"Wis menang Mas, wis rampung," Pak Rian menepuk bahu ini. Aku menoleh, tersenyum, dengan napas yang terputus-putus. Pak Dombret mengambil topinya yang yang tadi terjatuh, memasangnya secara terbalik, lalu terkekeh kecil. "Rampung tenan iki, Pak Rian. Bar iki aku wis ra arep misuh meneh. Arep sinau moco ayat kursi, ben nek iblis koyo ngene teko meneh, aku wis siap."
Mayu, yang berdiri dalam diam di sana, memandangku. Mata kami membasah. Lalu, kubuka tangan yang sudah semakin lemah ini, tersenyum. "Bolehkah?"
Dia mengangguk, dan menghambur ke pelukan rapuh ini. Sekarang aku paham semua perasaan ini. Perasaan janggal saat pertama bertemu, perasaan aneh setiap kali berjumpa. Mungkin juga dia merasakannya. Iya, aku tak pernah melihat perempuan secantik dia sebagai kekasih. Bukan karena apa-apa, tetapi karena dia anakku. Ah, Mayu ... kau tumbuh sebesar ini.
Dia menangis, dia terisak, dia memelukku erat seakan tidak mau melepaskan lagi.
"Ibumu ... yang menjadi pramugari Trans Jogja, dia sangat cantik bukan?" tanyaku dengan kata tertatih.
"Sangat cantik. Dia sangat cantik ..." jawab Mayu di sela tangisnya.
"Eh, Mas, kok tanganmu ..." Pak Rian mendekat. Pak Dombret juga.
"Eh?" Mayu menoleh ke arah yang sama. Jemari-jemari ini, mulai menghilang sebagai asap hitam. Terus merambat, menjalar ke siku, lalu lengan. Ah, ini saatnya.
"Menghilang?" Mayu menyeka air matanya lalu menatapku. "Eh, m ... Ayah? Kenapa?"
Aku tersenyum, mengangguk pada dia. "Memang harus begini kan? Saat Mbah Nuklir lenyap, aku juga akan binasa. Setelah ini kamu kembali ke duniamu di masa depan. Jalani hidup sebaik mungkin ya, Mayu? Seperti sebelum kamu bertemu aku. Pertahankan senyummu, apa pun yang terjadi."
"Ayah, tunggu! Ini ..." Mayu melepas pelukannya, melihat kakiku pun ikut menguap.