleh satu sama lain, tanda tidak mengerti.

"Asu! Ini semua salah Sampeyan! Jika saja kalian tidak bertemu hari itu, semuanya sudah beres."

Mata Mayu membeliak. Ia mundur setengah langkah. 

"Asu, asu, asu! Saya kutuk Sampeyan berdua! Saya habisi dia sekarang juga! Tidak cuma api jiwanya yang saya ambil, hidupnya saja sekalian!"

Mbah Nuklir hendak menyabetkan tongkat besinya ke arah tubuh Ide. Namun, tangan Mayu merentang, menghalangi. Mata mereka bertemu, dan Mbah Nuklir menukas. "Sampeyan mau apa, ha? Asu, Sampeyan mau apa, ha?!"

"Laki-laki itu ..." Mayu menahan napas sejenak. Matanya nyalang penuh benci. "Laki-laki itu mengorbankan dirinya agar saya dan istrinya hidup kembali, bukan?" Giginya gemeletuk tanpa henti. 

Mbah Nuklir menurunkan tongkat besinya, menyimak kalimat Mayu berikutnya, seolah sudah bisa menebak hendak ke mana arahnya.

"Jika. Saya ulangi, jika semua kembali seperti semula, tidak ada masalah lagi, bukan? Jika kita kembali ke tahun dia menabrakkan diri ke bus di halte Mangkubumi ini, tahun saya mati ... Anda bisa melakukannya, bukan?"

"Astaga. Asu sekali. Sampeyan meremehkan saya," Mbah Nuklir terkekeh.

Mayu menggelembungkan pipi, mengembuskan napas seolah itu penghabisan. "Kalau begitu, ulang semua dari awal. Saya mati, dan dia tidak perlu menabrakkan diri."

Mata Mbah Nuklir membulat. Senyumnya merekah, dan kedua tangannya merentang penuh suka cita. "Edan! Edan! Uedyaaan tenan! Sampeyan luar biasa! Sampeyan memang berhati mulia! Benar, Sampeyan benar. Saya ambil api jiwa Sampeyan, dan semua kerumitan ini berakhir. Saya bisa ngeses sepuasnya! Edan! Edan tenan!"

"Kalau begitu, lakukan. Saya sudah selesai. Sepanjang hidup, saya selalu bertanya kenapa ada ingatan masa kecil yang hilang begitu saja. Selama ini, saya tidak punya jawaban soal siapa ayah dan ibu yang sebenarnya. Tapi, hari ini semuanya sudah sempurna. Saya sudah melihat wajah ibu, dan saya sudah merasakan hangatnya hati ayah. Saya tidak bisa menolong ibu yang Anda lenyapkan. Jadi, saya tidak akan membiarkan ayah saya ini, betapapun janggalnya perasaan ini, mengalami hal yang sama."

"Perfecto! Sempurna! Sampeyan memang benar-benar anak Ide dan Abrit. Asu, ini benar-benar sangat asu sekali!" Mbah Nuklir tertawa terbahak-bahak, memejamkan mata sambil memegangi perutnya. "Mikhail bangsat itu boleh berusaha, tapi takdir memihak saya. Oh, betapa nikmatnya! Tuan Iblis memang Maha Kuasa dan tiada lawannya!"

Mbah Nuklir mendekati Mayu, mengulurkan tangan, "Asu, tangan saya gemetar saking bahagianya! Asu, inilah ganti tak lagi bisa memimpin parade kematian! Asu! Misuh sejuta kalipun tak masalah. Mancis! Mancis untuk rokok saya!"

Mbah Nuklir merogoh bagian bawah dada kiri Mayu, mencoba mengeluarkan sesuatu dari sana sembari memamerkan seringai yang lebih ngeri daripada sebelumnya.

"Uhu hu hu, mancis baru! Mancis baru hasil pemeraman dua belas tahun! Asu, asu, asu! Lebih lezat daripada punya Ide! Aroma mint?"

----o0O0o---

 

Lihat selengkapnya