Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi juga terbilang aesthetick. Dindingnya berwarna biru langit dengan lampu kuning hangat yang sengaja dibuat redup agar tidak terasa seperti di rumah sakit.
Ada rak buku berjejer rapi di sudut ruangan, beberapa tanaman hijau menghias di setiap sudut kaca jendela, dan aroma teh chamomile samar bercampur bau kertas baru menyegarkan indera penciuman siapapun yang merasakannya di sana. Jam dinding berdetak pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar jendela.
Seorang perempuan duduk di sofa abu-abu dengan tubuh sedikit membungkuk. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, jemarinya dingin.
Di hadapannya, seorang psikolog duduk tenang sambil memegang buku catatan tipis, namun ia lebih banyak mendengarkan daripada menulis.
Beberapa detik ruangan itu sunyi. Tak ada percakapan apapun di sana, bagaikan angin yang berhembus tipis namun terasa menusuk, itulah suasana yang sedang terjadi di ruangan kecil itu.
“Akhir-akhir ini tidur saya berantakan,” ucap suara klien itu dengan lirih.
“Kadang bisa tidur dua jam. Kadang malah seharian di kasur tapi tetap terasa capek.”
Psikolog itu mengangguk kecil. “Sejak kapan mulai terasa seperti itu?”
Perempuan itu menarik napas panjang, lalu tertawa kecil tanpa humor. “Saya juga gak tahu pasti, semuanya terasa berat. Saya gak punya energi lagi untuk beraktivitas apapun.”
“Ada kah masalah yang sedang kau alami hingga akhirnya membuat semua itu terasa berat?”
Perempuan itu terdiam. Hingga akhirnya, ia menghembuskan nafas kasar dan mulai menceritakan awal mula gejala itu bisa terjadi.
“Ada.” ia menjeda sebentar, “Semenjak saya di phk dan masih punya tanggungan cicilan, berbulan-bulan nganggur nyari kerja sana-sini tak membuahkan hasil, tabungan semakin tipis. Tiba-tiba ada ide untuk kerja serabutan demi bisa bayar cicilan tapi selama prosesnya tidak diperlakukan secara manusiawi, akhirnya saya out.”
“Dari situ saya belum menyerah, mencoba lagi cari peluang baru di tempat yang baru, lagi-lagi mengalami trauma yang sama bahkan parahnya saya rela gak digaji karena setoxic itu lingkungannya, sejak saat itu saya merasa Tuhan sedang menghukum saya dan semuanya jadi terasa berat.”
Ia terdiam cukup lama. Tatapannya kosong ke arah lantai, kedua kakinya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Bangun pagi berat. Makan berat. Ketemu orang berat.” suaranya mulai pecah.
“Bahkan buat jawab chat aja rasanya kayak harus ngangkat batu. Apakah saya sudah gila?”
Psikolog tidak langsung menyela. Ia membiarkan kesunyian itu tercipta, namun perlahan samar-samar suara isak tangis itu mulai terdengar.
“Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasa sedih?” tanyanya lembut.
“Bukan sedih…” perempuan itu menggeleng pelan. “Kalau sedih kan masih bisa nangis terus lega. Ini kosong.”
Ia tersenyum tipis, wajahnya sembab pun matanya sudah memerah. “Saya ngerasa kayak hidup cuma jalan… tapi saya gak benar-benar ada di dalamnya.”
Hujan di luar terdengar semakin deras.
Psikolog mencondongkan badan sedikit, suaranya tetap tenang.
“Apakah kamu kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya kamu suka?”
Perempuan itu langsung menjawab pelan, “Saya dulu suka nulis.”
Ia menatap jemarinya sendiri. “Sekarang buka laptop aja ngerasa takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut sadar kalau saya udah gak bisa jadi apa-apa lagi.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Psikolog menarik napas perlahan sebelum berkata,
“Terima kasih sudah jujur sejauh ini.”
Perempuan itu tertawa kecil, kali ini lebih getir.
“Jujur juga capek, Dok.”
“Capek karena?”
“Karena setiap kali cerita, orang cuma bilang saya kurang bersyukur. Kurang ibadah. Kurang liburan bahkan paling pedih ada yang bilang keimananku harus di pertanyakan.”
“Padahal saya cuma… lelah.” ucapnya sambil meneguk air putih sejenak yang sudah disiapkan di depan nya.
Psikolog mengangguk pelan. Ia tetap tenang dan profesional.
“Apa kamu pernah berpikir untuk menyakiti diri sendiri?”
Pertanyaan itu membuat perempuan tersebut diam lama sekali. Sampai akhirnya ia berbisik:
“Pernah.” Suaranya hampir tak terdengar.