Malam masih terasa panjang belum ingin mengusir mimpi bagi setiap penikmat tidur sesaat. Terasa sunyi berselimut keheningan malam, cahaya lampu tak terlalu terang tamaran menerangi kamar berukuran kecil. Sejak tadi ia masih terjaga dari tidur, hati dan pikirannya masih terkulik kecemasan dan rasa gelisah.
Telapak tangannya selalu menyentuh kening anaknya, jika di rasakan demam masih tinggi. Sontak hatinya kian cemas dan beranjak bangun turun dari ranjang dan segera bergegas berjalan kedapur mengambil baskom berisi air dingin. Sementera di luar sejak tadi rintik hujan tidak beranjak pergi, suaranya rintiknya selalu mengetuk suara pada atap genteng.
Malam itu Sarmila hanya seorang diri, padahal sejak tadi hatinya semakin terkulik cemas dan gelisah dengan keadaan anak bungsunya yang sedang demam tinggi.
"Bletarr!" suara kilat menyambar terdengar dari dalam kamar.
Terkejut seorang janda yang sudah lama di tinggal pergi suaminya, ia selalu mengenakan hijab dan pakaiannya selalu tertutup. Dua tangannya memeras handuk kecil dan meniriskan air pada wadah baskom, lalu handuk kecil di lipat menjadi kecil di tempelkan pada kening anaknya, masih larut dalam mimpinya.
"Bletarr!" suara kilat terdengar lagi.
Terkejut lagi, lalu ia beranjak bangun meninggalkan kursi kayu dan dua tangannya mendorong daun jendela. Jelas di luar masih terdengar suara rintik hujan membasahi alam di sertai suara kilatan petir terlihat di kejauhan. Pandangannya tergurat cemas sejenak ia menoleh kesamping, anaknya masih terlelap tidur terbaring di ranjang.
"Bu," suara anaknya terdengar sudah terjaga.
Cepat dua tangan Sarmila menarik dan menutup dua daun jendela, sekali jari tangannya menarik grendel menutupnya. Lalu menghampiri dan terduduk menyamping, dua matanya tereyuh sedih jelas dua bola matanya melihat wajah anak bungsunya sudah siuman.
"Masih hujan bu, di luar?" tanya anaknya tersenyum sendu, di jawab dengan sekali anggukan ibunya.
"Ibu khawatir sama kamu, Rip. Sudah hampir sejaman, kamu demam. Demamnya tinggi," ujar ibunya sembari telapak tangan kirinya mendarat di kening anaknya, memastikan demamnya sudah turun atau masih tinggi.
"Maaf ya bu, gara-gara aku demam ibu jadi khawatir. Lagian Kak Fitri, nggak jemputku. Jadi aku terpaksa pulang sendirian, terus kehujanan deh," sahut anak bungsunya, raut wajahnya terenyuh sedih merasa bersalah pada ibunya malahan tersenyum seraya tidak menyalahkannya.
"Bu, Kak Fitri kenapa sekarang-sekarang ini pulangnya malam, ya?" tanya Arip pada ibunya sontak dua matanya tidak kuasa menahan tetesan air mata.
"Bu, jangan sedih gitu dong," dua tangan Arip memeluk wajah seraya menyeka air mata ibunya tersenyum sendu.
"Ibu juga nggak tahu. Kakakmu nggak biasanya selalu pulang malam sekarang-sekarang ini," sahut ibunya beranjak bangun, setengah membungkuk menarik selimut sampai di bawah dagu anaknya. Selimut sudah menyelimuti anaknya agar terbebas dan mengusir rasa dingin karena hujan.