"Masa cicilan saya yang tiap malam saya bayar, nggak ngeluasin hutang bapak saya?!" bentak seraya menuding seseorang lelaki bertubuh kekar hanya tersenyum di sertai suara hingar bingar musik cafe.
"Masa saya harus jual diri sama tamu-tamu loe?!" lagi bentaknya gadis berhijab hitam, dengan mengenakan setelan kemeja dan celana panjang semakin meradang marah sambil cepat masukan ponsel kedalam saku cekananya.
Gadis itu bernama Fitri, ia bekerja di cafe milik Rian, pemilik yang jarang datang. Fitri harus melunasi hutang almarhum ayahnya pada pemilik cafe, padahal ia sudah mencicil setiap malam, namun hutangnya masih tidak lunas-lunas. Malam itu lelaki bertubuh kekar, satu dari sekian banyak bodyguard yang mana memang sengaja untuk memantau semua pekerja.
Rasanya hampir setiap malam terasa panjang yang di rasakan Fitri, sampai ia sering tidak menjemput adiknya pulang sekolah lagi. Karena ia harus datang lebih awal di cafe mengerjakan tugasnya sebagai cleaning service. Tak jarang tangan -tangan tamu yang tidak sopan sengaja merayu dan menyentuh bagian tubuhnya.
"Mau apa loe?!" di hentakannya tangan lelaki bertubuh kekar saat tangannya ingin menyentuh pipinya.
"Prang!" ujung botol di benturkan pada meja.
"Loe pikir, gua kerja di sini loe bisa samain gua sama perek-perek di cafe ini?! Loe minggir atau loe mati?!" mungkin sudah habis kesabarannya, Fitri mengarahkan dan mengancam lelaki bertubuh kekar dengan ujung botol yang tajam.
"Taik loe! Gua pikir gua takut sama loe!" __ "Prang!" di tangkisnya botol terjatuh pecah kelantai.
Dagu Fitri di cengkeram oleh jemari kuat tangan kanan lelaki bertubuh kekar. Tidak berdaya, hanya merontah dan sekali-kali dua tangannya berusaha mendorong kepala lelaki bertubuh kekar malahan ingin menciumnya.
"Loe yang taik! Rasain loe!" __ "Anjing! Sakit tahu kantong menyan gua loe tendang!" sikut kaki kanannya menendang bagian vital milik lelaki bertubuh kekar menahan kesakitan sembari nungging-nungging.
"Nih, loe rasain!" masih kurang puas Fitri kembali mendorong lelaki bertubuh kekar jatuh tersungkur, kepalanya masuk kedalam tong sampah.
"Jangan lari loe!" gusar tong sampah dilemparnya, lelaki bertubuh kekar mengejar gadis yang sehari-harinya bekerja sebagai cleaning service sudah tidak terlihat lagi, sudah berlari menjauh kekuar dari ruangan.
Suara musik terdengar hingar-bingar di sertai aneka warna lampu kaca bulat besar menyinari wajah-wajah setiap pengunjung yang sedang berdisko. Setiap tegukan minuman, pasti membuatnya kehilangan kesadaran sesaat hanya khayalan kenikmatan yang mengajaknya lari dari dunia yang tidak pasti.
Dari setiap sudut, terduduk aneka wajah gadis malam melayani tamu lelaki pencari kenikmatan sesaat. Lelaki itu seraya telah di rasuki oleh bisikan dan rayuan gadis-gadis berpakaian seksi dengan polesan makeup yang tentunya akan menjerat lelaki akan jatuh dalam pelukannya.