Malam itu, aku kembali ke depan Halte Ngabean, tempat Bus Trans Jogja yang dikendarai oleh Pak Rian mengalami kecelakaan hebat. Pak Jaya sudah menunggu di sana dengan motor Astrea 800-nya. Mbak Arum buru-buru memelukku, mengusap kedua pipi ini tanpa bicara apa-apa lagi.
Semuanya berjalan seperti mimpi. Mimpi yang membekas begitu dalam hingga membuat air mata mengalir tanpa henti. Aku bertemu ayah dan ibu, sesuatu yang bahkan lebih mustahil daripada mengetahui kiamat akan datang esok hari.
Sungguh, jika aku bercerita bahwa seharusnya pada Juli 2014 gadis kecil bernama Mayoansa Ruby sudah mati, lantas 12 tahun berselang orang yang sama ternyata baik-baik saja, siapa yang mau percaya? Tidak akan ada.
Jika aku mengisahkan, hidup kembali yang aneh ini lahir dari ayah dan ibu yang melewati waktu, melawan sosok bercaping bernama Mbah Nuklir, dan mengorbankan diri hingga jiwa mereka moksa, siapa yang tidak mengira ini kibulan tengah malam? Semua akan sepakat aku cuma berdusta. Tapi, kenyataannya demikian adanya.
Di balik langit malam yang hitam-tenang ini, ada senja yang mengakhiri nyawa mereka dengan semburat merah yang bahkan dalam hitungan detik setelahnya, tidak berjejak apa-apa lagi.
Entah mengapa, sejak kejadian itu, ada yang berubah dariku. Tangan ini jadi lebih terampil menggambar, entah tradi atau digi. Aku juga tidak mengerti. Kemampuanku sebelum ini tidak bisa disebut biasa-biasa saja juga sih. Tetapi, jika sebelumnya aku ini hanya hitam-putih saja, sekarang jadi penuh warna.
Sembari menunggu ujian skripsi, kucoba melamar sebagai ilustrator buku anak ke sebuah penerbit buku baru yang lokasinya dekat halte Trans Jogja bagian selatan Yogyakarta. Lalu, sore ini, aku diminta datang untuk wawancara. Jujur, cukup gugup juga. Walaupun pernah kerja sambilan di beberapa tempat, rasanya agak berbeda.
"Oooh, ke mana-mana naik bus, ya?" Bapak editor yang menerimaku, yang rambut ikal berubannya dibiarkan menggelombang panjang hingga bahu, mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku. "Tapi, tidak masalah kan, kalau pulang sekitar jam empat sore? Trans Jogja masih ada kan jam segitu?"
"Masih Pak," aku mengangguk, "lebih sore juga masih ada.".