"Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengetahui keadaan batinku saat ini. Mohon tenangkanlah hatiku, redakan kegelisahanku, dan tanamkanlah damai-Mu yang sejati di dalam jiwaku. Buanglah segala ketakutan, kekhawatiran, dan pikiran negatif yang membebani. Ajarlah aku untuk selalu berserah dan percaya bahwa Engkau senantiasa menyertaiku. Amin."
Masih terduduk selesai berdoa, pandangannya tak bergeming menatap patung kecil Bunda Maria dan menatap patung salib sering disebut {krusifiks} yang menampilkan tubuh Yesus Kristus {korpus}. Simbol ini merupakan pengingat visual akan pengorbanan dan penderitaan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia.
Tidak hanya hidup sederhana walau bergemilangan harta, namun Natal begitu rajin berdoa. Masih tidak ingin baringkan tubuhnya di ranjang berkasur empuk, pandangannya mengajak menoleh pada frame foto keluarganya persis sama frame foto yang ada di villa miliknya.
Hatinya selalu berbisik rasa rindu dan kangen pada almarhumah ibunya yang telah tiada, tujuh hari telah berlalu dengan kepergian ibunya masih meninggalkan jejak kesedihan yang sungguh terasa sulit di tanggalkan. Dalam setiap doanya selalu menguatkan, ia ingin selalu tegar bisa melalui rintangan hidup yang sungguh sulit di terkanya.
Walau ia merasa tegar dengan segala doa yang selalu menguatkan hatinya, tetap saja Natal selalu terjatuh dalam kesedihan yang semakin membuatnya ingin bertemu dengan almarhumah ibunya. Sejak ibunya tiada, pekerjaannya saja sampai terbengkalai dan nyaris satu minggu absen.
Padahal teman dan sabahat dekatnya sering menghubunginya, namun seraya di gubrisnya. Natal seperti semakin terjatuh dalam kesedihan, seraya ia tak terima dengan kepergian ibunya. Walau tempat kerjanya adalah perusahaan milik ayahnya, ia tetap bertanggung jawab.
"Kring. Kring," suara dering ponsel terdengar bergetar di nakas.
"Hallo?" di jawab Natal, rasanya malas menjawab sambungan telpon dari sahabat kantor tempatnya bekerja.
"Loe kapan masuk, Tal. Ya nggak gitu juga kali, Natal. Jangan mentang-mentang perusahaan ini punya bapak loe, tapi loe seenaknya aja nggak masuk," suaranya terdengar dari lobang kecil speaker ponsel.
"Iya, besok gua masuk." singkat jawabnya, sembari jempol kirinya mengklik tanda telpon warna merah.
Ponsel di letakan di ranjang, lalu ia kini sudah terbaring tidur. Benaknya semakin terkulik rasa rindu dan kangen dengan almarhumah ibunya. Dua matanya di paksa untuk terpejam, tapi tidak bisa. Walau dua matanya sudah merah, padahal rasa kantuk sejak tadi mengajaknya untuk pejamkan dua matanya.
Lalu ia kembali terduduk, sempat sekali lagi menoleh menatap patung kecil Bunda Maria dan patung Yesus Kristus pada meja altar kecil. Ia sekali menghela napas, seperti ada sesuatu beban yang di sedang di pikirkannya. Walau tadi ia sudah berdoa, padahal doa itu yang selalu menguatkannya. Namun kali ini sepertinya Natal seperti sedang gelisah dan resah, seperti ada beban berat yang sedang ia pikirkan.