Tuhan, Aku Pulang.

Rina Sakina
Chapter #2

#2 Membuang Rasa Kepemilikan

“Ran, di usiaku yang udah ¼ abad ini, gapapa kan aku berjuang lagi dari 0?” tanyaku pada sahabatku yang kini sedang menyeruput kopi manisnya.

Ia tersenyum lembut, lalu menjawabnya dengan tenang, “Zha, apa sih yang kita miliki di dunia ini? Harta? Jabatan? Kekuasaan? Apakah kita benar-benar punya hak untuk memiliki itu semua?”

Deg!

Pernyataan itu cukup menyentil egoku. Beberapa hari ini aku sempat galau karena harus melepaskan apa yang sudah ku perjuangkan 2 tahun ke belakang.

“Kamu boleh sedih, Zha. Gapapa, wajar! Toh kamu itu manusia bukan robot yang tak memiliki perasaan. Masalahnya, kamu udah benar-benar ikhlas belum membuang rasa kepemilikan itu?”

Air mataku tiba-tiba mengalir deras. Yap, tak bohong jika aku merasa marah dan kecewa dengan diriku sendiri. Tak mudah merelakan sesuatu yang sudah ku perjuangkan mati-matian.

Namun jika jiwaku sakit, hatiku lelah, dan ragaku memberontak tak sanggup lagi, haruskah aku kembali berjuang dan menuntaskan misi itu hingga selesai? Walau rasanya mati rasa sehancur-hancurnya.

“Aku capek, Ran. Aku lelah! Mungkinkah ini semua terjadi akibat aku melawan hukum Allah dan Rasul-Nya. Semua kejadian pahit yang kualami akhirnya berujung sia-sia. Dan temponya berakhir setahun lagi, tapi sungguh, aku sudah tidak sanggup menyelesaikannya. Aku tersiksa! Aku tak kuat! Hiks!”

Sahabatku terus menenangkanku, berkali-kali ia menepuk punggungku dan memintaku untuk minum jus jambu merah kesukaanku agar aku berhenti menangis, oh betapa leganya aku menumpahkan semua beban ini pada orang yang bisa ku percaya, ternyata tidak seburuk itu.

“Nuzha, sayang. I feel u! Tapi satu hal yang harus kamu tahu, usaha kamu selama ini gak sia-sia, kawan. Justru karena Allah sayang kamu, makanya sekarang Dia menyadarkanmu untuk berhenti dari penderitaan ini.”

“Anggaplah selama ini kamu sedang meminjam sesuatu dari-Nya. Toh, kita bernafas pun sejatinya sedang dipinjamkan nyawa oleh-Nya. Benar kan? Zha, ilmu agamamu lebih dalam dariku. Barangkali kamu sedang lupa, butuh motivasi lagi untuk bangkit, aku hanya ingin bilang, percayalah, semua makhluk yang ada di dunia ini sejatinya tidak ada yang benar-benar memiliki sesuatu pun, tak ada!”

“Dunia ini akan hancur, takkan ada lagi yang tersisa! Semua yang ada di alam semesta ini adalah milik-Nya dan kita semua akan kembali pada-Nya. Kita tak boleh terlalu lekat dengan dunia, makanya Tuhan sengaja menguji hamba-Nya karena dunia ini ibarat game yang suatu saat akan over!”

“Seberat-beratnya ujian umat manusia hari ini lebih berat ujiannya para kekasih-Nya padahall mereka sudah dijamin masuk Surga. Itu para Nabi/Sahabat terdahulu yang diclaim oleh Allah para manusia pilihan-Nya, sedangkan kita? Belum tentu masuk Surga, mengerjakan amalan ahli neraka gak ada takut-takutnya, parahnya diuji segini aja bilangnya Tuhan itu jahat? Sungguh ter ... la ... lu ...”

Aku menyela ceramah sahabatku yang memang jago sekali publik speaking bahkan dia pernah jadi juara dai di salah satu siaran tv terkenal, sedangkan aku? Alhamdulillah, meski tak sepandai ia dalam bervokal, tapi aku seorang penulis yang salah satu karyanya pernah diangkat ke layar lebar. Pertemanan kita setara kan? Hehe. Mari saling bertumbuh!

Lihat selengkapnya