TUHAN DI UJUNG LUKA

Herman Siem
Chapter #1

DALAM KESEDIHAN

"Jadikan Tuhan pilihan pertama, jangan jadikan Tuhan pilihan terakhirmu saat kamu sedang berada di ujung luka," suara itu akan selalu terngiyang dan terdengar seraya membisikkannya selalu dalam hatinya. Sejak tadi cowok berwajah tampan pandangannya hanya menatap perbukitan hijau berselimut kabut tipis.

Dua matanya kini terenyuh berkaca-kaca namun tak lantas ingin menjatuhkan rintik air mata. Bibirnya merona merah beratap kumis tipis terajak tersenyum sendu. Siang itu Natal, berdiri di balkon satu villa mewah miliknya yang berlokasi di sekitar puncak bogor.

Kaos oblong warna putih senada dengan kulitnya berwarna putih dengan mengenakan celana pendek warna biru. Tak terasa dingin dua kakinya walau banyak di tumbuhi bulu-bulu halus seraya memeluk ari kulit untuk mengusir rasa dingin hawa puncak.

Ia menoleh kesamping kanan balkon, tersenyum sendu tak kuasa untuk tidak menahan rintik tetesan air mata walau sejak tadi di tahannya.

Dua matanya jelas melihat sosok wanita setengah baya, senyumannya terpancar indah dengan sinar putih melatarbelakanginya dan wanita itu mengenakan pakaian dress panjang serba putih.

Wanita itu adalah Agnes, almarhumah ibunya yang baru berapa hari meninggal dunia karena sakit. Dua matanya semakin tak kuat menahan semakin bebas menjatuhkan tetesan air mata kesedihan, seraya ingin rasanya ia menukar nyawanya agar ibunya dapat hidup kembali.

"Andai Tuhan berkenan, aku mau menukar nyawa ini untuk ibu agar bisa kembali hidup," gumamnya dalam hati sembari dua kakinya mengajak mendekati.

Dua wajah saling menatap sendu, namun seraya terpisah demensi dan waktu karena sentuhan hangat telapak tangan seorang ibu tak bisa di rasakannya, hanya merasakan sentuhan kosong.

Namun jelas titik air mata jatuh membasahi wajah seorang ibu yang telah tiada, hatinya seraya juga tidak ikhlas meninggalkan anaknya yang begitu sangat di cintai dan di sayanginya.

"Natal, jangan terpuruk dalam kesedihan. Yang datang pasti akan pergi, sudah menjadi cacatan kehidupan manusia yang hidup. Datang dan pergi adalah hal yang mutlak dan tidak bisa di pungkiri. Jaga adikmu, dan ayah." tuturnya semakin pelan, seraya malaikat berdiri dibelakangnya mengajaknya untuk segera pergi.

Dua kakinya seraya terikat, dua matanya semakin tidak kuasa menahan cucuran air mata kesedihan, mulutnya ingin sekali memanggil kepergian ibunya agar segera kembali namun seraya terkunci.

Hanya tangannya saja begitu tegar melambaikan seraya mengucapkan perpisahan selamanya pada ibunya perlahan menghilang dari pandangan dua matanya.

"Tal! Natal!" dua kali pundaknya di tepuk kencang adiknya sempat bingung.

Pandangannya melongok kesamping perhatikan raut wajah kakaknya dua matanya semakin tak bergeming terpejam hanya berkaca-kaca.

Bram, adiknya rada gusar tapi sedikit bingung melihat tingkah kakaknya yang cuman bengong tidak tahu apa yang dilihatnya. Padahal cuman sepasang kursi dan meja saja, tidak ada yang aneh.

"Natal!" saking gusarnya, mulutnya di dekatkan pada liang kuping kanan kakaknya berbalik terkejut.

Lihat selengkapnya